07 - Pertandingan

5.3K 404 5
                                        

Jam istirahat makan siang telah berbunyi banyak siswa berhamburan keluar kelas entah untuk ke kantin ataupun hanya sekedar keluar kelas untuk menghilangkan penatnya pikiran.

Lain halnya dengan Sean, ia tetap duduk dengan pikiran tak tenang di kursinya. Segala yang ada di pikirannya tetap sama. Tetap terfokuskan pada pembicaraan antara dirinya dan Mommy-nya malam itu.

"Se, dispen anak-anak udah ada kan?" Candra membuka suara untuk menghentikan kegiatan Sean yang sama sekali tidak berguna itu.

"...."

"Se?" Ulang Candra memanggil nama Sean.

"E-eh iya ada apa?"

"Lo kenapa sih? Gue tanya malah ngelamun aja." Sebenarnya, tidak sulit untuk Candra mengerti apa yang Sean pikirkan. Pertama, Sean dan dirinya sudah menjalin persahabatan sejak mereka SMP, jadi mudah untuk Candra mengenali berbagai macam ekspresi Sean, yang lebih banyak datarnya tentu saja. Kedua, karena Candra memang benar-benar tahu apa yang tengah dipikirkan sahabatnya. Apalagi kalau bukan masalah perjodohan yang memang benar Mommy Sean inginkan. Bahkan Sean sendiri yang cerita kepadanya.

"Lo tanya apa tadi?" Bahkan setelah tertangkap basah sedang melamun pun, Sean masih bisa menanggapinya dengan datar.

"Itu dispen anak-anak, udah siap kan? Sisa 3 hari lagi, Se." Ucap Candra mengingatkan. Tanpa menunggu jawaban Sean ia kembali melanjutkan, "Duh, ngga sabar banget gue pengen ngeliat muka-muka songong anak Xavier pada menitihkan air mata kekalahan."

Sean tersenyum tipis menanggapi ucapan sahabat karibnya itu.
"Udah, paling nanti juga nyampe sini."

Tepat setelah Sean mengatakan hal tersebut, seseorang datang menghampiri keduanya.

"Selamat siang Kak, ini dispen buat Kak Sean sama Kak Candra. Oh iya, tadi Pak Bekti juga titip pesan katanya Kak Sean disuruh ke ruang guru abis istirahat ini." Kata seorang gadis yang Sean dan Candra ketahui adalah adik kelasnya yang ikut tanding sebagai tim inti putri.

"Hm, thanks ya." Jawab Sean.

Gadis itu lalu menganggukkan kepalanya pelan dan lantas pergi setelah sebelumnya pamit untuk kembali melanjutkan tugasnya mengantar surat dispensasi ke kelas lainnya.

"Asik bener dah, dispen 2 hari. Berarti besok kita ngga ikut ulangan fisika dong?" Tanya Candra dengan senyum yang lebar dan mata yang berbinar.

Sean menanggapinya dengan anggukan. Ia merasa sahabatnya sangat aneh. Padahal yang ia tahu, Candra adalah orang ter-ambis yang ia kenal waktu di SMP. Tapi, lihatlah kelakuannya yang seratus delapan puluh derajat berbeda ketika mulai masuk SMA.

Teett teett teett...

"Ndra, lo langsung ke lapangan aja. Gue ke ruang guru dulu."

"Oke deh."

Sesaat Sean mengedarkan pandangannya pada ruangan di depannya mencari seseorang yang memintanya untuk bertemu. Edaran matanya berhenti menatap seorang pria dewasa tengah duduk dengan kaos polo dan celana training sedang berbicara pada dua orang siswi yang masing-masingnya membawa tumpukan beberapa buku. Sean berjalan mendekat ke arah pria tersebut dan memposisikan dirinya di belakang gadis bertubuh gempal yang tepat berada di depannya.

"Ya sekiranya itu saja yang perlu kalian persiapkan. Dan jangan lupa untuk minta ketua kelas kalian  mendata siswa-siswa yang bisa hadir untuk acara itu. Bisa dipahami?"

"Bisa Pak." Jawab dua gadis tersebut serempak.

"Kalau begitu, kita izin kembali ke kelas Pak." Ucap gadis yang bertubuh kurus. Sambil menyalimi tangan Pak Bekti lalu diikuti gadis gempal setelahnya.

Pengagum RahasiamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang