Hari libur mungkin memang hari yang ditunggu bagi para pelajar. Hari di mana para pelajar mengistirahatkan pikirannya dari segala macam pelajaran dan berbagai rumus yang mematikan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Qiran. Menurutnya, hari libur adalah hari keramat. Di saat semua pelajar refreshing, beristirahat, tidur, rebahan, dan lainnya, tetapi Qiran harus membersihkan seisi rumah, membeli hal yang di perlukan, menuruti perintah Nadia dan masih banyak lagi yang harus dia kerjakan.
Makanan sehari-harinya adalah omelan dan tamparan dari Nadia. Rasanya memang sakit saat dibentak, tetapi itu hanya sekejap karena dia sudah kebal dengan itu semua. Bukankah tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya? Seburuk apa pun perlakuan orang tua pada seoarang anak, pasti masih terbesit sedikit kasih sayang meski masih terpendam.
"Ma, doain Qiran semoga menang olimpiade besok," ucap Qiran sembari berdiri di saping Nadia yang tengah menonton televisi di sofa.
"Semoga saja sekolah tidak salah memilih kamu, saya harap kamu tidak membuat malu sekolahmu." Nadia berbicara dengan nada menyindir.
Qiran tersenyum. Meskipun nada bicara Nadia seperti itu, tetapi terdapat doa yang terucap dari bibirnya. Nadia sama saja mendoakan semoga Qiran tidak membuat sekolahnya malu. Secara otomatis, itu menjadi acuan baginya. Bukankan omongan adalah doa? Qiran hanya mengaminkan saja.
"Qiran bakal usaha untuk bikin Mama dan sekolah aku bangga. Kalau gitu Qiran pamit dulu."
Qiran mengulurkan tangannya berniat untuk salim kepada Nadia. Namun, tangan itu tidak juga mendapat balasan dari Nadia. Hal itu membuat dia menurunkan tangannya kembali dan tersenyum. Kakinya melangkah menuju pintu keluar dan pergi menuju kafe.
Pakaian yang Qiran gunakan serba panjang. Baju panjang dan sedikit kebesaran sudah menjadi ciri khasnya. Tangannya kembali lebam akibat dia pulang lebih dari jam delapan malam. Deraan lagi-lagi didapatkannya, tetapi hal itu sudah biasa bagi Qiran.
Perjalanan tidak terlalu padat karena semua orang sudah fokus pada kegiatan masing-masing. Matanya memicing melihat orang yang begitu dia kenal. Qiran berlari kecil untuk menghampiri orang itu.
"Kak Chandra ngapain di sini?" tanya Qiran tersenyum ramah.
"Tadi mau ke kafe Mentari, tapi masih tutup kayaknya. Jadi nunggu buka," alibi Chandra.
"Kafe Mentari buka jam delapan, Kak. Ini masih kurang 10 menit. Lagian masih pagi kok udah kelayapan aja, mentang-mentang libur," ucapnya memandang aneh Chandra.
"Lah, gak sadar diri lo? Ngapain sekarang ada di sini? Mentang-mentang libur," cibir Chandra menyamakan nada bicaranya dengan Qiran.
"Qiran 'kan kerja di kafe. Udahlah nanti telat, bye!"
Qiran berlalu dari hadapan Chandra. Sesegera mungkin Chandra mengambil ponselnya lalu memotret Qiran tanpa sepengetahuan dia. Foto itu lalu dia kirim kepada Al sebagai bukti bahwa Qiran baik-baik saja. Namun, ada hal yang membuat Chandra lagi-lagi merasa janggal. Cara berjalan Qiran membuat perhatian baginya, dia terlihat pincang lagi.
Chandra kembali menyiapkan kameranya untuk merekam Qiran. Dia memberitahu informasi ini kepada Al lagi. Urusannya telah selesai sekarang, informasi juga sudah dia tujukan pada Al. Chandra sangat penasaran, sebenarnya apa yang membuat Al bersikeras untuk menyuruhnya menjaga Qiran. Apa alasan yang logis akan semua ini? Lalu mengapa bisa tubuh Qiran dipenuhi luka? Dia sempat melihat tubuh Qiran yang lebam, salah satunya kemarin.
❦︎❦︎❦︎
Waktu istirahat untuk para karyawan kantoran telah tiba. Nadia kini tengah berada di salah satu restoran yang cukup mewah bersama seorang pria yang terlihat beberapa tahun lebih tua darinya. Mereka terlihat sangat akrab hingga bersenda gurau bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Invisible Wounds
Novela Juvenil"Lukaku adalah bahagiamu dan tangisku adalah tawamu. Akankah kau juga tertawa melihat kematianku?" Star: 16 Maret 2021 Finish: 14 April 2021
