❦︎❦︎❦︎
"Aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah aku jauh dari kalian. Mungkin, semua akan berubah, kehidupan dan jalan takdir yang akan aku lewati esok."
❦︎❦︎❦︎
Kehidupan itu seperti roda yang berputar. Ada kalanya seseorang berada di atas, ada juga yang berada di bawah. Ada kala seseorang berduka, ada kalanya juga seseorang bahagia. Semua sudah diatur oleh Tuhan. Jangan mengeluh karena hari ini kehidupan dipenuhi luka dan lara. Suatu saat nanti pasti akan dipenuhi tawa bahagia.
Rintik hujan yang sangat deras mengguyur padatnya ibu kota. Seseorang sedang kalang kabut mencari keberadaan adiknya yang tak kunjung dapat dihubungi. Ya, dia adalah Kenzie dan teman-temannya yang tengah mencari Qiran. Ponsel Qiran sampai saat ini belum bisa dihubungi.
Malam sudah semakin larut. Hal itu membuat Kenzie menghentikan pencarian Qiran. Dia menyuruh teman-temannya untuk kembali menuju rumah masing-masing. Lagi pula sangat mustahil mencari Qiran di tengah hujan deras seperti ini.
Kenzie menghentikan motornya di depan rumah yang cukup megah. Dia melepas mantolnya lalu berjalan masuk ke dalam rumah itu. Pandangannya beralih pada sang ayah yang tengah menonton televisi di ruang tamu sendiri. Kenzie tahu, Tio pasti ingin mengetahui keberadaan Qiran saat ini.
"Gimana? Qiran udah ketemu?" tanya Tio saat melihat anak pertamanya pulang.
Kenzie menggelengkan kepalanya. Tio menepuk pundak Kenzie untuk menguatkan anak pertamanya. Baru beberapa hari lalu mereka dipersatukan, tetapi kini mereka kembali dipisahkan. Mungkin hanya sementara, karena Kenzie yakin, Qiran pasti tidak akan meninggalkan dirinya dan sang ayah.
"Kenzie istirahat dulu, Pa."
"Iya. Kamu tenang aja, besok Papa akan ke rumah ibumu untuk menanyakan Qiran. Siapa tahu besok dia sudah pulang."
Kenzie mengangguk lalu melangkah menuju kamarnya. Rasanya sangat kecewa saat mendengar jika Nadia kembali memisahkan mereka. Andai saja Qiran mau tinggal bersama dirinya, pasti mereka sekarang tengah bercanda tawa bersama. Melepas beban yang selama ini Qiran tanggung sendiri.
Langkah Kenzie membawanya menuju meja belajar. Di sana terdapat buku bersampul biru serta gambar langit dan awan menghiasi buku itu. Dia mulai menggoreskan tinta hitam di dalam buku itu.
Pertemukan kita hanya sekejap, hingga akhirnya perpisahan kembali menyerang dan memutuskan jarak di antara kita. Kemarin, aku bahagia kamu mengetahui siapa aku sebenarnya. Namun, kini aku yang bersedih kala kau tak lagi dapat kusapa.
Adikku ....
Semoga Tuhan kembali membuat alur untuk menyatukan kita. Di mana ada satu titik penentu yang menjadi sebuah pertemuan. Aku dan kamu yang akan menjadi kita dalam ikatan kakak dan adik. Sampai jumpa kembali.
❦︎❦︎❦︎
Keesokan harinya, Tio benar-benar menuju rumah Qiran untuk mencari keberadaannya. Tio mengetuk pintu dengan kasar. Hal itu membuat Nadia yang sudah bersiap untuk bekerja menghujat Tio. Menurutnya, perilaku Tio ini sangat tidak sopan. Jika bertamu, seharusnya dia datang datang dengan baik dan sopan.
"Di mana anak saya!"
"Hey, Tio. Qiran sudah tidak lagi berada di sini." Nadia tersenyum sinis ke arah Tio.
"Cepat katakan, di mana dia sekarang?!" bentaknya sembari menggoyangkan bahu Nadia.
Dia semakin tersenyum sinis ke arah mantan suaminya lalu menghempaskan tangan Tio dari bahunya. Lagi pula sekarang dia tidak tahu di mana Qiran berada. Mungkin sudah sampai di Surabaya sejak kemarin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Invisible Wounds
Novela Juvenil"Lukaku adalah bahagiamu dan tangisku adalah tawamu. Akankah kau juga tertawa melihat kematianku?" Star: 16 Maret 2021 Finish: 14 April 2021
