PART 13

91 7 0
                                        

H  A  P  P  Y    R  E  A  D  I  N  G
.
.
.
.
.
.
.
🐐🐐🐐

"Kamu akan ayah jodohkan dengan anak sahabat ayah".

Tasya yang mendengarnya, sekita tubuhnya membeku, mulutnya tetasa kelu, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.

Tolong bangunkan tasya, apakah ini semua hanya mimpi!

"A-a-apa...?" ucap tasya tersendat-sendat dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.

Sedangakn brian yang mendengar ucapan ayahnya barusan, tubuhnya mematung.

"Bu-bunda, ini semua ngga bener kan?" tanyanya, berdiri tepat dihadapan sang bunda, dengan air mata yang terus saja mengalir.

"Maafin bunda sayang" ucap tika, menatap tasya dengan sendu.

"Kak, tampar tasya kak, ini semua mimpi kan hiks..." ucap tasya menghampiri brian.

"Ayah ngga bohong sayang" ucap sadewa menatap sang putri.

"Ayah jahat hikss..! Ayah ngga mikirin perasaan tasya, tasya kecewa sama ayah, bunda juga jahat sama tasya hikss..." ucap tasya kecewa, dengan air mata yang mengucur deras membasahi pipi mulusnya. Lalu dengan cepat ia berlari meninggalkan mereka, ia berlari ke kamarnya, ia menutup pintunya cukup kencang, lalu menguncinya rapat-rapat.

"Ayah" panggil brian, dengan nafas yang naik turun, ia berusaha untuk tidak emosi.

"Keputusan ayah sudah bulat!" ucap sadewa, seolah tau apa yang akan diucapkan brian.

"Tasya masih kecil yah, kalau ayah lupa, biar brian ingetin, umur tasya itu baru 17 tahun".

"Ini juga untuk masa depan adek kamu".

"Masa depan apa yah! Jelas-jelas masa depan tasya sudah hancur!" Ucap brian tanpa sadar berteriak.

Plakkk....

"Yang sopan kamu sama ayah!" ucap sadewa, menampar brian.

"Mas udah!" ucap sang istri menenangkan.

"Ayah sudah memikirkan ini matang-matang, keputusan ayah akan tetap sama!" ucap sadewa lalu pergi dari hadapan brian, dan diikuti tika di belakangnya.

Dengan langkah cepat brian berjalan ke kamar adiknya.

Tok...tok...tokkk

"Dek bukak! Ini kakak" ucap brian, mengetuk pintu kamar tasya. Dan tak lama setelah itu pintu kamar terbuka, menampilkan tasya dengan keadaan sedang tidak baik-baik saja. Lalu dengan cepat tasya langsung berhambur ke pelukannya, dengan isak tangisnya.

Brian membalas pelukan sang adik dengan erat, lalu membawanya ke dalam.

"Maafin tasya kak hikss..." ucap tasya dalam pelukan brian.

Lalu brian melepaskan pelukanya, menangkup kedua pipi sang adik. "Kamu ngga ada salah sama kakak, kamu ngga perlu minta maaf" ucapnya, menghapus air mata yang membanjiri pipi mulus adiknya.

"Gara-gara tasya kakak ditampar sama ayah" Ucap tasya, melihat pipi sang kakak yang memerah.

"Hey, ini bukan salah kamu, ini salah kakak sendiri, kakak ngga bisa ngontrol emosi".

My Enemy, My HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang