Setelah pertemuannya dengan Kirana di toko sepatu, Sean merasa bahwa gadis itu benar-benar menghindarinya. Seperti kemarin, dia sedang berada di perpustakaan SMA Pancasila untuk mengambil beberapa buku pendamping ujian. Tak disangka-sangka ia bertemu dengan Kirana. Gadis itu tengah berkutat dengan rak buku di depannya. Sean yang hendak menghampirinya pun terpaksa harus mengurungkan niatnya karena dua hal. Yang pertama, Bu Ida memanggil namanya. Dan yang kedua, yang paling menyebalkan, Kirana yang menyadari kedatangannya dengan segera melangkahkan kaki keluar dari perpustakaan.
'Dia pikir aku setan.' Batin Sean.
Dan hari ini, tepatnya di kantin. Sean melihat Kirana sedang memesan siomay. Sean berpikir bahwa ini adalah saat yang tepat untuk menghampiri dan memberikan pelajaran lagi untuk gadis itu. Bagaimana bisa Sean seyakin itu? Ya bisa dilihat Kirana belum memulai makannya, jadi Kirana tidak akan bisa menghindarinya kali ini. Sean pun berjalan menghampiri meja Kirana dan Devi. Dari kejauhan Sean melihat gadis itu dengan raut antusias nya sedang menceritakan sesuatu.
"...bener devv." Setidaknya itu adalah dua kata terakhir yang Sean dengar sebelum ia berhasil sampai di meja itu. Suasana kantin sangat sepi, mengingat ini adalah jadwal olahraga, dan hanya anak yang sudah selesai penilaian lah yang diperbolehkan untuk ke kantin.
"Pacar lo rabun apa gimana sih? Bisa-bisanya suka sama cewek kaya lo." Ucap Sean yang tanpa basa-basi dan tanpa ekspresi.
"...."
"Kaya ngga ada cewek lain aja." Lanjutnya dengan sedikit menambahkan volume suaranya.
"...."
"Oh selain pacar lo yang rabun, ternyata lo juga bisu?" Kali ini Sean sudah kehabisan stok sabarnya. Bagaimana bisa seorang Sean Adhi Pramono, kapten basket yang most wanted di sekolahnya diacuhkan oleh dua orang gadis di depannya.
"Dev, bukannya tadi Bu Dewi nyuruh kita ke ruang guru ya?" Akhirnya Kirana bersuara, tapi tunggu bukankah kalimat itu terdengar sangat menyebalkan?
"Eh iya Ra, gue lupa. Yaudah yuk, udah dibayar kan?" Jawaban Devi pun tak kalah membuat Sean semakin geram.
"Udah, tenang aja."
Selanjutnya Kirana dan Devi melangkah meninggalkan kantin dan Sean.
Sial. Sean merasa kesal sekarang. Bisa-bisanya dia diacuhkan dan ditinggalkan begitu saja.
*
"Eh Dev, gue lupa cerita sama lo. Dua hari yang lalu, gue diajak Bang Gio nyari sepatu." Kirana memulai topik pembicaraan setelah ia menyantap sebuah siomay.
"Tunggu tunggu, ini Bang Gio sepupu lo yang mapan, tampan dan rupawan kan?" Tanya Devi yang mulai antusias ketika membahas pria tampan.
"Iya, dia minta anterin gue beli sepatu buat acara lamarannya."
"Lamaran kerja?" Tanya Devi.
"Lamaran tunangan lah, dodol."
"Serius lo Ra? Udah ngga usah dijawab, gue patah hati Ra. PA-TAH HA-TI!" Kata Devi mendramatisir keadaan.
"Mundur aja kali Dev, calon tunangannya Bang Gio itu kembang desa. Mohon maaf nih ya, ngga sebanding lah sama lo." Kirana sangat senang bisa menjahili sahabatnya yang jauh lebih jail dibandingkan dirinya.
"Sialan lo Ra, sahabat sendiri bukannya dikasih jalan pintas buat jadi saudara malah dihina-dina." Devi memajukan bibirnya pertanda marah.
"Uuu tututu iya iya maaf. Gimana sebagai permintaan maaf gue, gue ajak lo ke acara tunangannya Bang Gio? Lumayan banyak makanan gratis."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pengagum Rahasiamu
Teen Fiction[SELESAI] "Semua yang kita harap, tidak sepenuhnya berakhir seperti yang diharapkan. Terkadang, membiarkan takdir yang mengambil alih semuanya adalah pilihan yang tepat." * Kirana Putri Pratama, gadis manis yang memiliki tubuh sedikit berisi, sedang...
