Sudah seminggu ini aku sibuk mengurus Draco, entah bagaimana aku bisa terjebak dalam rutinitas seperti ini. Mulai dari menyuapinya makan, membantu dia belajar, sampai memastikan dia meminum obatnya tepat waktu—semua itu menjadi tugasku. Anehnya, aku tetap saja menuruti permintaannya meskipun sering kali merasa ini terlalu berlebihan.
"Suapi aku," ucapnya dengan nada malas, sambil membuka mulut lebar-lebar seperti anak kecil yang manja.
Aku mendesah, mengangkat sendok dengan enggan. Namun sebelum aku sempat melakukannya, suara familiar tiba-tiba terdengar.
"Sini biar aku yang suapi. Aaaa," ucap Harry sambil tiba-tiba duduk di samping Draco. Tanpa menunggu persetujuan, dia menyodokkan makanan ke dalam mulut Draco dengan kasar.
"Uhuk, uhuk... Cuih! Aku tidak mau makanan darimu!" Draco terbatuk dan memuntahkan makanan itu. Matanya melotot ke arah Harry. "Menjauh dariku, Potter sialan!"
Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya tertawa terpingkal-pingkal. Kedua bocah ini benar-benar seperti kucing dan anjing.
Harry, yang terlihat sedikit puas dengan reaksi Draco, menatapnya tajam. "Kau tidak sakit, bukan? Kau hanya berpura-pura agar bisa selalu bersama (Name)," tuduhnya tajam.
"Berhenti menuduhku yang tidak-tidak, Potter!" Draco membalas dengan nada defensif. "Diam, atau aku Avada Kedavra seluruh keluargamu...!" Draco tiba-tiba berhenti, wajahnya berubah sinis, dan dia menambahkan dengan tawa mengejek, "Oh iya, aku lupa. Kau kan tidak punya keluarga. Hahaha..."
Aku membeku, sama seperti Harry, yang langsung berubah merah padam.
"Bajingan kau, Malfoy!" Harry tiba-tiba melayangkan pukulan keras ke wajah Draco, membuatnya terjatuh dari kursi. Draco membalas pukulan itu tanpa ragu, dan perkelahian pun pecah begitu cepat hingga aku nyaris tidak punya waktu untuk berpikir.
"Hei, berhenti kalian!" Aku berteriak panik, berusaha menarik Harry menjauh dari Draco, sementara beberapa orang di sekitar mencoba memisahkan mereka.
Namun, aku mendadak tertegun saat melihat Draco membalas pukulan Harry dengan tangan yang sebelumnya ia klaim tidak bisa digunakan. Mataku melebar. Tunggu... tangannya? Jadi dia berbohong selama ini?!!
Amarahku memuncak. Alih-alih memisahkan mereka, aku justru mendekati Draco dan memukul lengannya dengan kesal.
"Dasar pembohong! Kau bikin aku repot selama ini!" seruku sambil menatapnya dengan tajam. Aku tidak peduli tatapan bingung dari Harry maupun Draco—aku hanya merasa muak dengan kebohongan konyolnya.
Draco menatapku sambil mengaduh pelan, tetapi aku tidak peduli. Kali ini, dia memang pantas mendapatkan pukulan.
~🌸~
"Akh, pelan-pelan! Ini sakit!" keluh Draco sambil mengernyit. Lagi-lagi kami berada di ruang kesehatan—situasi yang terasa seperti deja vu.
"Ini akibat ulahmu sendiri, Draco. Kau menyulut emosi Harry, dan sekarang lihat apa yang kau dapatkan," jawabku kesal sambil membersihkan lukanya.
"Kau juga memukulku tadi, bukan membantu! Kau ini benar-benar jahat. Tunggu sampai ayahku mendengar tentang ini! Akan kupastikan Harry dikeluarkan dari sekolah," seru Draco penuh amarah.
Aku mendesah berat, menatapnya tajam. "Jangan coba-coba, Draco. Semua ini salahmu sendiri! Kau juga berbohong padaku soal tanganmu yang sakit."
"Aku hanya ingin kau merawatku, (Name). Bukan bermaksud apapun," elaknya sambil menghindari tatapanku.
"Berbohong tentang kondisi tanganmu itu bukan maksud apapun? Serius, Draco?"
KAMU SEDANG MEMBACA
I (don't) HATE YOU | Draco x Reader
FanfictionBercerita tentang seorang gadis yang dibully oleh Draco Lucius Malfoy yang berakhir dengan saling mencintai. Mereka pikir ini hanyalah kisah cinta biasa. Namun mereka tak tau, ada takdir yang jauh lebih besar sedang menanti mereka. ~~~ "Please, don'...
