"Kira-chaan!" Suara yang sengaja dilembut-lembutkan oleh Yamada dengan nampan berisi makanan ringan dan air putih dingin di tangannya.
"Ada apa sih Yamadaaa." Jawab Kirana sambil merentangkan kedua tangannya malas.
"Aku mau minta tolong."
"Tolong apa?" Tanya Kirana sambil mengubah posisi duduknya menjadi tiduran di sofa.
"Bantu aku packing buat nanti malam." Kata Yamada dengan sedikit terbata.
"Yamada, jangan bilang kamu belum packing sama sekali." Ucap Kirana masih dengan memejamkan mata di atas sofa.
"Ya seperti itulah kenyataannya."
Kirana pun spontan bangun dari posisi rebahannya menjadi berdiri dan menatap tajam ke arah Yamada.
"ASTAGA YAMADAAA! INI UDAH SORE, DAN KAMU MASIH BELUM PACKING?"
Kirana pun menarik tangan Yamada menuju kamar pria itu. Pantas saja, Yamada memintanya untuk datang ke rumah pria itu sepulang dari kampus.
"Ambil koper, keluarin baju yang sekiranya perlu untuk kamu bawa, SEKARANG!"
Tidak ada yang bisa membantah Kirana saat auranya memerah seperti saat ini. Yamada yang sudah tahu bagaimana bahayanya temannya ketika marah itu pun dengan kecepatan cahaya mulai mengambil apa yang Kirana minta.
Jangan salahkan Kirana yang emosian kali ini. Disamping raga dan pikirannya yang lelah di sekolah dan restoran, hatinya pun masih tak karuan mengingat ia akan kembali ke Indonesia. Padahal ia sudah membayangkan akan numpang mandi di kolam air panas milik keluarga Yamada. Tapi kenyataannya, sekarang ia harus membantu tuan rumah yang dikenal tidak bisa beberes itu untuk mempersiapkan keperluan untuk keberangkatan nanti malam. Ingat, nanti malam. Dan saat ini, matahari sudah mulai membenamkan dirinya.
Kini Kirana tengah sibuk dengan koper dan beberapa pakaian di depannya. Jangan lupakan beberapa pasang pakaian di tangan sang empunya.
"Ngga usah bawa baju banyak-banyak." omel Kirana.
"Tapi Kira-chan."
"Yamada, Indonesia negara beriklim tropis. Ngga akan ada salju kaya di Jepang. Sekarang, masukkin lagi pakaian musim dinginnya ke lemari."
Setelah memilah dan melipat baju mana yang cocok dibawa oleh Yamada, Kirana pun mulai menatanya ke dalam koper sembari menanyakan kembali ke Yamada tentang keperluan lainnya.
"Yakin, udah ngga ada yang kelupaan?"
Yamada hanya mengangguk lemas merespon pertanyaan Kirana yang bernada tinggi seperti suara ibu tiri Cinderella yang melarang Cinderella untuk pergi ke pesta dansa.
"Terima kasih Kira-chan."
Kirana menoleh seketika ke arah Yamada.
"Hanya terima kasih?"
"Lalu?"
"Aku mau ramen kuah dengan kepedasan sedang dan topping wagyu slice ada di meja makan setelah aku selesai berendam air panas."
"Oh ya, aku pinjam kolam pemandianmu ya. Satu lagi, aku akan selesai dalam 30 menit. Jadi, jangan ganggu aku." Lanjut Kirana.
***
Suasana bandara yang tidak terlalu ramai cukup memudahkan tiga muda-mudi berbeda kewarganegaraan itu untuk menemukan pintu keberangkatannya.
"Ra, gue ke toilet dulu ya."
"Jangan lama-lama Yuk. Setengah jam lagi pesawat kita mau berangkat."
Ayu yang sudah tak tahan ingin buang air kecil pun hanya bisa membalas ucapan Kirana dengan acungan jari jempolnya.
Kirana dan Yamada sendiri masih duduk di kursi tunggu. Yamada yang sibuk dengan ponselnya pun dengan Kirana yang sibuk memainkan cincin spesial di jari manisnya.
