Boby masuk ke dalam kamar Raffa. Cowok itu langsung melompat dan bergabung berbaring bersama Raffa di kasur.
Raffa berdecak pelan. Cowok itu mengambil bantal kemudian melemparnya pada Boby.
"Apaan, sih?!" tanya Boby sewot.
"Gengsi, dong. Dateng-Dateng ngajak ribut!" ujar Raffa.
Boby tercengir lebar. Cowok itu beranjak kemudian merapikan bajunya. "Raf, kencan, yuk!"
"Najis! Gue masih normal."
Boby tersenyum lebar, cowok itu langsung menarik Raffa dan memaksa cowok itu agar duduk di kursi roda.
"E-eh, apa nih?!" Raffa protes saat Boby mendorong kursi roda Raffa ke arah halaman belakang rumah Raffa.
"Bob! Gue tahu Riffa najis sama lo, tapi please! Gue gak mau ya jadi tumbal perasaan lo yang gak kebales!" teriak Raffa panik.
Ya bagaimana tidak panik, Boby membawa Raffa pergi sudah seperti Om-Om mendapat mangsa.
Saat sampai di halaman belakang, Raffa terperangah melihat Bintang dan juga Lily yang sudah memegang tongkat yang biasa dipakai oleh orang-orang sakit semacam Raffa.
Raffa menoleh ke arah Boby. Boby tersenyum, "Surprise!!" teriak Boby sok-inggris.
"Maksudnya apa?" tanya Raffa.
"Ayo, Raf, berdiri." Boby langsung pindah ke depan Raffa dan mengulurkan tangannya.
Raffa masih tidak paham. Cowok itu melirik ke arah Bintang dan Lily pertanda tak mengerti.
Boby berdecak, cowok itu akhirnya meraih tangan Raffa dan mengajak cowok itu belajar berdiri.
"Coba berdiri dulu aja, Raf," kata Boby.
Raffa meringis pelan kala dirinya tak bisa menompang tubuhnya sendiri. Tangan Raffa tersimpan di bahu Boby.
Boby tidak keberatan akan hal itu.
"Udah enakan kakinya?" tanya Bintang.
Raffa mengangguk pelan. Setelahnya, Boby membantu Raffa kembali duduk di kursi roda.
Lily berjalan mendekat. Gadis itu tersenyum dan mengusap bahu Raffa. "Kita belajar pelan-pelan ya, Raf. Gue, Bintang, sama Boby pasti bantu lo biar bisa jalan lagi."
"Nanti, kalau lo udah bisa berdiri tegak, tongkat ini bakal jadi hadiah buat lo." Bintang menunjukan tongkat yang tengah ia pegang.
Raffa mengembangkan senyumnya. Namun, tak dapat dipungkiri, air matanya jatuh tanpa di minta.
"Makasih," ucap Raffa pelan.
Boby langsung merangkul bahu Raffa dari arah samping. "Kita kan sahabat, Raf. Dari kecil kita kemana-mana bareng, gue pengen kita balik lagi kayak dulu. Lo harus sembuh, biar kita bisa main lagi."
Raffa mengusap air matanya. Cowok itu mengangguk pelan. "Gue bakal sembuh. Gue janji, gue bakal bisa jalan dan main lagi sama kalian."
Bintang dan Lily mendekat ke arah Boby dan juga Raffa. Keempatnya berpelukan melepas rasa rindu yang tak pernah mereka rasakan lagi setelah beranjak dewasa seperti sekarang.
"Tapi, apa kalian gak malu temenan sama orang lumpuh kayak gue?"
"Apa kalian gak ngerasa repot bantu gue buat bisa jalan lagi? Apa kalian gak takut orang-orang cibir kalian karena—"
Bintang mengacak puncak kepala Raffa layaknya seorang Abang pada Adiknya.
"Raffa adik Bintang, kalau ada yang ganggu Raffa, mereka berurusan sama Bintang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Gengsi dong 2 [End]
Teen FictionIntinya ini kelanjutan cerita Gengsi dong! Ingin menikah, tapi belum punya modal. Si doi juga masih kuliah. Dipaksa jadi CEO, alhasil hobinya ngerusuh. Ini adalah kelanjutan kisah Raffa. *** "Heran gue sama lo, ngikut mulu gue pergi." "Kan gue the...
![Gengsi dong 2 [End]](https://img.wattpad.com/cover/260108472-64-k421168.jpg)