Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Jiana. Hari kelulusannya sebagai mahasiswi dan hari dimana dirinya resmi memiliki gelar S.T di belakang namanya. Ya, Jiana mengambil jurusan Teknik, lebih tepatnya Teknik Kimia. Entahlah selanjutnya akan diapakan gelarnya itu di masa depan. Yang penting dia sudah tidak pusing berurusan dengan skripsi dan tetek bengeknya lagi.
Saat ini Jiana berada di dalam mobil, bersama dengan Yoga. Berencana untuk pulang ke rumah setelah menyelesaikan semua urusannya. Sebenarnya Jiana ingin lebih lama mengobrol dengan teman-temannya, tapi karena keadaan tubuhnya sekarang tidak kemungkinan, Jiana menunda. Tadi saat namanya dipanggil saja Jiana mati-matian menahan mual yang datang tiba-tiba. Yoga juga tidak mengizinkan lebih lama, menghawatirkannya yang beberapa hari ini sibuk ke sana kemari menyiapkan keperluan wisudanya tanpa henti.
Jiana menyenderkan badan lelahnya pada kursi mobil yang posisinya setengah terlentang. Tangannya bergerak mengelus perutnya yang mulai terlihat menonjol di usia kandungan yang ke enam belas minggu.
Yoga menatap Jiana sebentar, "Cari makan dulu, ya?"
Jiana hanya mengangguk mengiyakan. Untuk berbicara pun rasanya tidak bertenaga.
Di perjalanan tidak ada pembicaraan apapun selain menanyakan menu apa yang diinginkan Jiana untuk dimakan.
Keduanya sampai di rumah pukul dua belas siang.
"Jiana, ganti baju dulu. Abis itu makan," kata Yoga yang melihat istrinya langsung berbaring di atas kasur bukannya berganti pakaian.
"Mas yang suapin, ya?"
"Iya."
Sejak awal-awal kehamilannya, Jiana memang selalu meminta disuapi terus saat makan. Katanya jika Yoga yang menyuapi, dirinya jadi bisa menelan makanan yang masuk. Tidak dimuntahkan.
Jiana merentangkan tangannya, mengkode untuk ditarik agar bisa bangun dari kasur. Yoga menuruti, menarik pelan kedua tangan istrinya sampai duduk tegak.
Beberapa detik duduk diam, Jiana akhirnya menurunkan kakinya ke lantai. Mengganti pakaiannya dengan kaos oblong bewarna merah muda dan celana tidur panjang senada. Setelah itu melangkahkan kaki ke kamar mandi karna ingin cuci muka sekalian buang air kecil.
Beberapa saat di kamar mandi, tiba-tiba Jiana berteriak memanggil Yoga.
"MAS!"
Yoga yang berada di dapur menyiapkan makan siang, langsung berlari menghampiri. Di tangga terakhir, Yoga melihat Jiana berjalan ke arahnya dengan ekspresi panik.
"Aku ngeflek," katanya menahan tangis.
Yoga diam sebentar menatap Jiana serius, kemudian berjalan cepat ke kamar mengambil dompet dan jaket.
Yoga menyerahkan jaket yang diambilnya, "Pake. Kita ke rumah sakit sekarang."
-Husband-
Setelah ke rumah sakit dan dokter mengatakan jika istrinya kelelahan, Yoga tidak membiarkannya menyentuh alat-alat apapun di rumah. Seperti alat dapur, kebersihan, dan lainnya. Katanya, urusan rumah biar Yoga yang menangani. Jiana hanya harus fokus pada kesehatannya saja. Jiana juga tidak diperbolehkan untuk beranjak dari kasur kecuali ke kamar mandi. Apalagi ke lantai bawah, karna naik turun tangga juga bisa jadi penyebabnya. Bahkan makanan semua Yoga yang buat langsung, sesuai dengan anjuran dokter tentunya.
Awalnya Jiana senang-senang saja. Jarang sekali Yoga mau mengurus rumah sampai segitunya dan mau-mau saja dimintakan tolong. Tapi lama-kelamaan, Jiana jadi jengah juga karena semua ini sudah bertahan selama satu minggu. Bayangkan, selama satu minggu itu Jiana tidak boleh keluar rumah sama sekali. Jangankan keluar rumah, ke kamar mandi saja Jiana dibuntuti. Untuk ukuran dirinya yang tidak bisa diam di satu tempat di waktu yang lama, itu termasuk penyiksaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
HUSBAND
General FictionYoga Agam Nugraha terlalu serius untuk Jiana Ranasya yang main-main. [cerita super ringan ⚠️] [complete] Start: 20 Maret 2020 Finish: 17 April 2021 #1 in sumji 🥇 #1 in yeochin 🥇 By: Oumjang
