Skip bagian nganu
"Selamat pagi, Sayang." Suara serak khas Draco yang baru bangun tidur menggema lembut di telingaku, membangunkanku dari tidur pulas. Mata biru tajamnya menatapku penuh kehangatan, dan aku sadar kami masih berbaring di tempat tidur, tubuh kami hanya ditutupi oleh selimut tanpa memakai apapun.
Wajahku memanas seketika, rona merah menjalar ke pipiku saat ingatan akan kejadian semalam kembali membanjiri pikiranku. Bagaimana dia memperlakukanku dengan begitu lembut, sentuhan-sentuhannya yang menggairahkan, dan tatapan penuh cinta yang terus terbayang, seolah terukir jelas dalam ingatanku.
"Selamat pagi juga, Draco," ucapku pelan, mencoba menutupi rasa gugup yang kembali muncul.
Aku menggerakkan tubuhku sedikit, bermaksud bangun dan keluar dari selimut, namun rasa nyeri seketika menyebar ke seluruh tubuhku, memaksaku meringis kecil.
"Ugh... badanku sakit," keluhku sambil merengek kecil. Melihatku kesulitan, Draco dengan sigap bergerak, berniat membantu. Namun, aku buru-buru menolak dengan gelengan kepala kecil. Meski aku tahu dia hanya ingin menolong, tetap saja aku merasa malu. Aku tidak siap jika harus berdiri di depannya dalam keadaan seperti ini.
"Apa kau baik-baik saja tanpa bantuanku?" tanyanya, nada suaranya penuh kekhawatiran.
"Yah, aku tidak apa-apa. Bisakah kau keluar sebentar? Aku ingin mandi dan bersiap-siap," pintaku dengan suara pelan, menarik selimut lebih erat untuk menutupi tubuhku yang masih telanjang.
"Baiklah, kalau kau butuh sesuatu, panggil saja," jawabnya sambil tersenyum lembut.
Sebelum pergi, dia mengecup keningku singkat. Sentuhannya membuat jantungku berdebar kencang, dan tanpa sadar aku tersenyum kecil. Draco kemudian bangkit dari tempat tidur, tetapi—
"Are you kidding me? Jangan keluar dari selimut tanpa menggunakan celana, kau idiot!" ucapku spontan sambil buru-buru menutup mataku. Sial, aku tak siap untuk itu.
"Kau sudah melihat semuanya semalam. Apa yang kau takutkan?" katanya sambil tertawa kecil, nadanya menggoda. "Cepatlah mandi dan berganti baju. Aku akan menunggumu di luar."
Dia dengan santai mengenakan kembali pakaiannya, seolah tidak ada rasa malu sedikitpun. Setelah memastikan dirinya rapi, Draco memutuskan untuk mandi di luar, memberiku ruang untuk menggunakan kamar mandinya.
Kalau kalian bertanya-tanya di mana teman sekamar Draco, aku juga tidak tahu. Sejak tadi malam, aku tidak melihat siapa pun masuk ke kamar ini.
Dengan tubuh yang masih terasa pegal, aku berusaha bangkit dari tempat tidur. Langkahku tertatih-tatih menuju kamar mandi. Saat ini, yang paling kubutuhkan adalah ramuan penghilang rasa sakit. Tapi sebelum itu, mandi mungkin akan cukup untuk sedikit menyegarkan diriku.
~🌸~
"(Name), apa itu yang ada di lehermu?" Hermione bertanya dengan nada penasaran, matanya menyipit berusaha memeriksa lebih dekat.
"Apa? Ini hanya gigitan nyamuk." Dengan cepat aku menutupi leherku menggunakan tanganku, menyembunyikan bekas kiss mark dari Draco hasil semalam. Aku berusaha terlihat santai, tetapi tatapan tajam Hermione membuatku sedikit gelisah. Dia tersenyum tipis seperti menyadari sesuatu.
"Oh... gigitan nyamuk? Eh, itu nyamuknya udah datang," katanya sambil mengangguk ke arah Draco yang baru saja memasuki ruang makan. Jantungku langsung berdebar, wajahku memanas karena menyadari bahwa Hermione tahu aku sedang berbohong.
Draco berjalan ke arahku dengan langkah percaya diri, senyum khasnya tersungging di wajahnya. "(Name), duduklah bersamaku,"
"Aku ingin duduk bersama Hermione kali ini, boleh kan?" Aku menatapnya dengan ekspresi memohon, mencoba mencari celah agar bisa duduk bersama teman-temanku. Wajahku dibuat sememelas mungkin, berharap dia tidak terlalu keberatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
I (don't) HATE YOU | Draco x Reader
FanfictionBercerita tentang seorang gadis yang dibully oleh Draco Lucius Malfoy yang berakhir dengan saling mencintai. Mereka pikir ini hanyalah kisah cinta biasa. Namun mereka tak tau, ada takdir yang jauh lebih besar sedang menanti mereka. ~~~ "Please, don'...
