30

32 5 0
                                        

"Ze, Arik beneran punya pacar baru?"

Mata Zea membulat sebagai respon, apa kata Khansa? "Hah?!"

"Kok lo kaget?" Mata Khansa menyipit curiga, kan harusnya yang heboh itu Khansa, bukan Zea.

"Eng-enggak." Kepala cewek itu menggeleng cepat, panik. "Maksud gue, salah kalau gue kaget gitu? Lagian dia ga ada cerita apa-apa soal cewe baru."

"Enggak ada? Ah, iya juga. Lo kan cuma temen duduk dia." Cuma temen duduk. Oke, terima kasih Khansa sudah mengingatkan.

"Ya, itu maksud gue." Padahal dalam hatinya Zea benar-benar patah. Hancur. Pantas saja belakangan ini Alarikh menjadi lebih jarang mengajak Zea berinteraksi, sudah punya yang baru toh.

"Ah seriusan, gue mau move on aja deh dari dia. Kayaknya susah banget digapai mending sama Rey aja, mumpung jomlo."

"Iya, gue juga, mungkin lebih baik gue enggak usah berharap lagi sama dia. Ya, udah gue tebak sih gue bakal kalah, kan circle dia mulus-mulus," batin Zea antara sedih dan misuh-misuh.

***

"Gila. Lo udah jadian lagi sama cewe lain?" Zea ikut menoleh ke arah Vanka yang tiba-tiba duduk di depannya. Sedangkan Alarikh duduk di tempatnya.

"Eh?" kejut Alarikh terutama ketika Zea ikut menoleh. Rasanya dia tidak tega menyakiti hati Zea, padahal belum tentu juga Zea menyukainya. Tapi ... tetap saja Alarikh tidak nyaman membahas cewek lain di depan cewek yang ia sukai. Percayalah, semuanya Alarikh lakukan untuk Zea!

"Oh, lo udah jadian lagi? Kok enggak cerita?" tanya Zea berusaha baik-baik saja, padahal menanyakan dua kalimat itu saja sudah cukup membuat hatinya hancur. Kali ini, Zea benar-benar berniat melupakan Alarikh, pasti nanti ujungnya dia juga yang akan sakit hati.

"Eng ...  enggak penting juga."

"Oh."

"Maksud gue ceritanya, bukan lo nya," ralat Alarikh panik karena Zea hanya menanggapi singkat.

"Emangnya gue penting?" Pertanyaan itu muncul begitu saja, sebagai gerak refleks yang tentu tidak terpikirkan terlebih dahulu. Alarikh diam, namun Zea juga tidak berniat memberikan pertanyaan atau pun pernyataan lebih. "Udah ah, gue mau tidur dulu jangan berisik," ucapnya sembari menenggelamkan wajah di atas lipatan tangan.

"Sakit Ze?" tanya Vanka.

"Iya, sakit hati." "Enggak, gue ngantuk."

Lalu Vanka hanya membentuk huruf O tanpa suara dengan mulutnya. Sedetik kemudian fokusnya kembali pada Alarikh yang jadian tanpa cerita-cerita terlebih dahulu. "Seriusan lo jadian sama Intan? Dari kapan deketnya?" tanya Vanka antusias. Diam-diam Zea ikut mendengarkan.

"Udah ... lama."

"Lo sayang beneran enggak sama dia? Nanti taunya kayak Nesya cuma seminggu."

Sebelum menjawab Alarikh melirik Zea beberapa detik. Ada rasa ragu, namun segera ia tepis dan berkata, "Iya lah, kalau enggak mana mau gue jadiin pacar." Bohong. Sudah dua hubungan yang Alarikh jalin tanpa perasaan serius.

"Langgeng deh, jangan lupa PJ buat gue."

Di tempatnya, tanpa ada yang menyadari, kepalan tangan Zea mengeras karena ucapan Alarikh tadi. Jadi begini ya, rasanya sakit hati? Sedih rasanya, kalah cantik begini. Iya, setidaknya begitulah yang Zea pikirkan.

Never Started (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang