Bercerita tentang seorang gadis yang dibully oleh Draco Lucius Malfoy yang berakhir dengan saling mencintai. Mereka pikir ini hanyalah kisah cinta biasa. Namun mereka tak tau, ada takdir yang jauh lebih besar sedang menanti mereka.
~~~
"Please, don'...
Berhari-hari berlalu, dan aku semakin merasa terisolasi. Setiap hari aku hanya berdiam diri di kamar, menghindari Draco Malfoy dan orang-orang yang bisa membuatku semakin merasa tidak diinginkan. Aku sudah cukup dengan perlakuannya. Ketika tidak ada kelas, aku memilih untuk tinggal di dalam kamar, terkadang hanya keluar saat malam hari, ketika semua orang sudah tidur. Itu satu-satunya waktu di mana aku merasa sedikit bebas dari tatapan dan ejekan yang terus menghantuiku sepanjang hari.
Siang harinya, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Harry, Hermione, dan Ron. Mereka adalah satu-satunya teman yang kumiliki di Hogwarts. Bersama mereka, aku merasa sedikit lebih diterima. Aku hanya menemui Draco di waktu-waktu tertentu, seperti saat makan atau di pelajaran yang tak bisa kuhindari.
Saat pelajaran Pemeliharaan Hewan Gaib, seperti yang terjadi saat ini, aku merasa cemas. Draco selalu menemukan cara untuk mengganggu, dan kali ini tidak terkecuali.
"Potter, apa kau tahu bahwa kau telah menurunkan derajatmu dengan berteman dengan penghianat ini?" Draco berkata dengan nada mengejek, suaranya penuh dengan kebencian.
"Shut up, Malfoy," Harry membalas dengan tatapan tajam, tidak terima aku dihina seperti itu. Aku bisa melihat matanya berapi-api, tetapi aku tahu jika ini berlarut-larut, bisa berujung pada pertengkaran yang lebih besar.
"Wow... apa yang akan kau lakukan, Potter?" Draco berjalan mendekat, tidak tampak takut sedikit pun. Dia tahu persis bagaimana cara untuk membuat suasana semakin tegang. Senyumnya itu, senyum yang selalu penuh dengan ejekan, hanya membuat darahku mendidih.
"Ayo Harry, abaikan saja dia," kataku pelan, mencoba menahan Harry agar tidak ikut terpancing. Aku menggenggam tangan Harry, berharap dia tidak melawan provokasi Draco.
Namun, Draco tidak berhenti di situ. "Lihat ini... Kau bahkan mendapatkan pacar, Potter?" dia mengejek kami berdua dengan cara yang sangat merendahkan. Aku bisa merasakan amarahku mulai membuncah. Aku benar-benar ingin menghajarnya sekarang juga, memukul wajahnya hingga dia berhenti tersenyum angkuh.
Beruntung, sebelum aku bisa melakukan apa pun, Hagrid datang menginterupsi dengan suaranya yang berat dan otoriter. "Apa yang sedang terjadi di sini? Ada masalah?" Dia menatap kami semua dengan curiga, dan untuk sesaat, suasana tegang itu pecah begitu saja. Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. . . .
"Baiklah class, sapalah Buckbeak"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ini adalah Hippogriff. Hal pertama yang harus kalian tahu tentang Hippogriff adalah mereka makhluk yang sangat sombong. Kalian harus menunduk sebagai salam jika ingin berteman dengan mereka. Dan ingat, jangan sekali-kali menghina makhluk ini, karena itu bisa menjadi hal terakhir yang kalian lakukan," ujar Hagrid dengan suara berat dan penuh wibawa, mengingatkan kami semua untuk berhati-hati.
Aku menatap makhluk besar berbulu perak itu dengan kagum. Hippogriff tampak anggun dengan tatapan tajamnya, seolah menilai siapa yang layak mendekat dan siapa yang tidak.