Dua puluh tiga

5.7K 1.3K 240
                                        

Raffa menatap tangga rumahnya. Ia rindu dengan kamar lamanya, ia ingin tidur di sana lagi.

Kemudian, Raffa menunduk, cowok itu menatap tongkat yang masih setia membantunya untuk berjalan.

Raffa melirik ke kanan dan ke kiri. Sepi, tak ada siapa-siapa.

Senyum di bibir Raffa mengembang, akhirnya, Raffa nekat menaiki tangga untuk sampai ke kamar atas.

Setelah bersusah payah untuk sampai, Raffa akhirnya tersenyum sangat lebar kala matanya menangkap pintu kamarnya.

"Akhirnyaaa!" teriak Raffa senang. Cowok itu memilih masuk dan merebahkan tubuhnya di kasur.

Ia tersenyum lebar. Kemudian, bayangannya bersama Lily tadi, terlintas begitu saja di kepalanya.

Astaga … bisa-bisanya Raffa melakukan hal senekat itu. Padahal, Raffa tipe orang yang paling tidak mau menyentuh gadis lebih dari pegangan tangan.

Tapi … apa yang Raffa lakukan tadi?

Raffa menyentuh bibirnya sendiri. Kemudian, ia meraih ponselnya dan memperhatikan bibirnya. "Gak monyong. Ini gue bakal ketahuan sama Papa gak, ya?" gumam Raffa.

"Bego banget sih, Raf! Untung tadi ada Om Sosis Lompat teriak Razangkan. Kalau enggak? Mampus lo, siapa yang tahu masih ada setan jahat yang maksa gue buat …."

Raffa menggelengkan kepalanya kuat. Kemudian, ponsel Raffa bergetar menampilkan pesan masuk.

Jantung Raffa berpacu dua kali lebih cepat. Ia duduk dan membacanya seraya memastikan.

Boby : Deva kritis, Raf

Raffa buru-buru memasukan ponselnya ke saku celana. Cowok itu meraih tongkatnya dan berjalan tergesa ke arah tangga.

Saking buru-burunya, Raffa sampai tidak memperhatikan jalan karena rasa khawatir.

Sampai saat di mana tongkat Raffa salah pijak, Raffa tergelincir dan terjatuh. Tubuh Raffa berguling ke bawah dengan tongkat yang ikut serta menindih tubuhnya.

Brukh

"Sssh—" Raffa meringis pelan merasakan pusing di bagian kepalanya.

Matanya terasa buram. Namun, ia bisa merasakan cairan kental mulai membasahi dahi sampai keramik.

Raffa berusaha mencari pegangan. Namun, Raffa tak kuat, sampai akhirnya, Raffa memejamkan matanya dan penglihatan semakin gelap.

***

Bintang menatap ke arah ruang operasi dengan perasaan gelisah. Awalnya, Bintang senang kala mendapat kabar bahwa Deva mendapat donor jantung yang cocok.

Tapi, belum sempat Bintang mengatakannya pada Boby, Deva sudah terlebih dahulu masuk masa kritis.

Dan saat ini, Deva masih bertahan di ruang operasi bersama dokter dan juga suster.

Boby masih berusaha menelepon Raffa. Namun, tak ada jawaban. Padahal, sudah terhitung satu jam Boby memberitahu perihal keadaan Deva.

"Tang, Raffa gak bisa dihubungin."

"Tapi chat lo tadi udah dia baca?" tanya Bintang.

Boby mengangguk seraya menyodorkan ponselnya pada Bintang. "Tapi gue telepon beberapa kali dia gak angkat."

"Perasaan gue gak enak," sambung Boby yang sedaritadi merasakan risau yang begitu berlebihan.

Boby akhirnya memilih menepuk pundak Bintang beberapa kali. "Gue susulin dulu."

Gengsi dong 2 [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang