Aku berlari keluar dari gedung Yule Ball tanpa tujuan, membiarkan kakiku membawa tubuhku yang lunglai. Udara malam yang dingin menyapu wajahku, tapi tidak cukup untuk meredakan gejolak perasaan di dalam diriku. Sedih, marah, kecewa—semuanya bercampur menjadi satu, membuatku hampir kehilangan napas. Langkahku terhenti ketika tangan Draco berhasil menggenggam lenganku, memaksaku berbalik menatapnya.
"(Name), maafkan aku. Aku sudah keterlaluan," ucapnya dengan suara yang terdengar tulus, meskipun nafasnya sedikit tersengal setelah mengejarku.
Aku menatapnya tajam, air mata masih membasahi pipiku. "Kau sudah benar-benar keterlaluan, Draco! Apa kau sebegitu tidak percayanya denganku?" suaraku pecah di tengah-tengah tangisan.
Wajahnya menunjukkan penyesalan, tapi hanya untuk sesaat. "Maafkan aku telah mengatakan itu. Saat itu aku benar-benar terbawa emosi," ucapnya, mencoba menjelaskan. "Lagipula, itu bukan sepenuhnya salahku. Itu semua tidak akan terjadi bila kau tidak berdansa dengan Harry dan mendengarkan kata-kataku dengan baik." lanjutnya, suaranya kembali terdengar menyalahkan.
Aku memandangnya tak percaya, merasakan amarah yang kembali membuncah dalam diriku. "Apa? Apa kau sudah gila? Sekarang kau malah menyalahkanku? Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar saat ini," air mata mengalir semakin deras. Sikap egoisnya yang selalu menyalahkan orang lain membuatku muak.
"Itu benar, bukan?" balasnya. "Aku memiliki hak untuk melarangmu dekat dengan laki-laki lain karena aku adalah pacarmu!" Suaranya meninggi, dan matanya yang biasanya memancarkan kehangatan kini penuh dengan amarah.
Aku menatapnya tajam, tidak mau menyerah pada ego tingginya. "Aku dan Harry hanya teman, Draco! Sudah biasa teman berdansa satu sama lain. Cemburu seperti ini sangat tidak masuk akal!" Aku mencoba melepaskan genggamannya, tetapi dia semakin mengeratkan pegangannya di pergelangan tanganku, membuatku meringis kesakitan.
"Ah, maaf..." Dia terlihat sedikit tersadar dan melonggarkan pegangannya.
Aku menarik napas dalam, mencoba mengendalikan emosi yang hampir meledak. "Mereka benar... Aku tidak seharusnya mencintaimu," ucapku dengan suara bergetar. "Sifatmu begitu manipulatif, pengontrol, dan egois! Kau mencoba mengontrol semua orang di sekitarmu, dan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginanmu, kau melimpahkan kesalahan pada orang lain. Kau benar-benar penuh akan dirimu sendiri, Draco. Apa kau bahkan memikirkan bagaimana perasaanku?"
Suaraku mengecil di akhir kalimatku, tapi kata-kataku sepertinya berhasil menghentikan Draco di tempat. Dia terdiam, terlihat bingung dengan apa yang baru saja kukatakan.
"A-apa maksudmu? Aku benar-benar tidak bermaksud..." ucapnya dengan suara yang terdengar lemah, tapi aku tidak lagi ingin mendengarnya.
Plak!
Tanganku bergerak dengan sendirinya, mendarat di pipinya dengan cukup keras hingga meninggalkan bekas kemerahan. Wajah Draco membeku, matanya membelalak seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, aku berlari meninggalkannya di tempat. Aku tahu aku harus menjauh untuk menenangkan diri, sebelum emosiku semakin menguasai. Di belakangku, Draco masih berdiri mematung, tampak tenggelam dalam kebingungannya sendiri.
.
.
.
"Draco!" Suara seseorang memecah keheningan malam, memanggil dengan nada cemas dan terburu-buru.
Draco menoleh, dan tampak Harry, Hermione, dan Ron berlari ke arahnya. Wajah mereka penuh dengan kekhawatiran, dan napas mereka tersengal.
KAMU SEDANG MEMBACA
I (don't) HATE YOU | Draco x Reader
Fiksi PenggemarBercerita tentang seorang gadis yang dibully oleh Draco Lucius Malfoy yang berakhir dengan saling mencintai. Mereka pikir ini hanyalah kisah cinta biasa. Namun mereka tak tau, ada takdir yang jauh lebih besar sedang menanti mereka. ~~~ "Please, don'...
