Quidditch Game

4.4K 504 68
                                        

"Dan mereka semua mati, kecuali kau, ibumu, dan Bellatrix yang saat ini berada di Azkaban," Draco mengakhiri ceritanya dengan nada datar, tetapi sorot matanya menyoroti kepedihan yang dalam. Kata-katanya menghantamku seperti batu besar. Betapa bencinya mereka pada Muggle hingga semua itu terjadi. 

"Tapi... kenapa Bellatrix ada di Azkaban?" tanyaku, mencoba mengusir rasa sesak di dada dengan mencari penjelasan. 

"Karena membunuh. Setelah kejadian itu, dia menjadi seseorang yang suka membunuh tanpa alasan yang jelas," jawabnya tanpa ragu.

"Jadi... ayahku benar-benar mati karenaku, ya?" suaraku terdengar lebih lirih dari yang aku kira. Aku menunduk, mencoba menahan tangis yang mulai menggenang di mataku. Pikiran itu terus menghantuiku—bagaimana jika aku tidak ada di dalam rahim ibu saat itu? Ayah pasti lebih mudah melepaskan ibu. Mungkin dia masih hidup sampai sekarang. 

"Jangan menangis." Suara Draco terdengar lembut, nyaris berbeda dari biasanya. Dia menangkup pipiku dengan kedua tangannya, memaksaku menatapnya."Maafkan aku karena pernah mengatakan hal itu. Aku pasti sudah gila," lanjutnya, suaranya penuh penyesalan. 

Aku mencoba tersenyum, meskipun itu terasa kaku. "Aku hanya sedikit sedih," kataku, meski suara tangisku masih terselip di sana. 

Tanpa peringatan, dia menarikku ke dalam pelukannya. Aku terkejut, tetapi tidak menolak. Tubuhku tenggelam di dadanya yang hangat.

"Ini bukan salahmu. Tidak apa-apa," bisiknya, suaranya rendah dan lembut. Tangannya mengelus rambutku, seperti mencoba menghapus semua kesedihan yang ada. Kata-kata penenangnya perlahan membuat rasa berat di dadaku sedikit berkurang. Aku balas memeluknya, enggan melepaskan kenyamanan yang kurasakan. Detak jantungnya seperti alunan melodi yang indah di telingaku. 

Deg... deg... deg...

Huh, perasaan ini lagi. Aku merasakannya setiap kali berada di dekat Draco. Debar aneh yang selalu membuatku bingung. 

Aku memutuskan untuk melepaskan pelukannya, merasa situasi ini semakin canggung. Dia tersenyum padaku. Dengan lembut, dia menghapus sisa air mata di pipiku, membuat rona merah muncul di wajahku. 

"Sudahlah, berhenti menangis. Kau terlihat semakin jelek," katanya, diakhiri dengan tawa kecil yang menyebalkan. Tentu saja dia masih sempat mengejekku. Dasar blonde menyebalkan! 

Aku mendengus pelan. "Mmm... aku ingin bertanya sesuatu. Kalau memang keluarga kalian sangat membenci orang yang bukan keturunan darah murni... lalu kenapa kau menyukaiku?" tanyaku, rasa ingin tahuku mengalahkan rasa canggung. 

Draco menatapku sesaat, lalu tersenyum tipis. "Memangnya siapa yang peduli dengan tradisi bodoh itu? Dan kau tahu? Ayah dan ibuku tidak terlalu peduli, selama aku bahagia," jawabnya ringan.

"Apa benar..." gumamku pelan. Mungkin keluarga Malfoy memang berbeda dari yang lainnya. Entahlah, pikiranku masih terlalu kacau untuk memastikannya. 

"Sebagai ganti jasaku ini, kau harus menonton pertandingan Quidditch besok lusa dan mendukungku, karena aku akan menjadi Seeker pada pertandingan itu," katanya dengan senyum manis, matanya menunggu jawaban dariku. 

Aku tersenyum kecil. "Tentu saja, Draco. Lagipula aku memang berniat mendukung Slytherin,"

~🌸~


Hari ini, pertandingan Quidditch yang paling dinantikan akhirnya tiba—Gryffindor melawan Slytherin. Aku sekarang berada di belakang panggung, menemani Harry yang sedang bersiap-siap dengan seragam merah khas Gryffindor. Wajahnya terlihat serius, penuh fokus.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Dari arah yang tak kutahu, Draco tiba-tiba muncul dengan senyum sinis di wajahnya. 

"Bersiap untuk kalah, Potter," katanya dengan nada mengejek, menatap Harry penuh tantangan. 

I (don't) HATE YOU | Draco x ReaderCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang