Raffa mengerjapkan matanya berusaha menyesuaikan pandangannya. Cowok itu meringis pelan kala merasakan sakit di bagian kepalanya.
Tangan Raffa terulur menyentuh puncak kepala seorang gadis yang tengah tertidur nyenyak dengan posisi duduk.
Hari apa ini? Apa yang terjadi padanya sehingga bisa kembali terbaring di sini? Raffa malah merasa tambah pusing mengingatnya.
"Udah hari kamis ini, Cil. Nanti malem lo mau diungsi ke Amrik."
Raffa mentap ke arah sosok Om Ocong tengah duduk di sofa. "Ini siang, pagi, atau malem, sih?" tanya Raffa.
"Baru siang. Bunga bangke lo kayaknya sakit deh, Cil. Kemarin-kemarin dia yang jaga lo, terus pulang kemarin malem, tadi pagi balik lagi. Terus ketiduran."
Bangun-Bangun bukannya disambut oleh sahabat atau keluarganya, Raffa malah disambut setan.
Raffa berdecak sebal. Namun, ia belum ada tenaga untuk mengeluarkan umpatan.
"Bangunin atuh, kasihan, Om," sahut Tuyul Ompong.
"Gak usah."
Raffa memilih membiarkan Lily tertidur. Tadi Om Ocong bilang, Raffa akan diungsikan ke Amerika nanti malam? Apa itu benar?
"Om, gue ke Amrika ngapain?"
"Biar lo gak banyak tingkah. Biar kaki lo cepet sembuh, lo kalau diem di sini banyak ulah, yang ada bukannya sembuh itu kaki, malah celaka terus-terusan."
Raffa berdecak kesal. Benar juga sih, Raffa terlalu banyak tingkah. Andai saja dia tidak nekat menaiki tangga saat tidak ada orang, mungkin Raffa tidak akan diungsikan ke Amerika seperti apa kata Om Ocong.
Raffa hendak melepas alat pernapasannya. Namun, Tuyul Ompong dengan segera menahannya. "Jangan dibuka."
"Kenapa?"
"Gue yakin mulut lo mau naga, Om."
Raffa benar-benar lemas. Suaranya saja sedaritadi benar-benar kecil dan nyaris tak terdengar.
Ia sebenarnya ingin mengatai dua setan di depannya dengan kata-kata legendnya!
Raffa memilih diam dan kembali berpikir. Jika memanh benar Raffa akan dibawa ke Amerika, Raffa tidak masalah. Toh, dia di sana juga untuk menjalani pengobatan.
Namun, ia takut Lily kembali berpaling pada orang lain. Padahal, Baru saja hubungannya dengan gadis itu membaik.
"Kalau Lily beneran tulus sama lo, dia gak akan ninggalin lo lagi, Cil. Ini buat kesembuhan lo, lo sembuh cepet, ya lo juga bisa nikahin Lily cepet."
Raffa terdiam. Cowok itu tertawa dan mengangguk. "Pinter."
"Yaudah, gue ke sana aja gak papa," sambung Raffa.
"Raffa?"
Raffa menatap Lily. Gadis itu melebarkan matanya kala melihat Raffa yang benar-benar sadar.
Lily tersenyum lebar, ia langsung memeluk Raffa dengan sangat erat. "Raf, lo kenapa sih suka banget bikin orang panik?"
"Biar dipanikin juga sama lo," jawab Raffa.
Lily melepas pelukannya. "Ada yang sakit? Gue panggil Dokter, ya? Gue panggil temen-temen yang lain juga, gue—"
"Ly," panggil Raffa.
Raffa berusaha duduk. Cowok itu melepas alat pernapasannya dengan pelan. Kemudian, ia menatap Lily yang terlihat bingung. "Kalau gue pergi, jangan nunggu gue balik. Kalau gue pulang, gue bakal samperin lo tanpa lo minta."
KAMU SEDANG MEMBACA
Gengsi dong 2 [End]
Novela JuvenilIntinya ini kelanjutan cerita Gengsi dong! Ingin menikah, tapi belum punya modal. Si doi juga masih kuliah. Dipaksa jadi CEO, alhasil hobinya ngerusuh. Ini adalah kelanjutan kisah Raffa. *** "Heran gue sama lo, ngikut mulu gue pergi." "Kan gue the...
![Gengsi dong 2 [End]](https://img.wattpad.com/cover/260108472-64-k421168.jpg)