Lily duduk di teras rumahnya sendirian dengan kaki yang ia peluk. Matanya menatap ke arah langit malam.
Kemudian, Lily menunduk dan menjatuhkan pipinya di lutut. Helaan napas berat terdengar. Lily tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah Raffa pergi ke Amerika nanti.
Beberapa waktu.
Tapi sampai kapan? Lily berharap Raffa bisa sembuh dalam waktu cepat, Lily berharap kaki Raffa segera pulih dan Raffa bisa berjalan lagi seperti dulu.
Tapi untuk jarak sejauh itu, entah kenapa rasanya begitu berat. Lily dan Raffa sudah berpisah beberapa tahun, terjadi konflik, dan sekarang akan kembali berpisah?
Sebuah motor memasuki gerbang rumahnya. Lily mengerutkan alisnya kala mendapati Bintang yang saat ini sudah memarkirkan motornya tepat di halaman rumah Lily.
"Tang?"
"Ada yang mau gue omongin," ujar Bintang seraya melepas helm yang ia kenakan.
Cowok itu turun kemudian duduk di samping Lily. "Lo lagi sedih, Ly?"
"Mau minum apa, Tang?" Lily mengalihkan pertanyaan Bintang.
Bukannya menjawab, Bintang semakin memicingkan matanya. "Lo udah tahu Raffa mau ke Amerika?"
"Tau."
"Lo tahu perasaan Raffa buat siapa?"
"Ta— gue gak tahu," jawab Lily akhirnya.
Bintang meluruskan kakinya. Tangannya ia simpan di belakang tubuhnya dan menatap ke arah langit malam. "Perasaan Raffa buat lo, Ly. Lo salah paham sama cincin itu."
"Tapi tadi lo bilang, Raffa suka Kak Deva?"
"Suka bukan berarti cinta. Selama ini, Raffa suka curhat sama Deva, Ly. Deva bilang, selama mereka lagi bareng yang keluar dari mulut Raffa ya nama lo."
Lily diam, gadis itu menunduk. "Gue udah gak pantas buat Raffa."
"Lo nyerah?"
"Gue gak nyerah, gue ikhlas Raffa sama siapa aja. Yang penting—"
"Itu lo nyerah. Lo cuman berlindung dari kata ikhlas, Ly. Bohong banget kalau lo ikut seneng lihat Raffa seneng sama cewek lain. Gue pernah rasain itu, rasanya bukan seneng, tapi nyesek." Bintang memotong ucapan Lily.
Lily menunduk. Bintang benar.
"Kemarin, lo rela nunggu Raffa di ruang ICU sampai lo ketiduran. Lo juga jaga dia sampai sore, tadi. Lo gak mikirin kesehatan lo sama sekali. Apa lo yakin mau nyerah gitu aja?"
Lily menggeleng, "Tang, apa yang gue lakuin tadi gak sebanding sama perjuangan Raffa buat—"
"Itu lo tau. Raffa udah perjuangin lo, Ly. Kalau Raffa gak bisa wujudin apa yang dia mau buat dapetin lo. Kenapa sekarang gak lo aja yang wujudin semuanya?"
Lily menghela napasnya pelan. Bintang lagi-lagi benar. "Gue gak mau janji, tapi gue bakal berusaha selalu ada buat Raffa."
"Itu Baru sahabat gue." Bintang merangkul bahu Lily dan mengacak puncak kepalanya.
Lily tersenyum. Bintang, dia selalu ada ketika Lily berada di situasi seperti sekarang. Bintang selalu menjadi orang pertama yang menasehati Lily dan memberi solusi.
Bintang sudah seperti Abang baginya. Padahal, Bintang anak tunggal, tapi entah kenapa Bintang terlihat begitu dewasa.
Mungkin, karena Papanya Bintang juga memiliki sikap yang sama sepertinya.
"Gue ke rumah sakit lagi, ya? Deva sendirian."
"Udah sadar?"
"Lo pikir gue tahu dari mana soal Raffa yang suka sama lo kalau Deva belum sadar?" tanya Bintang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gengsi dong 2 [End]
Teen FictionIntinya ini kelanjutan cerita Gengsi dong! Ingin menikah, tapi belum punya modal. Si doi juga masih kuliah. Dipaksa jadi CEO, alhasil hobinya ngerusuh. Ini adalah kelanjutan kisah Raffa. *** "Heran gue sama lo, ngikut mulu gue pergi." "Kan gue the...
![Gengsi dong 2 [End]](https://img.wattpad.com/cover/260108472-64-k421168.jpg)