❦︎❦︎❦︎
"Kehidupanku memang tidak seburuk yang lalu, tetapi aku selalu merindukan mereka yang senantiasa ada saat aku terjatuh. Maafkan aku yang pergi tanpa pamit."
❦︎❦︎❦︎
Seragam baru sudah melekat di tubuh Qiran. Baju batik berwarna biru serta rok senada dengan tinggi dua senti di atas lutut mendominasi penampilannya hari ini. Rambutnya sedikit dia potong hingga kini tak sepanjang dulu. Ranbut yang biasanya sepunggung, kini panjangnya hanya di bawah bahu saja.
Qiran sengaja mengubah penampilannya. Rambut yang biasanya dia kucir, kini dia biarkan tergerai dengan jepitan di sisi kanannya. Dia terlihat sangat feminin dan cantik saat ini. Sekarang, Qiran berada di kehidupan baru. Tentunya tidak akan sama seperti kehidupannya yang dahulu.
Kakinya melangkah menuju ruang makan yang cukup besar. Dulu, panti asuhan ini ramai dengan anak kecil. Namun, kini tinggal sedikit karena banyak yang telah diadopasi. Qiran membantu menyiapkan makanan yang telah matang, sedangkan Naura menata alat makan yang akan digunakan.
Semua sudah lengkap, tiga pengurus pasti sekaligus ibu panti, tiga anak yang masih SD, dan ditambah dengan Naura dan Qiran. Mereka makan dengan khidmat, tanpa perbincangan. Baru pertama kali Qiran merasakan kehangatan keluarga. Meskipun bukan kekuarga kandung, tetapi dia tetap senang.
"Kalian belajar yang rajin," ucap ibu panti yang bernama Ibu Tina.
"Iya, Bu."
Anak-anak pergi menuju sekolahnya masing-masing. Qiran berjalan bersama Naura, mereka satu sekolah. Mereka berjalan beriringan seraya berbincang-bincang mengenai sekolah serta kehidupan mereka. Banyak perbedaan di antara mereka. Naura yang dibuang sejak bayi oleh orang tuanya hingga ditemukan oleh Bu Tina, sedangkan Qiran yang disia-siakan ibunya hingga diusir.
"Kak Naura, di tempat kerja Kakak masih ada lowongan? Qiran mau kerja juga, aku gak mau ngerepotin ibu sama yang lainnya." Qiran menanyakan perihal pekerjaan. Naura memang kebih tua satu tahun di atas Qiran.
"Gak ada, Ran. Tapi aku denger-denger di toko kue samping tempat kerja aku, di sana lagi butuh pegawai. Kamu mau? Kalau mau nanti aku temenin ke sana. Kebetukan aku kenal sama yang punya toko," tawar Naura kepada Qiran.
"Boleh, Kak. Qiran mau banget," ucap Qiran.
"Yaudah nanti pulang sekolah, ya. Kakak masuk kelas dulu, nanti kamu ke ruang kepala sekolah buat nanyain kelas kamu. Tuh, di ujung sana," tunjuk Naura lalu dia pergi menuju kelasnya sendiri.
Qiran menjadi pusat perhatian di sekolah barunya. Mayoritas siswa SMA Garuda memang menggerai rambutnya. Mereka terlihat sangat feminin, beda dengan sekolahnya yang dulu. Banyak yang tomboi dan pembuat masalah.
Langkah kaki Qiran mengarah pada ruangan yang bertuliskan "Kepala Sekolah". Dia mengetuk pintu tiga kali. Intruksi dari seseorang di dalam ruangan membuat memasuki ruangan itu. Wajah terkejut ditampilkan oleh Qiran dan kepala sekolah.
"Silahkan duduk, Qiran." Kepala sekolah itu menetralkan wajah terkejutnya.
"Ma-makasih, Tan--Bu," ucap Qiran gelagapan.
"Kata Karin dari kemarin kamu tidak bisa dihubungi. Kenapa sekarang kamu memberikan kejutan sama Tante?"
"Ponsel Qiran hilang, sekarang Qiran pindah sekolah karena ada suatu hal. Aku mohon sama Tante, tolong jangan kasih tahu Karin ataupun yang lainnya tentang keberadaan aku. Cukup bersikap seolah tidak peduli. Qiran mohon," pinta Qiran pada Ibu Sofi.
Ibu Sofi adalah ibu dari Karin. Wajar jika dia mengenali Qiran, itu karena Qiran sering bermain di rumah Karin. Sofi menatap manik mata Qiran, dia yang sedikit mengetahui mempelajari ilmu psikolog pun melihat hal yang mengganjal. Di dalam manik mata Qiran terlihat sebuah kesedihan yang mendalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Invisible Wounds
Teen Fiction"Lukaku adalah bahagiamu dan tangisku adalah tawamu. Akankah kau juga tertawa melihat kematianku?" Star: 16 Maret 2021 Finish: 14 April 2021
