27 - Will You Marry Me?

5.6K 298 7
                                        

Setelah menyelesaikan sarapan bersama yang bisa dibilang cukup telat itu, Kirana dan Ayu mengumpulkan peralatan makan yang kotor—yang sebelumnya dilarang oleh Ibu Ayu, dengan alasan mereka baru saja sampai. Mereka berdua lantas menyuci peralatan makan itu di wastafel dapur yang memang agak jauh dari meja makan tadi.

"Ra, gue masih ngga nyangka ternyata dunia sesempit ini." Kata Ayu, berusaha untuk memecah keheningan.

"Gue kira lo sengaja merencanakan ini Yu. Gue kira, lo udah tau semuanya. Maafin gue ya."

Sebelum makan tadi, Kirana sempat berdebat sedikit dengan Ayu perihal keberadaan Sean. Ayu pun dengan sabar menjelaskan bahwa selama ini ia pun tidak tahu bahwa teman dari pacarnya adalah Sean yang sama dengan Sean yang selalu diceritakan oleh Kirana. Bahkan saat di kereta pun, Ayu merasa sedikit tidak enak hati pada Kirana. Andai ia tahu bagaimana rupa Sean sebelumnya, ia sudah pasti meminta Dodit untuk menjemput mereka sendirian. Atau mungkin bila Dodit masih trauma, mereka bisa ke rumah orang tua Ayu sendiri.

"Gue juga minta maaf ya, Ra."

Seperti ritual minta maaf terdahulu, mereka selalu berpelukan setelah sama-sama meminta maaf.

"Aduh ini anak gadis, pada peluk-pelukan kayak teletubbies." Celetuk Ibu Ayu yang ikut hadir ke dapur.

"Eh, tante."

"Ih Ibu, ngagetin aja deh."

"Abisnya pada asik pelukan, Ibu ngga diajakin." Kata Ibu Ayu sambil pura-pura merajuk dengan membalikkan badannya. Padahal ia mau membuatkan kopi dan teh untuk pria-pria di ruang keluarga.

"Ih, inget umur. Lagipula nih ya Bu, ini itu ritual kita berdua kalo lagi minta maaf. Sini kalo mau peluk minta maaf dulu." Jelas Ayu.

"Ngga mau ah, Ibu mah udah ada yang meluk." Jawab Ibu Ayu sambil membawa minuman di nampan dan keluar menuju ruang keluarga.

Tak mungkin tidak paham dengan maksud kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Ibu Ayu, Ayu dan Kirana secara kompak menggeleng-gelengkan kepala mereka sambil melanjutkan cucian piringnya.

Bilasan pada piring terakhir pun sudah, Kirana membersihkan tangannya dari sisa sabun terlebih dahulu.

"Yuk, gue mau ke taman belakang boleh ngga?" Kirana selalu meminta izin ketika ingin melakukan sesuatu, apalagi ini bukan di rumahnya.

"Ya boleh lah, lo udah dibilangin anggap aja rumah ini rumah lo juga masih aja kayak tamu lo disini." Cercah Ayu.

Kirana pun tertawa kecil menanggapi perkataan Ayu, sembari meninggalkan gadis itu menuju taman belakang.

Ya, taman. Taman dan ekosistem di dalamnya selalu berhasil membuat Kirana mendapatkan aura dan perasaan yang jauh lebih baik. Bunga warna-warni, padang rumput dan dedaunan hijau, suara gemercik air kolam serta kicauan burung yang lewat merupakan perpaduan yang sangat harmonis.

Dan mereka berhasil untuk sementara mengalihkan pikiran Kirana tentang pria yang tadi berada di ruang keluarga, yang tanpa Kirana sadari ternyata sudah menyusulnya dan duduk tepat dibangku sebelahnya.

"Ternyata kamu ngga banyak berubah ya. Masih suka taman terutama." Kata Sean sembari mengalihkan tatapannya yang dari awal mula duduk sudah menatap Kirana lalu ikut menatap taman di depannya.

Kini giliran Kirana yang menatapnya. Pria di sampingnya pun tidak banyak berubah, hanya saja auranya yang semakin dewasa dan juga suaranya yang semakin berat.

"Soal ucapan Yamada di kereta tadi, aku minta maaf." Kata Kirana.

Sean dengan dahi berkerutnya kembali memandangi wajah Kirana.

"Kenapa harus minta maaf?"

Jujur, Kirana malu untuk menjawab tapi ia harus meluruskan semuanya.

"Sebenarnya, ada satu kejadian yang membuat aku harus ngaku-ngaku udah tunangan. Tapi serius, aku ngga pake nama kamu. Cuma Yamada aja yang suka nebak-nebak." Kata Kirana yang tidak mau membuat Sean salah paham.

Sedangkan Sean tidak terima dengan ucapan Kirana. Ia merasa dirinya tidak dianggap, dan ia tidak suka itu.

"Ngaku-ngaku? Setahu aku, kita emang udah tunangan."

Kirana menyelami maksud dari kalimat yang Sean ucapkan. Ia merasa belum pernah menerima lamaran pria di sampingnya.

Melihat Kirana yang sepertinya kebingungan, Sean mulai menceritakan semuanya.

"Sebenarnya, malam dimana kamu lari dari perjodohan itu adalah acara tunangan yang semuanya sudah dipersiapkan. Tapi, kejadian itu membuat Papa kamu hampir membatalkan perjodohan itu. Aku pun bingung, dengan apa yang harus aku lakukan. Hingga aku menjelaskan semuanya. Aku pun meminta maaf ke orang tua kamu atas apa yang sudah aku lakukan selama ini ke kamu. Dan akhirnya, Mama sama Papa kamu, kembali setuju dengan perjodohan itu, dengan syarat aku yang ngga akan kembali nyakitin hati kamu. Itu juga alasan, kenapa mereka ngga ngelarang aku ngasih cincin itu ke kamu. Cincin tunangan kita."

Sean lantas mengambil tangan Kirana dan mengusap cincin yang melingkar dengan pas di jari manis gadis itu sambil tersenyum menatapnya.

Setelah puas memandangi cincin itu, Sean kembali menyelami netra coklat madu di hadapannya. Masih dengan tangan yang menggenggam tangan Kirana.

"Aku ngga bohong, kalo aku bahagia banget ngeliat kamu mau pake cincin ini. Dan aku harus jujur ke kamu, bahwa aku sayang sama kamu, Kirana Putri Pratama."

Kirana yang sebelumnya hanya terdiam mendengarkan setiap kalimat pria di hadapannya, kini lidahnya semakin kelu. Ditambah detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya, membuat wajahnya memanas.

"So, will you marry me?"

* * *

haduh :) auk deh gelap :)

ohiya, kalo ada typo kasih tau aku yaa! hihi.

Luvv,
Me

Pengagum RahasiamuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang