Ada banyak cara untuk menghilang. Dan bisa saja aku meniru caramu. Tapi, aku tetap memilih pamit. Agar kau tak merasakan bagaimana menanti dalam ketidakpastian.
@hase_rianiCukup lama. Entah berapa menit waktu berlalu dalam kesunyian. Tak ada yang bersuara. Lebih tepatnya tak ada sesuatu yang dibahas. Suara sendok sesekali terdengar ketika salah satu di antara kita dengan iseng membenturkannya pelan ke pinggiran piring kecil yang digunakan sebagai alas cangkir minuman kami.
Kentang goreng yang berada di tengah-tengah meja pun berangsur dingin setelah sekian lama merasa terabaikan. Oh tidak, kami sudah memakannya beberapa iris.
Sesekali aku melihat ia memutar pergelangan tangannya. Melihat jam. Mungkin ia sudah merasa bosan. Ingin segera pulang, atau ia ada janji dengan yang lain. Ah, aku jadi merasa tidak enak.
Baru saja aku ingin mempersilahkannya pergi setelah beberapa lama aku mengumpulkan keberanian, dia sudah mendahuluiku membuka suara.
"Diam terus." Ucapnya tiba-tiba "masa iya, kita diam-diam terus sampai pulang. Kayak orang tidak saling kenal" lanjutnya diakhiri dengan tawa. Aku tau, ia ingin mengajakku bercanda seperti dulu.
"Sya tidak tau, mau bahas apa." Balasku sambil menaikkan sebelah tanganku untuk menopang dagu
"Jangan begitu, Ra!" Katanya sambil meraih pergelangan tanganku dan dengan pelan menurunkannya dari daguku "tidak boleh" lanjutnya
"Halah, tapi saya suka" keras kepalaku perlahan kembali, tapi aku tidak melakukannya lagi
"Ih, awas ee" ancamnya mengarahkan telunjuknya sambil menyipitkan matanya
Aku diam, api bibirku sedikit manyun memperlihatkan kekesalanku. Sebelum ia kembali berbicara sambil melirik pasangan anak muda di samping meja kami. Aku yang mengerti dengan kodenya, langsung berbalik dan melihat laki-laki yang di depannya tengah menyuapi temannya.
"Hadedeeeh romantisna bela" ia bergumam pelan sambil cekikikan "sabar ya mblo" ledeknya
"Iya mblo" balasku berbisik yang diakhiri dengan tawa kami berdua
Tertawa? Iya, aku tertawa bersamanya. Ia memang selalu punya cara untuk membuatku tertawa. Meski dengan cara yang menurut orang lain biasa saja.
"Haduuh" keluhku sambil mengangkat cangkir lalu menyeruput capucino panasku. Eh sekarang sudah dingin
"Jadi, kapan rencana pulang?" Ia bertanya sementara aku sedang minum. Aku hanya menaikkan alisku sebentar dan langsung menelan minumanku sebelum menjawab
"Besok, insya Allah" jawabku sambil meletakkan cangkir ke meja
"Hah? Serius, Ra?" Jangan membayangkan ia sekaget itu, ia biasa saja. Suaranya terdengar biasa-biasa saja dengan nada yang santai
Aku hanya mengangguk. Mengeluarkan hp dari tas ku lalu mengirim pesan ke Ifan untuk segera menjemputku. Aku sudah sangat lama di sini meski perasaanku baru sebentar. Bukan kah waktu memang begitu, ketika kita sedang menikmatinya. Ia akan berlalu dengan sangat cepat.
Kita sama-sama diam dalam pikiran masing-masing. Kulihat ia sedari tadi memegang hpnya, sesekali ia menyalakannya lalu kembali mengunci layarnya. Mungkin ia sama sepertiku, memegang hp seolah sedang sibuk. Padahal aku hanya tidak tau ingin membahas apa. Begitu terus sampai minuman kita habis.
"Ra.." suaranya kembali memecah keheningan
"Ya?" Balasku singkat tanpa mengalihkan pandanganku dari layar hp.
Menunggu beberapa saat untuk mendengar suaranya, namun tak juga ia melanjutkan kalimatnya. Perlahan aku mengankat wajahku menatapnya. Dan kita kembali sama-sama terdiam.
Hingga akhirnya, suara dering teleponku memecah keheningan. Dengan cepat ia menoleh, melihat hpku lalu menatapku. Melihat nama Ifan tertera di layar hp, aku menatapnya sebentar sebelum menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan Ifan
"Assalamu'alaikum.." sapaku saat telepon tersambung
"Wa'alaikumsalam.. kak Ara, masih di sana?" Tanya Ifan
"Iya, masih.. kenapa, Fan?" Jawabku lalu kembali bertanya
Aku lihat, Rahmat berdiri dan sedikit menggeser kursinya sebelum melangkah meninggalkanku. Mungkin ia ke kamar kecil.
"Ifan masih di jalan kak, tadi habis dari bengkel. Tapi ini sebentar lagi sampai. Ya sudah, assalamu'alaikum" jelas Ifan lalu menutup sambungan telepon, bahkan sebelum aku menjawab salamnya. Dasar.
"Ifan kenapa?" Tanya Rahmat yang sudah berdiri di sampingku sambil meletakkan sebuah buku yang bersampul merah dengan gambar sketsa seorang perempuan.
Saat ia mendekatkannya ke depanku, aku baru melihat dengan jelas judul buku Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi. Seketika mataku terpanah melihat judulnya dan bergumam pelan "keren" lalu menjawab pertanyaannya
"Mm? Tidak apa-apa" jawabku sambil memasukkan hp dan power bankku ke dalam tas
"Bukunya jangan lupa di masukkan juga" ia tersenyum ke arahku "oh iya Ra, besok pagi kujemput yah. Kita jalan dulu sebentar sebelum kamu pulang" ucapnya
"Insya Allah.. jam berapa?" Tanyaku
"Nanti saya kabari."
Selang beberapa menit, Ifan sudah muncul dari balik pintu masuk berjalan ke arahku dengan sedikit buru-buru.
"Ayo kak." Ucap Ifan saat berdiri dibelakang kursiku lalu ia pamit ke Rahmat "Kak, kita pulang dulu" pamit Ifan dan Rahmat hanya tersenyum sedikit mengangguk
"Eh, Zahra." Suara Rahmat membuat aku dan Ifan seketika berhenti melangkah dan menoleh ke arahnya "pakai jaket, dingin soalnya" katanya sambil menyampirkan jaketnya ke bahuku dan berbalik menepuk bahu Ifan dan berpesan "Ifan, bawa motor hati-hati ya"
"Iya kak" jawab Ifan lalu menyalakan motornya dan menyuruhku naik ke boncengannya.
"Sampai ketemu besok, assalamu'alaikum." ucapnya dengan senyum
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah" jawabku bersamaan dengan Ifan
Motor kami melaju meninggalkan halaman cafe. Semakin jauh, aku melihat Rahmat masih berdiri di sana. Tampak kecil dan semakin jauh lalu hilang seiring dengan ramainya kendaraan yang berada di belakangku. Jaket yang di sampirkan ke bahuku, perlahan ku lepas dan kupindahkan ke pangkuanku.
Bukannya tidak suka dengan perhatiannya. Angin malam memang tidak sehat, tetapi aku suka. Dinginnya seakan menembus dan membawa kedamaian dalam hatiku, menenangkan pikiranku dan menyejukkan perasaanku.
Ini adalah malam terakhir aku mennginjakkan kaki di sini. Aku ingin menikmati suasana kota ini dengan sorot lampu kendaraan yang berlalu lalang.
Besok? Ah akubelum tau. Mungkin besok akan lebih indah lagi dari hari ini. Semoga saja.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sebelum dan Sesudah
Ficção AdolescenteCeritanya akan selalu berbeda dari sebelum dan sesudah kita lewati. Karena dalam hidup memang begitu, akan ada beberapa kisah yang menjadi pelengkap ceritamu.