Dua bulan sudah berlalu, dan Raffa benar-benar membuktikan semuanya pada Fatur. Raffa menjadi rajin, Raffa mulai terbiasa bekerja di kantor Fatur. Bahkan, Fatur sudah jarang datang ke Kantor karna Raffa yang melarangnya.
Fatur juga mendapat laporan dari Deva, perusahaan mengalami kemajuan. Walaupun istilahnya hanya dua atau tiga langkah, tapi itu benar-benar kabar baik untuknya.
Raffa, putranya yang ia kira tidak akan bisa melakukan ini semua. Malah melakukan hal diluar ekspektasinya.
Ya … jika sudah jatuh cinta, memang susah, ya. Segala hal akan ia lakukan. Sama seperti Raffa, nekat melakukan hal yang tak pernah Raffa suka demi Lily.
"Dev, kalau yang ini cakep, gak?" Raffa menyodorkan satu cincin yang ia pilih pada Deva.
Deva memperhatikannya. Gadis itu mendongak menatap Raffa. "Pak, maaf, ini mau disematin di jari jari jempol atau gimana, ya? Besar banget."
Raffa berdecak kesal. "Biar awet, dulu waktu kecil gue sering beli baju yang kebesaran. Biar apa? Biar awet dan bisa gue pake sampai gue besar!" jawab Raffa sewot.
"Tapi ini cincin, Pak. Bukan baju," ucap Deva.
"Kok sewot? Ini mau gue kasih Lily, bukan lo." Raffa menatap ke arah penjaga tokonya lagi, "Nih, yang bener aja! Masa ngasih gue cincin segede gitu? Lo kira calon isteri gue jarinya jempol semua?!"
Deva menggeleng pelan. Tadi marah pada Deva, sekarang marah pada penjaga toko. Bossnya ini sensian sekali.
"Pak, Bapak mendingan tunggu di sana aja. Ini biar saya yang urus."
"Yaudah, yaudah! Yang cakep cincinnya." Raffa langsung berlalu pergi dan memilih menunggu di tempat yang Deva tunjuk.
Deva menghela napasnya pelan. Gadis itu berjalan mendekat ke arah penjaga toko. "Yang tadi ada yang ukurannya lebih kecil, Mbak?" tanya Deva.
"Ada, Mbak. Ini." Dia menyodorkan satu cincin pada Deva.
Deva tersenyum dan mengangguk. "Yang ini aja."
Di lain tempat, Raffa berusaha menghubungi Lily. Namun, gadis itu tak mengangkatnya sama sekali.
Setelah dua bulan lamanya, Raffa sudah benar-benar jarang bertemu, dan komunikasi dengan gadis itu.
Setiap pulang bekerja, Raffa selalu merasa lelah dan langsung tertidur. Itu sebabnya Raffa jarang memegang ponsel sekarang.
"Pak."
"Udah?" tanya Raffa.
Deva menganggukkan kepalanya. Setelahnya, Raffa mengajak Deva pergi meninggalkan toko untuk kembali pulang ke rumah mereka masing-masing.
***
Malam harinya, Raffa menjalankan mobil ke arah rumah Lily. Cowok itu tersenyum menatap cincin yang tengah ia pegang.
Saat mobilnya hampir sampai, Raffa mendadak berhenti kala melihat Lily dan juga Azriel yang tengah berdiri di depan rumah gadis itu.
Raffa turun, cowok itu berjalan mendekat dan menatap lurus ke arah kedua insan itu.
"Kamu mau kan jadi pacar aku, Ly?"
Lily tanpa memikirkan apapun, langsung mengangguk dan tersenyum lebar.
Tubuh Raffa melemas saat melihat Lily berpelukan dengan Azriel di depan matanya.
Cowok itu menatap cincin yang masih ia pegang. Setelahnya, ia kembali menatap ke arah mereka.
Raffa terkekeh miris. Sia-sia dirinya berusaha membuktikan semuanya pada Lily.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gengsi dong 2 [End]
Teen FictionIntinya ini kelanjutan cerita Gengsi dong! Ingin menikah, tapi belum punya modal. Si doi juga masih kuliah. Dipaksa jadi CEO, alhasil hobinya ngerusuh. Ini adalah kelanjutan kisah Raffa. *** "Heran gue sama lo, ngikut mulu gue pergi." "Kan gue the...
![Gengsi dong 2 [End]](https://img.wattpad.com/cover/260108472-64-k421168.jpg)