Ya, cincin spesial dari orang yang spesial pula.
"Hi Yamada."
"Jack?"
Mendengar nama 'Jack' disebut oleh Yamada, Kirana dengan spontan mengangkat kepalanya untuk memastikan.
"Hi Kirana."
"Oh, H-hai Jack." Jawab Kirana dengan senyum canggungnya.
"Where you guys will go?" Tanya Jack.
"Indonesia. And you Jack?" Jawaban dan pertanyaan kembali dilontarkan oleh Yamada. Bukan tanpa alasan Yamada bertanya, melihat Jack membawa satu koper di tangan kirinya.
"I will back to Paris. I want to spend my holiday with my family." Kata Jack sambil sesekali matanya mengarah pada Kirana.
"Wow, it might be fantastic holiday. Safe flight, Jack." Lagi, Yamada lah yang menjawab setiap perkataan Jack.
"You too, Yamada. And also you Kirana."
"Hm ya, safe flight too Jack." Jawab Kirana.
"Kirana, i've something for you." Kata Jack, sambil mengeluarkan liontin bermata hijau zamrud dari sakunya.
Kirana pun tidak bisa berkata-kata, apakah Jack akan melamarnya di tempat umum? Gila saja, pasti akan sangat memalukan jika ia menolak lamaran pria itu.
"This is my mom's necklace. She said if i found my love, i should give it to her. And now, i've finally meet you. My love."
Tuh, kan.
Bukan hanya Kirana yang kehilangan kata-kata, bahkan Yamada pun tidak sanggup untuk melontarkan pertanyaan di benaknya kepada teman satu fakultasnya itu.
"Jack, i-i am sorry. I can't."
Kirana lantas menunjukkan cincin di jari manisnya ke hadapan Jack.
"i am officially engaged with my fiance." Biarlah kali ini Kirana sedikit mengada-ngada. Tapi tidak salah juga. Bukankah ia memang sudah dijodohkan dengan Sean?
"I know it. But, may you take this necklace for me? Uhm maybe we can't be lover, but we can be friend, right?"
Kirana melirik ke arah Yamada dalam seakan meminta solusi tanpa suara. Sedangkan yang diminta hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Di situasi seperti ini ia sangat membutuhkan Ayu. Sudah hampir 10 menit gadis itu tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
'...maybe we can't be lover, but we can be friend, right?'
'Okay, as a friend.' Kata Kirana dalam hati.
Kirana mengambil liontin dari tangan Jack. Dan di waktu yang bersamaan suara petugas bandara untuk keberangkatan ke Paris pun terdengar.
"Thank you Kirana, please keep those necklace as you keep this friendship. Bye." Sambil melambaikan tangannya, Jack mulai berjalan menjauhi Kirana dan Yamada. Hingga sosoknya tak lagi terlihat, Yamada langsung membombardir Kirana dengan pertanyaannya.
"Kira-chan. Apakah kamu bisa jelaskan semuanya?" Tanya Yamada.
"Sebenarnya-"
"Wih ada apaan nih, kok mukanya tegang bener. Eh kalung siapa nih Ra. Cakep amat." Suara Ayu yang tiba-tiba menginterupsi membuat Yamada mencebikkan bibirnya.
Kirana yang tidak ingin menyimpan semuanya pun mulai menceritakan kepada Yamada dan Ayu.
* * *
Hi,,, pakabz nich? *alay
Siapa yang udah ngga sabar pengen cepet-cepet partnya Sean-Kirana?
Haduh, aku ikut deg-degan loh.
Btw makacii buat yg masih dukung cerita author labil ini sampe sekarang. Semoga seterusnya diberikan kesehatan pikiran dan badan aamiin.
Luv,
Azliana Astari 🌻
KAMU SEDANG MEMBACA
Pengagum Rahasiamu
Teen Fiction[SELESAI] "Semua yang kita harap, tidak sepenuhnya berakhir seperti yang diharapkan. Terkadang, membiarkan takdir yang mengambil alih semuanya adalah pilihan yang tepat." * Kirana Putri Pratama, gadis manis yang memiliki tubuh sedikit berisi, sedang...
