Bintang menatap Raffa tajam. Cowok itu berdecak pelan ketika Raffa sama sekali tak beranjak di samping Deva.
Bahkan, Raffa terlihat tak perduli dengan kepergian Lily yang secara tiba-tiba.
Lain halnya dengan Boby, ia merasa, tatapan Raffa ke arah Deva kosong. Raffa terlihat tengah memikirkan sesuatu dan mengalihkannya dengan cara mengelus tangan Deva.
"Raf, lo gak seharusnya bilang gitu ke Lily. Gue tahu lo sama dia suka bercanda, tapi omongan lo barusan keterlaluan." Bintang mulai membuka suara. Antara kesal karena Raffa tak kunjung menjauhkan tangannya dari Deva, dan juga menyampaikan pendapatnya.
"Nyakitin dia?" tanya Raffa menatap Bintang.
"Ya."
Raffa tertawa pelan. Cowok itu menganggukkan kepalanya. "Iya, keterlaluan banget, ya? Perasaan kan bukan buat candaan ya, Tang?"
Bintang diam. Cowok itu melipat kedua tangannya di depan dada seraya mengangkat sebelah alisnya menatap Raffa.
"Ya."
Boby yang melihat aura permusuhan yang dikeluarkan Bintang, akhirnya memilih menengahi mereka. "Gini, deh, gue tanya sama kalian. Kalian suka Deva?" Boby menatap Bintang dan Raffa secara bergantian.
"Suka." Keduanya serempak menjawab. Namun, tatapan Raffa dan juga Bintang saling terlempar tajam.
"Waduh!" Boby melotot seraya memegang kepalanya merasa pusing.
Baru kali ini persahabatan mereka diuji karena dua di antaranya menyukai orang yang sama.
"Lo bercanda, Raf." Bintang menunjuk Raffa tak terima.
Raffa mengambil tongkatnya, kemudian ia todongkan ke arah perut Bintang. "Gue tusuk lo, Star!"
"Heh, buset! Turunin!" Boby memekik histeris.
Raffa memutar bola matanya kesal. Ia memilih melipat kedua tangannya di dada dan bersandar pada kursi.
"Raf, lo sadar gak? Permasalahan lo sama Lily itu belum selesai, kalian belum pernah bahas kesalahpahaman kalian, kan? Gini deh, gimana bisa lo jalin hubungan sama cewek lain kalau masa lalu lo aja belum bener-bener selesai," kata Boby.
"Gue tahu lo pengalaman karena gak bisa move on dari Adik gue. Tapi sorry, gue gak ada niatan cari cewek lain."
Boby menganga tak percaya. Bukannya tadi Raffa bilang, dia suka Deva? Lantas, suka yang Raffa maksud itu apa jika tidak ada niatan untuk menjalin hubungan dengan gadis itu?
"Raf—"
"Apaan, sih?! Gengsi dong, gue gak suka diceramahin!" Raffa berdecak sebal.
Cowok itu meraih tongkatnya kemudian berjalan ke arah luar. Dengan susah payah, Raffa memilih duduk di kursi koridor rumah sakit sendirian.
"Banyak bacot banget si Boby, dia kira gue cowok apaan nyari cewek secepat itu? Dia kira gue kadal cap badak bercula satu kayak dia?" Raffa mendumel sebal.
Tak lama, sosok yang tidak Raffa inginkan muncul. Cowok itu kembali berdecak kala tuyul Ompong melambaikan tangan ke arahnya.
Jangan lupakan Om Ocong yang tengah melompat ke arahnya.
"Ngapain, sih?!" tanya Raffa.
"Yaelah, Cil. Sensi banget, padahal kita ke sini datang secara baik-baik ya, Pong?" Om Ocong menatap ke arah Tuyul Ompong dengan tatapan sedih.
Si Tuyul Ompong itu mengangguk. "Bener banget! Masa iya kita dimarahin. Om Acil kurang vitamin. KS, nih!"
"KS? Apaan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Gengsi dong 2 [End]
JugendliteraturIntinya ini kelanjutan cerita Gengsi dong! Ingin menikah, tapi belum punya modal. Si doi juga masih kuliah. Dipaksa jadi CEO, alhasil hobinya ngerusuh. Ini adalah kelanjutan kisah Raffa. *** "Heran gue sama lo, ngikut mulu gue pergi." "Kan gue the...
![Gengsi dong 2 [End]](https://img.wattpad.com/cover/260108472-64-k421168.jpg)