Raffa Baru saja selesai meeting. Cowok itu benar-benar bertekad membuktikannya pada Fatur. Sekarang, ia tengah menyeruput kopi susu di meja kerjanya.
Fatur tadinya akan berangkat ke kantor. Tapi Raffa melarangnya, kata Raffa, ia ingin belajar sendiri. Fatur hanya tinggal menyaksikan dan menerima hasil saja.
"Yo, Raffa! Mamen! Abang ipar gue!"
Raffa menyemburkan kopinya kaget. Cowok itu berbalik, matanya membelak kala mendapati Boby—Sahabat semasa sekolahnya dulu, bersama Bintang.
Keduanya tanpa permisi duduk di sofa. Bintang yang kalem, dan Boby yang memasang wajah menyebalkan.
"Bang, lo pake jas gitu mirip—"
"Mr. Bean? Gak usah panggil gue Abang, sialan! Geli." Raffa berdecak kesal saat Boby memanggilnya dengan sebutan Abang.
"Bang, belai Dedek, Bwang!" ucap Boby.
Bintang sontak mendorong bahu Boby dengan kuat. Wajahnya terlihat kaget dengan apa yang Boby ucapkan tadi.
Bruk
"Asstagfirullah, Aa Bintang! Pantat gue sakit, nih!" Boby beranjak, ia mengusap bagian sakitnya dengan pelan.
Bintang mengedikkan bahunya tidak acuh, "Kelakuan lo mirip Tante-Tante kurang belaian. " Bintang berdecak sebal.
"Kan gue emang kurang belaian. Kurang belaian dari Riffa, aw! Raf, restuin gue ya sama Riffa, nanti lo gue kasih sepatu. Mau warna apa? Hijau? Kuning? Biru muda? Atau pink? Sebutin aja!"
Raffa melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menggeleng, "Gak! Lo kira gue Abang apaan yang jual Adiknya demi sepatu?"
"Lagian lo ketemu dia di mana sih, Tang, Obeng, Gergaji? Bisa-bisanya lo bawa Boby ngepet ke sini." Raffa berdecak.
Boby yang tidak terima disebut Boby ngepet, langsung menggebrak meja dengan kuat. "Jaga omongan lo! Sini maju, berantem kita!" Boby memasang kuda-kuda seolah bersiap menghajar Raffa.
Raffa meraih buku tebal di mejanya. Tanpa belas kasihan sedikit pun, Raffa melayangkan buku itu pada Boby.
Dugh
"PALA GUE!" Boby memekik.
"Heh! Gengsi dong, datang ke kantor orang malah ngerusuh. Gak sekalian jadi topeng monyet aja lo di depan?" tanya Raffa tak santai.
Boby meraih buku tebal yang Raffa lempar tadi. Ia bersiap melemparnya ke arah Raffa.
"Gak gue kasih restu lo sama Riffa!"
Boby mengurungkan niatnya. Akhirnya, ia memilih duduk kembali di samping Bintang. "Tang, masa gue diancem sama Anak Gengsi?" bisik Boby.
Pintu ruangan Raffa terbuka. Di ambang pintu, Deva menatap kaget saat tahu Raffa tengah kedatangan tamu.
"Eh, Maaf. Saya—"
"Wah! Gak bisa dibiarin! Raf, lo betah di kantor gara-gara ini cewek? Gue laporin lo ke si Lily. Gak jadi nikah, mampus, lo!" teriak Boby rusuh.
Bintang menarik Boby agar cowok itu kembali duduk. Matanya melirik tajam ke arah Deva yang tersenyum kikuk ke arahnya.
"Dev, bawain air comberan 2 gelas buat mereka," kata Raffa pada Deva.
"Eh, Jangan! Gue mau es jeruk, es kelapa, cilor, terus lumpia basah, seblak, sama—"
"Air putih aja, Dev." Raffa memotong ucapan Boby.
Deva mengangguk, akhirnya, ia memilih kembali ke luar untuk membawa air putih.
Raffa beranjak, cowok itu berjalan dan duduk di antara Boby dan Bintang. "Tang, Obeng, Gergaji, lo mau gak gue jodohin sama si Deva? Lumayan, cakep, rajin, punya penghasilan sendiri, terus—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Gengsi dong 2 [End]
Teen FictionIntinya ini kelanjutan cerita Gengsi dong! Ingin menikah, tapi belum punya modal. Si doi juga masih kuliah. Dipaksa jadi CEO, alhasil hobinya ngerusuh. Ini adalah kelanjutan kisah Raffa. *** "Heran gue sama lo, ngikut mulu gue pergi." "Kan gue the...
![Gengsi dong 2 [End]](https://img.wattpad.com/cover/260108472-64-k421168.jpg)