☆Permohonan Maaf

2 2 0
                                    

Ketika ucapan dan permohonan maaf disetiap hari raya hanya dijadikan sebagai tradisi. Lantas dimana ketulusan ucapan yang katanya adalah dari hati?
@hase_riani

Babul Khaiir. Disinilah aku dan mamaku yang sedang berdesakan mencari shaf yang kosong. Tapi sepertinya tidak ada selain shaf dibagian paling belakang.

Ya sudah, daripada tidak ada sama sekali. Aku berputar lagi masuk lewat pagar belakang, kendati harus berjalan sambil menunduk karena banyak laki-laki yang harus dilewati. Di shaf belakang sebelah kiri memang tempat untuk laki-laki dan sebelah kanan untuk perempuan.

Setelah mendapat tempat, aku bersandar dipagar pembatas dan iseng menoleh ke kiri. Kulihat disana beberapa laki-laki duduk di teras, beberapa juga sedang bersandar dipagar. Saat ku palingkan wajahku kembali, seseorang memanggilku tepat dibelakangku

"Kak.. kak Zahraa" bisik Ifan

"Mmm, kenapa?" Tanyaku memutar tubuhku mencoba menghadapnya

"Nanti tungguka pas pulang nah. Sama-samaki pulang" perintahnya kemudian berlalu

Selesai shalat dan bersalam-salaman dengan beberapa orang tua, aku bergegas meninggalkan tempat dan mencari bapakku.

"Tunggu disini mi ma" ucapku berhenti melangkah sambil menoleh ke kanan kiriku mencari sosok laki-laki yang ditunggu-tunggu, siapa lagi kalau bukan bapakku

"Iya, tunggu tantemu juga sana" sambil menunjuk seorang perempuan yang sedang berjalan ke arah kami

"Eh tante" ucapku menyalami tangannya

"Zahra sudah ini?" Tanyanya sudah membawaku dalam pelukannya.

Dibelakang sana, mataku tak sengaja melihat seorang lelaki memakai terusan abu-abu dengan sejadah biru yang dikalungkan dilehernya. Ia juga sedang berjalan sambil tersenyum menuju ke arah kami. 'Darul' batinku membalas senyumnya

Tante sudah melepas pelukannya, kini ia memegang pundakku memutar badanku ke kiri dan kekanan. Hanya ingin mengatakan, aku sudah benar-benar menjadi gadis dewasa yang cantik. Aku hanya tersipu mendengarnya, menurutku itu terlalu berlebihan

"Kak Zahraaa" teriak Ifan

Segera aku menoleh kebelakang sambil tertawa. Duh  aku lupa disana masih ada Darul yang masih tersenyum membuat tawaku seketika berubah menjadi senyum manis dan sedikit mengangguk padanya

"Weh kak, tungguuu"  sepertinya ia sangat kesal

"Cepat mi" ucapku sambil terus melangkah

"Eh kak Darul. Assalamu'alaikum kak" sapa Ifan ke Darul setelah mensejajarinya.

"Iya, wa'alaikumsalam"

Lagi-lagi, ia tersenyum. Ah senyum itu terlalu indah untuk diabaikan begitu saja. Aku maaih ingin melihatnya, namun

"Kenalkan kak, kak Zahra kakak sepupuku yang manis.." jeda Ifan mengenalkanku "katanya hahahaaa" lanjutnya meledekku yang hanya ditanggapi dengan senyum oleh Darul.

Ais, kenapa dia selalu memasang senyum seperti itu.

Aku menatapnya sebentar 'awas ko Ifan, tunggu sampe rumah' aku menggeram melempar tatapan sinis ke arahnya sebelum berlalu meninggalkan mereka tanpa memberi ucapan selamat.

☆☆☆

Hari ini aku terlalu sibuk, sampai lupa mengabari teman-teman. Bahkan sekedar memberi ucapan selamat hari raya dan menyampaikan permohonan maaf saja, tidak ada

Ketika ada waktu luang, aku hanya menggunakannya untuk istirahat dan mengisi daya baterai hpku. Apa lagi jika bukan untuk berfoto.

Selesai mandi, aku meraih hpku dan mengaktifkan data selulernya. Langsung saja notif dari berbagai aplikasi berebutan untuk berbunyi.

Kucoba membuka whatsapp memeriksa pesan dari beberapa teman dan disana tidak ada nama Rahmat 'mungkin dia juga sedang sibuk' pikirku "tapi.. sejak pulang dari sini, dia memang belum memberi kabar sama sekali" gumamku sambil mengetik pesan untuknya

Rahmat. R

Hari ini

Assalamu'alaikum Rahmat Rifa'i Jaffar

Mat?

Menunggu beberapa menit, belum juga ada balasan. Aku membuka wattpad dan kembali melanjutkan  menulis sambil menunggu balasan darinya.

Sementara menulis, hpku serasa bergetar tanda sebuah panggilan masuk. Sengaja ku aktifkan mode getar saja biar suaranya tidak mengganggu.

Dalam hati sempat menyangka kalau itu pasti Rahmat, eh ternyata panggilan dari Wahyu. Dan seperti biasa, tanpa menunggu lama aku akan langsung menjawab teleponnya

"Assalamu'alaikum Wahyu Indra SSB, selamat hari raya idul fitri nah. Mohon maaf lahir batin" sapaku

"Wa'alaikumsalam saudariku Zahra Syifa Al Fauziah. Iya.. bagaimana kabar ini?" Tanyanya

"Alhamdulillah baik-baik, Wahyu bagaimana?"

"Alhamdulillah sama.."

Sekian menit bercerita dengannya. Seperti biasa, akan selalu ada sesi belajar disetiap komunikasi dengannya. Dia memang selalu begitu suka berbagi ilmu, tidak pernah bosan mengajari dan menasehatiku. Dan itulah yang membuatku suka dan bersemangat menjawab telepon darinya.

"Jadi Zahra, kalau mau minta maaf sama orang tidak perlu tunggu lebaran dulu. Apa jadinya kalau permintaan maaf itu ternyata cuma dijadikan sebagai tradisi semata?" jedanya, dan aku hanya terdiam mendengar "coba lihat! orang-orang hanya meminta maaf kepada keluarga, teman dan tetangganya saja yang memang silaturahmi mereka baik-baik saja. Iya kan?" Tanyanya dan tetap saja aku tidak memberi jawaban, masih menunggu kalimat selanjutnya

"Tidak ada yang mau memulai minta maaf duluan sama orang yang dianggap musuh atau pernah ada masalah sedikit sama orang lain. Makanya dari situ saya berpikir dimana letak ketulusannya itu permintaan maaf. Bisa jadi kita ini hanya ikut-ikutan meminta maaf, tidak betul-betul dari hati" Ujarnya panjang kali lebar. Tapi aku suka "Tidak kah begitu?" Tanyanya lagi

"Iya Wahyu, saya juga baru berpikir begitu. Sebenarnya saya juga merasa sedikit, karena sering disetiap hari raya cuma mengirim ucapan ke teman-teman dan keluarga dekat saja"

"Iya toh? Makanya kalau mau meminta maaf, coba cari teman yang pernah bakusalah sama kita atau minimal yang sering buat jengkel. Zahra yang minta maaf duluan, jangan menunggu permintaan maaf. Karena orang yang meminta maaf tidak perlu menunggu berbuat kesalahan dulu. Ingat Ra, meminta maaf meski dalam keadaan benar itu lebih baik dari pemberi maaf. Orang yang memberi maaf karena memang dia di posisi yang benar akan dibangunkan rumah kelak diantara pintu syurga dan neraka, tetapi orang yang meminta maaf padahal jelas dalam keadaan dia benar, maka akan dibangunkan rumah untuknya didalam syurga-Nya kelak" tutur Wahyu

"Iye..Makasih nasehat sama ilmunya Wahyu hehe"

"Bah, biasa saja itu Ra.. ya sudah nanti kapan-kapan lagi dilanjut yah saya mau ke wc kayaknya ini. Assalamu'alaikum Warahmatullah" ucapnya buru-buru

"Haha iya Yuu. Wa'alaikumsalam Warahmatullah"

Setelah sambungan telepon terputus, aku kembali merenungkan semuanya. Semua yang Wahyu katakan barusan itu benar.

Rasanya jadi sangat berbeda dari sebelum Wahyu memberi nasehat seperti itu. Yang tadinya aku hanya biasa-biasa saja dengan sebuah kata maaf, kini aku jadi mengerti betapa berharganya kata itu.

Entah itu meminta atau memberi maaf, yang pasti semuanya harus dilakukan dengan penuh keikhlasan. Hanya beberapa huruf yang tersusun menjadi kata yang sangat sederhana, namun maknanya tentu tidak sesederhana itu. Kata itu adalah salah satu kunci untuk tetap menyambung tali silaturahmi kita, bukan untuk hiasan kesempurnaan ucapan di hari-hari tertentu.

Bentar lagi lebaran loh..
Ingat! Pesan Wahyu jangan sampai lupa..

Sebelum dan SesudahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang