Napas Lily terengah, gadis itu membuka kelopak matanya dan segera mencari sesuatu di atas nakas.
Meraih ponselnya, kemudian menatap beberapa pesan masuk dari Boby. Lily menelan ludahnya kasar.
Mimpi itu … benar-benar terasa nyata. Lily menggeleng pelan, "Enggak, Ly, Raffa baik-baik aja," gumamnya.
Setelah meninggalkan Azriel tadi, Lily langsung masuk ke kamarnya dan tidur. Dan kesalnya, ia malah bermimpi Raffa meninggalkannya.
Lily bangun, gadis itu harus mengecek keadaan Raffa sekarang. Semoga saja apa yang terjadi di dalam mimpinya tidak benar-benar menjadi kenyataan.
Masuk ke kamar mandi, Lily mencuci muka terlebih dahulu. Setelahnya, ia mengambil tas dan juga kunci motornya.
Kemudian, Lily pamit pergi pada Mama dan Papanya. Mereka mengizinkan, dan sekarang, Lily sudah berada di perjalanan dengan motor metik yang ia pakai.
Hari sudah malam, tapi seakan tak perduli, Lily memilih melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Ah! Sepulangnya Lily tadi, Lily tidak sempat mengecek ponselnya. Jika ia membaca pesan Boby sedaritadi, mungkin, Lily sudah menemani Raffa sekarang.
"Raffa gak papa, Raffa gak papa." Lily terus bergumam meyakinkan dirinya bahwa Raffa tidak apa-apa.
Selang beberapa menit, Lily sampai di parkiran rumah sakit. Turun dari motor, Lily langsung masuk ke sana menuju ruangan Raffa yang sudah Boby sebut di dalam pesan.
Lily menguatkan hatinya untuk membuka pintu. Namun, belum sempat Lily membukanya, pintu sudah terlebih dahulu terbuka.
Brankar Raffa di dorong oleh dokter dan juga suster. Tubuh Raffa terlihat kejang, bahkan, alat bantu pernapasan kini sudah menempel di Raffa.
"R-Raf—" Lily menelan ludahnya susah payah.
Bagaimana jika mimpinya terjadi?
Lily masih terpaku dan tak bisa melangkahkan kakinya sama sekali. Matanya menatap lurus pada brankar Raffa yang sudah menjauh.
"Ly?"
Lily menoleh, gadis itu menatap Boby yang baru saja memanggilnya. "Raffa, kenapa, By?" tanya Lily pelan.
Boby menatap ke arah Riffa yang tengah berdiri di sebelahnya. Gadisnya itu terlihat syok melihat kondisi Raffa tadi. "Raffa gak papa, percaya sama gue," jawab Boby.
Boby merangkul Riffa dan mengajak Lily untuk pergi menuju ruang ICU.
Saat sampai di sana, mereka duduk di kursi koridor dan menatap cemas ke arah ruangan.
"Tadi sore gue gak buka HP, By. Gue ketiduran," ucap Lily karena takut apa yang ia mimpikan terjadi. Lily tidak mau diusir ketika keadaan Raffa sedang kritis.
Boby mengangguk, "Gak papa. Tadi sore Raffa oke, tapi gak tahu kenapa sekarang tiba-tiba drop lagi."
"Raffa jatuh dari tangga, Ly. Kepala dia kena lagi," sambung Boby.
Mereka memilih diam dan menciptakan keheningan. Boby masih sibuk mengelus bahu Riffa menenangkan gadis itu.
Lily mengigit bibir bawahnya menatap ke arah pintu yang masih tertutup.
"Bintang, mana?" tanya Lily.
"Deva lagi operasi, Bintang nemenin dia."
"Orang tuanya ke mana?"
"Gue gak tahu," ujar Boby. "Tapi kata Bintang, orang tua Deva cuman mau enaknya aja."
"Semacam—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Gengsi dong 2 [End]
Novela JuvenilIntinya ini kelanjutan cerita Gengsi dong! Ingin menikah, tapi belum punya modal. Si doi juga masih kuliah. Dipaksa jadi CEO, alhasil hobinya ngerusuh. Ini adalah kelanjutan kisah Raffa. *** "Heran gue sama lo, ngikut mulu gue pergi." "Kan gue the...
![Gengsi dong 2 [End]](https://img.wattpad.com/cover/260108472-64-k421168.jpg)