❦︎❦︎❦︎
"Perjuanganmu hari ini adalah tangga kesuksesanmu suatu hari nanti."
❦︎❦︎❦︎
Hari Jumat adalah hari di mana seluruh siswa SMA Garuda melaksanakan kerja bakti. Selain untuk membersihkan kawasan lingkungan sekolah, kerja bakti ini juga dilaksanakan untuk gladi bersih sebelum dilaksanakan ulangan akhir semester satu.
Sedari tadi Qiran mendengkus sebal karena Darrel yang terus saja mengganggunya. Kelas mereka mendapat bagian daerah belakang sekolah. Jadi sebagian anak membersihkan kelas, dan sebagian lagi membersihkan halaman belakang.
Darrel sangat menyukai wajah lucu Qiran. Dia menjahili Qiran dengan berbagai cara. Menarik rambut Qiran, melemparinya dengan daun kering, meniup telinganya, dan masih banyak lagi cara yang dia lakukan.
"Diem! Aku tonjok, nih!" ancam Qiran yang sudah lelah dengan perilaku Darrel.
"Emang berani?"
Bugh!
Satu tonjokkan melesat di lengan atas Darrel. Tonjokkan itu cukup kuat hingga mampu membuat Darrel meringis kesakitan. Dia pikir Qiran hanya bercanda dengan ucapannya. Namun, ternyata Qiran benar-benar menonjok Darrel.
Qiran tersenyum, akhirnga Darrel bisa berhenti mengganggu dirinya. Dia kembali fokus pada pekerjaannya. Sampah di belakang sekolah cukup banyak. Rontokan dedaunan dan sampah plastik berserakan membuat semua yang bertugas membersihkan halaman belakang sekolah memungutinya satu persatu.
Satu jam berlalu, semua sudah selesai dibersihkan oleh sebagian siwa kelas 11 MIPA 2. Mereka berbondong-bondong menuju kantin untuk mengisi energi kembali. Mereka tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun karena semua dibayar menggunakan kas kelas.
Tiga meja dengan kursi panjang diisi oleh anak kelas 11 MIPA 2. Kelas kompak yang selalu mengutamakan solidaritas. Tidak heran jika laki-laki dan perembuan berbaur tanpa canggung.
"Kamu apaan, sih?!" Qiran kembali berdecak sebal karena Darrel yang tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya.
"Mohon maap, di sini barisan para cewek. Lo pergi aja, Rel. Ganggu tau gak," tukas salah satu teman Qiran.
"Yaelah, udah penuh kursinya," jawabnya santai.
"Lo ngelindur? Jelas-jelas itu masih banyak kursi kosong. Emang tiga meja ini punya kelas kita? Bukan! Sana pergi, jauh-jauh dari kita."
"Gak, gue mau duduk deket Qiran." Darrel bersikera untuk duduk di samping Qiran. Hal itu membuat semua yang satu meja dengan Qiran berdecak sebal.
Mereka melanjutkan acara makannya meski tidak senyaman tadi. Darrel menghancurkan suasana makan mereka. Sesekali Darrel mengeluarkan godaannya untuk Qiran. Gadaan itu tidak membuat Qiran senang, tetapi justru malah jijik.
"Qiran, ikut kakak dulu, yuk."
Adanya Naura yang menghampiri Qiran, itu membuat dirinya sedikit lega. Setidaknya dia jauh dari jangkauan Darrel sementara waktu. Sebenarnya, Qiran juga ada hal yang ingin dibicarakan dengan Naura.
Mereka pergi dari kerumunan orang di kantin. Tujuan mereka saat ini adalah halaman belakang. Di sana terlihat sepi, sehingga aman untuk membicarakan hal yang tidak semestinya orang lain tahu.
"Kenapa, Kak?"
"Kamu yakin mau ketemu sama temen-temen kamu?"
Qiran mengangguk membenarkan perkataan Naura. Lagi pula dia tidak ingin menahan rindu. Titik temu memang harus menjadi jalan pemersatu mereka.
"Kak, aku cuma ketemu mereka sekali aja kok. Bisa aja itu pertemuan terakhir karena aku mau menetap di panti. Aku juga mau ketemu sama ibu aku. Cukup untuk terakhir kali aja, Kak. Kakak mau 'kan besok temenin aku?"
Ada rasa khawatir saat Qiran mengatakan bahwa dia ingin menemui ibunya. Qiran sudah sedikit menceritakan kisah hidupnya dengan Naura. Bagaimanapun juga, Naura sudah menganggap Qiran sebagai adiknya sejak awal dia masuk panti.
Naura hanya mengangguk. Setidaknya jika dia ikut bersama Qiran, dia bisa melindungi Qiran secara langsung. Meskipun mungkin nantinya sudah ada yang melindungi Qiran. Tak apa, tamen Qiran justru akan lebih banyak.
Mereka meninggalkan halaman belakang sekolah dan pulang bersama. Sekolah dibubarkan karena acara kerja bakti sudah selesai. Mereka berpisah di pertigaan karena Naura harus bekerja terlebih dahulu, sedangkan Qiran langsung menuju panti.
❦︎❦︎❦︎
Suasana di salah satu kafe bernuansa senja terlihat sangat ramai. Pengunjung berdatangan dengan silih berganti. Siang hari yang terik memang sangat pas untuk mendunginkan pikiran di kafe. Terlebih para remaja SMA yang sebentar lagi akan menjalani ulangan semesteran.
Alunan musik dengan ritme perlahan membuat orang yang ada di sana terbuai dalam musiknya. Seperti Nara dan Karin yang tengaj menikmati alunan musik yang menenangkan itu.
"Woi!"
"Astagfirullah!"
Nara dan Karin mengelus dadanya masing-masing. Di tengah nikmatnya menikmati musik, tiba-tiba saja Kenzie dan Keano datang menghampiri mereka.
Keano memanggil salah satu pelayan yang sedang memangil salah satu pelayan yang tengah melayani meja di samping mereka. Pelayan itu adalah Tia, orang yang cukup dekat dengan Qiran. Mungkin, ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengetahui info tentang Qiran.
"Mbak?"
"Iya, apa pesanannya ada yang kurang?"
"Enggak, Mbak. Saya mau tanya, apa di sini ada pelayan yang nanya Qiran Adhisti?" Kemzie menanyakan itu tanpa ragu.
"Iya, tapi dia udah gak pernah lagi berangkat semenjak satu minggu yang lalu," ujar Tia menjawabnya dengan jujur.
Lagi dan lagi Nara dan Karin menyernyitkan dahinya. Qiran bekerja sebagai pelayan? Sejak kapan? Bahkan mereka tidak tau jika Qiran selama ini bekerja. Berapa banyak rahasia Qiran yang tidak mereke ketahui? Sungguh, dia adalah gadis polos yang penuh dengan teka-teki.
Keempat remaja SMA itu tengah berbincang mengenai Qiran dan juga mengenai ulamg tahun Karin yang akan dilaksanakan besok. Karin mengadakan pesta sederhana yang dilakukan di halaman rumahnya yang cukup luas.
Mereka tidak sabar menunggu kehadiran Qiran. Semoga hari esok adalah hari yang indah. Harapan Karin untuk keluarga serta sahabatnya adalah agar mereka selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan.
❦︎❦︎❦︎
Di kantor Nadia sedang terjadi keributan. Kekasihnya yang berada dibidang keuangan kantor telah berkorupsi. Dia kabur tidak tahu ke mana. Nadia berdecak sebal, pasalnya semua uang perusahaan sudah diambil oleh kekasihnya.
Nadia harus mengangkut barangnya untuk segera pindah. Rumah, mobil, dan lainnya dijual untuk membayar gaji karyawan dan juga utang perusahaan. Sepertinya sebentar lagi dia akan gulung tikar.
Dengan perasaan kesal, Nadia pulang ke rumah lalu menbanting tasnya di sofa. Dia sangat frustasi dengan kekasihnya ini. Pikirannya selama ini sangat kacau. Tidak mungkin dia meninggalkan rumah yang sudah lama dia tempati.
"Memang bastard!"
Nadia berkali-kali mengumpat. Kini dia tidak mempunyai harta lagi. Semua sudah musnah diambil oleh kekasih bajingannya. Sungguh dia menyesal telah mempercayai lelaki itu. Nadia hanya diberi waktu dua kali 24 jam. Jika lebih dari itu, maka Nadia akan diusir.
"Akh! Sialan! Bisa-bisanya aku percaya dengan dia!" Nadia benar-benar frustasi.
Andai saja dia tidak percaya dengan lelaki sialan itu, pasti hidupnya akan tenang dan nyaman. Tidak seperti sekarang. Penampilannya juga kini sangat kacau. Awalnya wanita karir yang sangat disegani karyawannya, kini menjadi seperti gelandangan.
❦︎❦︎❦︎
KAMU SEDANG MEMBACA
Invisible Wounds
Novela Juvenil"Lukaku adalah bahagiamu dan tangisku adalah tawamu. Akankah kau juga tertawa melihat kematianku?" Star: 16 Maret 2021 Finish: 14 April 2021
