Raffa duduk di kursinya dengan mata yang menatap ke arah meja. Cowok itu memainkan tangannya, helaan napas terdengar. "Dev, menurut lo mendingan ngajak pacaran, atau langsung lamar?" tanya Raffa.
Deva yang awalnya sibuk mengecek beberapa berkas, langsung mendongak menatap Raffa. "Punya usaha tetap dulu, Pak."
"Gue kan udah punya usaha tetap."
"Tapi Bapak gak bisa memanfaatkan itu dengan baik, Pak. Bapak masih suka kabur-kuburan."
Raffa mendengkus kesal mendengar jawaban sekretarisnya itu. "Julit banget lo, Dev."
"Eh tapi, menurut lo gue udah cocok gendong anak belum?"
"Bapak hamilin anak orang?!" Deva memekik kaget.
Raffa melotot, atas dasar apa Deva manuduhnya begitu?
"Enak aja! Gue gak mungkin hamilin anak orang, kecuali kalau udah nikah. Sekata-kata, lo. Mau gue pecat?!" Raffa melotot ke arah Deva.
Raffa tertawa, "Laga gue mau mecat orang. Gue aja kerja gak bener." Ia terkikik geli.
"Saya gak jadi dipecat kan, Pak?"
"Lo mau gue pecat?" tanya Raffa heran.
Deva menggeleng kuat. Ada-ada saja.
Raffa memilih meraih ponselnya, cowok itu menatap foto dirinya dan juga Lily saat SMA dulu yang tertera di layar ponsel.
"Ternyata waktu SMA gue ganteng. Sekarang makin ganteng, gak heran Lily gak bisa move on dari gue," ujar Raffa kepedean.
Deva menggeleng pelan mendengarnya. Ia memilih kembali pada pekerjaannya saja.
"Tapi, Dev, bener kata lo. Gue harus punya pekerjaan tetap, gue mau mulai fokus sama kerjaan gue, biar bisa nikah sama Lily. Eh, nanti lo gue sewa jadi tukang masak rendang, ya!"
"Terserah Bapak aja, Pak."
***
Raffa masuk ke dalam rumahnya dengan senyum lebar. Hari sudah sore, Raffa baru saja pulang.
Di ruang tengah, Fatur tengah duduk bersama Dena. Mereka sama-sama heran melihat putranya yang senyum-senyum sendiri begitu.
"Assalamualaikum, Mama, Papa." Raffa mencium pipi Dena dan duduk di sebelahnya.
"Waalaikumsalam."
Raffa berdehem pelan. Cowok itu membuka jasnya, dan menyimpannya di kursi lain.
"Raffa mau ngomong."
"Ngomong aja, Raf. Pakai izin segala, biasanya juga ngomong tinggal nganga mulut kamu." Fatur menyahut.
Raffa tertawa seraya memukul pundak Fatur, sok asik. "Hahaha … lucu banget Papa."
"Raf, kamu kerasukan? Jadi ngeri." Fatur menepis tangan putranya itu.
Raffa menghentikan tawanya. Tatapannya berubah kesal. "Apaan, sih?! Gengsi dong, masa orang ganteng kerasukan. Gak banget!"
"Udah, kamu mau ngomong apa?" Dena menengahi keduanya.
Raffa meraih tangan Dena. Ia tersenyum sangat manis, "Raffa mau nikah."
"Hah?!" Riffa yang baru saja muncul dari arah dapur, langsung menganga tak percaya mendengarnya.
Raffa tak melunturkan senyumnya sama sekali. "Kenapa? Mama setuju, kan? Mama mau kan gendong cucu?" Raffa menaik turunkan alisnya.
"Lo hamilin anak orang, ya?" Riffa menunjuk wajah Raffa menuduh.
"Heh! Gengsi dong! Gak ada ceritanya gue hamilin anak orang duluan. Gak ada otak lo!" Raffa melempar jasnya ke arah Riffa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gengsi dong 2 [End]
Teen FictionIntinya ini kelanjutan cerita Gengsi dong! Ingin menikah, tapi belum punya modal. Si doi juga masih kuliah. Dipaksa jadi CEO, alhasil hobinya ngerusuh. Ini adalah kelanjutan kisah Raffa. *** "Heran gue sama lo, ngikut mulu gue pergi." "Kan gue the...
![Gengsi dong 2 [End]](https://img.wattpad.com/cover/260108472-64-k421168.jpg)