Bonus chapter : Night Routine

3.9K 383 14
                                        

"Perbedaan Animagus dan Werewolf adalah, Animagus bisa mengendalikan perubahannya, sedangkan Werewolf akan berubah dengan tidak terkendali setiap bulan purnama..." bacaku pelan, mencoba menghafal materi ujian yang akan diujikan besok pagi. 

Suara langkah kaki di lorong terdengar samar, diikuti bunyi kenop pintu yang diputar.

Cklek.

Tanpa menoleh, aku sudah tahu siapa yang masuk. Tak perlu tebak-tebakan; hanya ada satu orang yang berani masuk ke kamarku seenaknya seperti ini setiap malam. Draco Malfoy. 

"Berhenti datang ke kamarku tiba-tiba, Draco. Aku mencoba belajar di sini," keluhku tanpa mengangkat kepala dari buku yang kubaca. 

Namun, seperti biasa, dia hanya menanggapi dengan santai. "Lanjutkan saja," jawabnya, sembari duduk di kasurku. Pandangannya mulai mengitari interior kamarku, mengamati aksesoris dan boneka-boneka lucu yang menghiasi sudut-sudut ruangan. 

Aku menghela napas, meletakkan pena, lalu menoleh padanya. "Tapi bagaimana bisa kau masuk ke kamarku setiap hari tanpa ketahuan oleh orang-orang yang berpatroli?" tanyaku penasaran. 

Draco tersenyum kecil, memandangku dengan sikap angkuhnya yang khas. "Aku bahkan tidak sembunyi-sembunyi saat datang ke sini, Sayang. Apa kau lupa asrama kita apa? Slytherin. Dan kau tahu, tidak ada aturan di asrama ini." 

Dia mulai berjalan keliling kamar, menyentuh barang-barangku sesuka hati, seolah sedang menilai koleksi yang menurutnya menarik. 

"Huhhh..." Aku kembali menunduk, mencoba fokus pada materi pelajaranku. Biarlah dia melakukan apa yang dia mau; toh aku sudah terbiasa. 

Draco akhirnya kembali ke kasurku. Kali ini dia berbaring santai di sana, mengangkat salah satu bantal dan mendekatkannya ke wajah. "(Name), parfummu harum sekali. Baunya seperti cinnamon," ucapnya sambil mengendus-endus bantalku, membuatku melirik sekilas dengan tatapan lelah. 

Ketika bosan, dia mulai berguling-guling di atas kasurku, bergerak ribut seperti anak kecil. Sesekali aku memperhatikannya diam-diam. Sikapnya yang kekanak-kanakan justru membuatnya terlihat menggemaskan. 

Setelah beberapa menit, dia terdiam. Masih dengan posisi terlentang, dia membuka mulut untuk bertanya sesuatu. "Kau belajar untuk apa?" tanyanya, tapi entah mengapa itu terdengar sombong bagiku. 

"Tentu saja untuk ujian besok, Draco," jawabku malas. 

"Kau tidak perlu belajar. Ujiannya pasti akan mudah." 

Aku mendesah, memutar mataku dengan ekspresi jengkel. "Aku bukan dirimu, Draco, yang tanpa belajar pun bisa tiba-tiba pintar begitu saja." 

Sebagai informasi, dia berada di peringkat dua di kelas. Sementara aku harus belajar mati-matian hanya untuk mengejar nilainya. Peringkat satu? Tentu saja Hermione. Tapi bagaimana mungkin Draco bisa sepintar itu? Aku belum pernah melihatnya belajar barang sekalipun. 

"Aku lapar... ambilkan aku makanan," keluhnya, masih dalam posisi telentang di kasurku. 

"Ambil sendiri. Aku sedang belajar," jawabku tegas tanpa menoleh. 

Dia berpikir sebentar, lalu berkata, "Hmm, baiklah... Kau ingin sesuatu?" 

