☆Hati dan Pikiran

3 1 0
                                    

"Ketika hatimu telah memilih tanpa persetujuan dari pikiranmu. Kamu bisa apa?"
@Hase_Riani

Sudah setengah tahun berlalu sejak hari itu. Dan sampai sekarang, aku masih mengingatnya. Padahal baju yang aku kenakan terakhir kali bertemu dengannya tidak lagi pernah ku pakai hanya sebagai sebuah usaha untuk melupakan yang nyatanya tidak pernah berhasil.

Aku masih sering memikirkannya bahkan ketika aku sedang di tempat kerja seperti ini. Aku pernah berpikir, aku akan melupakannya ketika aku menyibukkan diri. Tapi yang ada, aku malah terus mengingatnya ketika pulang kerja. Aku sering membayangkan ia memarahiku saat ia tahu aku selalu pulang larut malam sendiri dari tempat kerja.

"Ibu Zahra!" Teriak salah satu teman staf

"Mm.. kenapa, Wan?" Tanyaku

"Hpmu tidak aktif?" Ia malah bertanya balik membuatku malas menjawab

Hpku memang lowbat, aku malas sekali mengurusnya bahkan hanya sekedar mengenakan charger saja yang sangat mudah, untuk mengisi daya sekali pun. Rasanya aku sangat malas melakukannya

"Tadi adikmu menelepon. Katanya malam ini, kamu tidak usah bermalam di kantor lagi. Karena nenekmu mau datang!" jelas Iwan sebelum kembali ke ruangannya

Orang-orang yang melihat eskpresiku mungkin akan berpikir aku tidak peduli. Tapi percayalah, meski raut wajahku boleh biasa saja tapi dalam hati aku bahkan sangat senang. Dan hari ini, aku akan meminta izin untuk pulang sore.

"Assalamu'alaikum pak" aku mengetuk pintu ruangan salah satu komisionerku

Sebut saja itu hanya formalitas, karena tanpa menunggu persetujuannya pun aku akan langsung masuk.

"Pak ketua, saya pulang cepat hari ini. Laporanku nanti saya kerja di rumah." ucapku

Dan lagi, tanpa menunggu jawaban darinya aku langsung keluar. Jangan mengataiku kurang ajar, kita memang begitu. Atasanku memang terlalu santai, ia tidak pernah mempermasalahkan hal-hal yang tidak penting menurutnya. Selagi kita masih dalam batas kewajaran dan tetap bersikap sopan padanya.

Waktu memang memihak kepadaku kali ini. Tidak terasa, jam sudah menujukkan pukul 15.20 yang artinya aku sudah boleh pulang ke rumah.

☆☆☆

Usai shalat isya, aku langsung mengambil selimut dan bantal lalu membawanya ke ruang tamu. Aku sengaja ingin tidur di sofa malam ini. Agar ketika nenek datang, beliau bisa langsung istirahat di kamarku.

Aku berjalan keluar sambil memeluk bantal dan selimutku. Mama hanya menggeleng melihat tingkahku. Lihat saja, ia tidak akan menegur atau melarangku.

Rasanya baru saja aku memejamkan mata, tiba-tiba aku tersentak dari tidurku ketika bermimpi.

"Hah, Rahmat ini tidak ada bosannya menggangguku. Bisa-bisanya datang ke dalam mimpi." Gerutuku seraya mendudukkan diriku "tapi, kenapa datangnya sama Darul? Ya Allah." Aku melihat jam dinding yang menggantung tepat di depanku. Jam 2 subuh. Batinku sambil mengucek mataku

Entah angin apa, hingga hatiku tergerak untuk mengambil air wudhu dan segera melaksanakan shalat tahajjud. Sungguh, aku sangat merindukan suasana ini. Aku sudah lupa, kapan terakhir kali aku melalukannya. Menangis tersedu menumpahkan segala keresahan hati. Juga meminta petunjuk atas mimpi yang baru saja aku alami.

Selesai tahajjud, aku ingin kembali ke ruang tamu. Tapi aku tiba-tiba mengingat alasan aku tidur di luar. Aku melihat kamar masih kosong, berarti nenek belum datang juga.

Baru saja aku menarik gagang pintu untuk menutupnya. Suara klakson mobil sudah terdengar di depan gerbang. Aku segera berlari. Tapi bukannya berlari membuka pintu, melainkan berlari ke kamar mamaku untuk membangukannya.

Sebelum dan SesudahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang