Bintang membantu Raffa mendorong kursi rodanya. Hari ini Raffa sudah boleh pulang, akan tetapi … Lily masih berada di kampusnya, dan Boby, masih sibuk menerima job pemotretan. Itu sebabnya saat ini hanya Bintang yang menemani Raffa.
Raffa menatap suasana rumahnya. Cowok itu menghela napas pelan, "Tang, lo bisa dorong kursi roda naik tangga gak? Gue pengen tidur di kamar gue."
"Gak usah banyak tingkah. Tidur di kamar bawah aja," sahut Fatur yang baru saja masuk. Di belakangnya, ada Deva yang berjalan mengikuti langkahnya.
Raffa sontak mengembangkan senyumnya. Cowok itu melambaikan tangan, "Dev!"
"Pak." Deva tersenyum sopan.
"Ayo, Dev, ke ruangan saya," ajak Fatur.
Raffa memicingkan matanya. "Ngapain, Pa?"
"Kamu mau Mama baru, Raf?" Fatur balik bertanya.
Raffa melotot, cowok itu menggeleng kuat. Enak saja!
"Pa! Deva terlalu muda, dia cocoknya sama Raffa!" jawab Raffa.
Deva dan juga Bintang menatap kaget ke arah Raffa. Sadar akan hal itu, Raffa menatap keduanya secara bergantian. "Apa? Gengsi dong! Gitu aja kaget. Padahal maksud gue Deva cocoknya sama orang sepantaran gue."
"Kirain," sahut Bintang pelan.
"Kenapa lo? Suka juga sama Deva?"
"Juga?" Deva menatap Raffa heran.
Raffa menghela napasnya pelan. "Pa, Raffa pinjem slogan," izin Raffa.
Fatur melipat kedua tangannya di depan dada. Pria itu menatap putranya yang tengah menatap songong ke arah Deva.
"Jangan Geer! Suka yang gue maksud, gue suka banget curhat sama lo. Lo ke mana aja, sih? Kemarin gue telepon gak diangkat sama sekali!" cerocos Raffa.
Deva tersenyum tipis. Bintang yang melihat itu, tentu saja merasa malu. Bisa-bisanya, Raffa bertingkah begitu di depan seorang gadis.
"Ayo, Dev," ajak Fatur.
Deva memilih mengikuti langkah Fatur tanpa menjawab pertanyaan Raffa.
Raffa berdecak kesal. Cowok itu menghela napasnya dan memilih diam.
"Lo suka Deva?" tanya Bintang.
"Jangan banyak tanya. Lo balik sana," usir Raffa tak santai.
Bintang mengedikan bahunya tak acuh. Cowok itu melipat kedua tangannya di depan dada seraya menatap tajam ke arah Raffa. "Sama-sama."
"Mau banget dapet ucapan makasih dari gue?" tanya Raffa.
Bintang berdecak pelan. Cowok itu akhirnya memilih melangkah pergi meninggalkan Raffa. "Bilang Tante Dena, gue balik."
"Nyokap gue gak akan nyari lo!" sahut Raffa.
Setelah Bintang tak lagi terlihat, Raffa memilih menyentuh Roda dan mendorongnya pelan agar melaju.
"Ribet banget!" kesal Raffa.
Tak lama, Deva dan Fatur keluar dari dalam ruangan. Mereka terlihat berjabat tangan. Setelahnya, pandangan Deva teralih pada Raffa yang terlihat kesusahan.
Gadis itu memilih pamit pada Fatur dan membantu Raffa dengan cara mendorong kursi rodanya. "Biar saya bantu, Pak."
"Eh? Boleh-boleh," kata Raffa.
"Ke ruang tamu, Dev. Gue mau ngobrol sama lo," ujar Raffa.
Fatur yang melihat itu, memilih masuk ke dalam kamarnya. Biarkan saja mereka mengobrol sesuka hati, saat Fatur masih muda dulu, ia juga tidak suka diganggu ketika tengah bersama teman-temannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gengsi dong 2 [End]
Teen FictionIntinya ini kelanjutan cerita Gengsi dong! Ingin menikah, tapi belum punya modal. Si doi juga masih kuliah. Dipaksa jadi CEO, alhasil hobinya ngerusuh. Ini adalah kelanjutan kisah Raffa. *** "Heran gue sama lo, ngikut mulu gue pergi." "Kan gue the...
![Gengsi dong 2 [End]](https://img.wattpad.com/cover/260108472-64-k421168.jpg)