Pai apel dan segelas susu langsung terlintas di pikiranku. "Pai apel dan segelas susu terdengar enak," jawabku, akhirnya sedikit tergoda. 

Draco bangkit dari kasurku dan melangkah keluar kamar, menuju dapur. Aku kembali tenggelam dalam buku, mencoba mengulang materi yang sempat terhenti. 

Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang cepat terdengar di lorong.

Drap, drap, drap.

"Hah... hah... (Name), kau tahu tadi saat aku sedang berjalan menuju dapur, aku melihat Jason sedang ciuman dengan Liana di Common Room! Hahaha..." Draco muncul kembali, tertawa terbahak-bahak dengan nafas tersengal karena berlari. 

Aku menatapnya dengan tatapan datar, mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakannya. Setelah beberapa saat hening, aku bertanya kembali, "Di mana makanannya?" 

Draco terdiam. Wajahnya berubah canggung. "Ah, aku lupa, hehe," jawabnya cengengesan. 

Aku memijat pelipisku, merasa kesal tapi tak lagi terkejut dengan tingkahnya. "Draco...? Hahhh... Ayo pergi bersama saja," ujarku sambil menutup bukuku dan berdiri. 

Tanpa berkata apa-apa lagi, aku melangkah ke pintu, mengikutinya menuju dapur untuk mengambil camilan malam yang sebelumnya dia tinggalkan.
.
.
.

"Lihat! Hey Jason, Liana!" seru Draco lantang, memecah suasana yang semula sepi. 

Pasangan itu terlihat terkejut, hampir melompat dari sofa, dan langsung terduduk canggung. Wajah mereka memerah setelah ketahuan sedang berciuman di Common Room. 

"Get a room, dude," saran Draco dengan nada meledek, sambil menyeringai puas melihat ekspresi panik Jason. 

Aku mendesah pelan, merasa terganggu dengan sikap usil Draco. "Berhenti mengganggunya, Draco," tegurku sambil menarik tangannya, memaksanya menjauh dari situ. 

Dia hanya tertawa kecil, membiarkan aku menyeretnya keluar dari Common Room. Kami berjalan menuju dapur tanpa sepatah kata pun lagi. Sesampainya di sana, aku mengambil pai apel, beberapa buah, dan dua gelas susu. Draco dengan santai membantu, meskipun lebih banyak berkomentar tentang pilihanku daripada benar-benar berguna. 

Kembali di kamar, kami duduk di tepi kasur sambil menikmati makanan yang kami bawa. Tak ada pembicaraan panjang—hanya keheningan yang nyaman di antara kami, ditemani bunyi lembut pisau yang memotong buah dan gelegar samar angin malam di luar jendela. 

Setelah selesai, rasa kantuk mulai menyergap. Draco meregangkan tubuhnya, sementara aku merapikan sisa-sisa makanan. 

Kami berbaring bersebelahan. Draco memelukku erat, tubuhnya terasa hangat. Tangannya dengan lembut mengusap rambutku, membuat rasa lelahku perlahan memudar. Sesekali dia mengecup dahiku dengan gemas, tanpa berkata apa-apa. 

"Draco," panggilku pelan, suaraku hampir tenggelam di antara embusan nafasnya yang teratur. 

"Hm? Apa, sayang?" jawabnya malas, matanya tetap terpejam. 

Aku berpikir sejenak, lalu berucap polos, "Aku mencintaimu." 

Dia tersenyum tipis, membuka sedikit matanya untuk menatapku. "Aku lebih mencintaimu, (Name)," jawabnya tulus, membuat dadaku terasa hangat. 

Kami menyamankan posisi, tubuh kami saling menyatu dalam pelukan yang nyaman. Malam itu, ditemani dengan hembusan angin di luar jendela, kami tenggelam dalam tidur nyenyak hingga pagi menjelang.




















Bonus chapter momen absurd draco x reader. Aku bakal tetep update Kamis besok, jangan lupa vote dan comment💜

I (don't) HATE YOU | Draco x ReaderCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang