Masih di hari yang sama dengan chapter sebelumnya.
Aku terbangun tiba-tiba dari tidurku. Setelah pelajaran meramal tadi, aku menjalani hariku seperti biasa—mengikuti kelas, makan malam bersama the Golden Trio, dan akhirnya beristirahat. Tapi malam ini terasa berbeda. Ada sesuatu dari ramalan Profesor Trelawney yang terus menghantuiku.
Aku menggeliat gelisah di tempat tidur, memandang langit-langit kamar yang redup diterangi lilin kecil. Pikiran itu terus berputar. 'Kejadian itu akan terulang kembali.' Apa maksudnya? Aku menghela napas berat, menyadari bahwa tidur nyenyak malam ini hanyalah angan. Akhirnya, aku memutuskan untuk keluar mencari udara segar.
Malam di Hogwarts selalu punya daya tarik tersendiri. Aku berjalan tanpa tujuan yang pasti, sampai akhirnya kakiku membawaku ke jembatan kayu yang pernah kutemukan bersama Harry beberapa waktu lalu. Jembatan itu memiliki pemandangan yang menenangkan, dengan angin dingin malam dan langit berbintang yang luas.
Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Tepatnya, seseorang.
Aku berhenti sejenak, melihat sosok Draco berdiri di ujung jembatan. Tongkatnya digerakkan dengan luwes, menciptakan pola-pola bercahaya di udara. Ada sesuatu yang hampir... polos darinya malam itu. Tidak ada sikap dingin atau wajah arogan seperti biasanya. Dia tampak seperti anak lelaki biasa, tenggelam dalam dunianya sendiri.
Tanpa sadar, aku tersenyum kecil. Melihat Draco seperti ini adalah hal yang jarang, dan entah kenapa terasa... menyenangkan. Aku bersembunyi di balik tiang sebentar, menimbang apakah harus menghampirinya. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk mendekat.
"Draco?" aku memanggilnya pelan sambil melangkah mendekat.
Dia terkejut, jelas tidak mendugaku muncul tiba-tiba. Wajahnya yang semula santai seketika berubah menjadi ekspresi khas Draco—sedikit sombong dan penuh kepercayaan diri.
"(Name)? Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan nada menyebalkan.
"Aku hanya ingin mencari udara segar karena tidak bisa tidur. Kalau kau?" balasku sambil berdiri tak jauh darinya.
Draco mendengus kecil, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Aku juga sama. Tapi tidak seaneh kau yang berkeliaran malam-malam di jembatan ini hanya dengan baju tidur." Ucapannya disertai tawa kecil yang jelas mengejek.
Aku mendengus kesal. "Huh, kalau begitu aku pergi saja," kataku sambil berbalik, tapi sebelum sempat melangkah, Draco menarik pergelangan tanganku.
"Ah, maaf. Temanilah aku di sini sebentar, (Name)," pintanya dengan nada yang lebih lembut. Tatapannya sesaat menghilangkan rasa kesalku.
Aku menatapnya, sedikit terkejut, tapi akhirnya mengangguk. "Baiklah," jawabku, lalu mengambil tempat duduk di sebelahnya. Kami duduk dalam keheningan sesaat, membiarkan dinginnya malam menyelimuti.
"Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?" tanyaku, mencoba mencairkan suasana.
Draco melirikku sekilas. "Seharusnya aku yang bertanya begitu. Bagaimana kau tahu tempat ini?" balasnya.
Aku memutar mata, merasa percakapan ini tidak akan berjalan mulus. "Harry yang menunjukkannya padaku," jawabku jujur. Tapi aku melihat wajah Draco berubah. Dia mencengkeram tongkatnya lebih erat, rahangnya mengeras.
"Apa kau berpacaran dengan Potter?" tanyanya dengan nada tajam.
Aku menatapnya dengan alis terangkat, hampir tertawa. "Tidak. Kami hanya sahabat," kataku tegas.
Draco tampak sedikit lega. Aku pun memutuskan untuk mengganti topik. "Ngomong-ngomong, tadi aku melihatmu menggambar sesuatu dengan tongkatmu. Apa itu?" tanyaku penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
I (don't) HATE YOU | Draco x Reader
FanfictionBercerita tentang seorang gadis yang dibully oleh Draco Lucius Malfoy yang berakhir dengan saling mencintai. Mereka pikir ini hanyalah kisah cinta biasa. Namun mereka tak tau, ada takdir yang jauh lebih besar sedang menanti mereka. ~~~ "Please, don'...
