Pawat sudah membuka matanya lebar lebar sejak beberapa menit yang lalu,dan saat ini ia dapat mendengar suara suara aneh yang berasal dari kamar calon kakak iparnya itu. Pawat mendengus,ia cukup memahami apa yang sedang terjadi disana.
Ia bangun dari posisi berbaring,lalu mengacak rambutnya sebal. Ingin beranjak dari tempatnya, tapi ia tak tega meninggalkan Nanon sendiri.
"Kak Anan nggak bisa nahan banget sih,sialan." Ucap Pawat pada dirinya sendiri.
"Eungh..itu suara apa sih,Paw??" Tak disangka Nanon yang menjawab ucapannya meski dengan pertanyaan lain. Pawat kelabakan,ia tidak mau Nanon ikut mendengarkan suara suara yang jelas berasal dari kegiatan panas milik dua laki laki dewasa di dalam kamar itu.
"Ssttt..." Pawat meletakkan telunjuknya di depan bibir Nanon yang sudah ikut duduk sambil mengucek matanya. Lalu ia berdiri dan mengamit lengan Nanon yang nurut nurut saja meski matanya masih setengah terpejam.
"Mau kemana??" Nanon baru bertanya saat mereka sudah berada di luar pintu apartemen War.
"Jalan jalan tengah malem,seru kayaknya." Sahut Pawat tanpa dosa.
"Bawa duit nggak? Nanti kalo aku pengen jajan gimana?" Tanya Nanon lagi.
"Nih." Pawat berhenti sejenak untuk merogoh saku piamanya dan menunjukkan dompet serta ponsel yang sebelum keluar tadi sudah ia kantongi,yang hanya ditanggapi dengan anggukan oleh Nanon.
Sampai di depan area apartemen,Nanon menghentikan langkahnya yang otomatis membuat langkah Pawat juga ikut terhenti.
"Opo maneh??" Tanya Pawat jengah.
"Emplok. Aku ngantuk." Pinta Nanon yang membuat Pawat menghembuskan nafasnya lelah,tapi setelah itu ia justru berjongkok di depan Nanon.
"Jam berapa sih ini? Kok masih rame banget?" Nanon yang sudah bertengger nyaman di punggung Pawat bertanya,ia meletakkan dagunya di atas pundak milik sang sahabat.
"Tengah malem lebih. Kita kesitu aja ya." Pawat menjawab sambil menunjuk indomaret 24 jam yang berada di seberang jalan,lagi lagi Nanon hanya menganggukkan kepala membuat rambutnya bergesekan dengan kulit leher milik Pawat. Yang Nanon tidak sadari adalah fakta bahwa semua gerakannya itu telah memicu desiran sekaligus pemikiran tidak senonoh dari Ohm Pawat. Tentang bagaimana jika mereka berdua melakukan hal yang saat ini tengah dilakukan oleh Kak Anan dan Bang War di dalam sana. Pawat menelan ludahnya sendiri dengan susah payah,lalu menggelengkan kepalanya kuat kuat.
'Nggak. Ini nggak bener. Kita berdua kan sahabat. Sesama sahabat harus saling melindungi. Bukannya malah ngelakuin kayak gitu.' Teriak Pawat dalam hati.
'Emang ada sahabat yang kemana mana bareng?? Yang dimana ada Pawat selalu ada Nanon? Atau dimana ada Nanon selalu ada Pawat? Yang selalu nurutin apa maunya? Yang gendong gendongan tengah malem begini?? Yang saling gak suka meski kadang nggak di ungkapin kalo masing masing deketan sama orang lain?? Yang isi chat di hapenya cuman dari sahabatnya itu?? Yang menomorduakan segalanya demi sahabatnya?? Yang semua orang ngira kalo mereka itu pacaran?? Ada??' Teriak sisi lain dalam diri Pawat yang membuatnya kembali menggeleng keras.
"Ngapain Paw?? Kok geleng geleng??" Nanon bertanya tepat ketika mereka tiba di depan indomaret.
"Nggak. Nggak apa apa." Pawat menjawab sambil menurunkan Nanon dari gendongannya lalu mereka masuk ke dalam secara beriringan.
"Tengah malem makan es krim,nggak dingin apa??" Tanya Pawat heran sambil memutar mutar kaleng minuman yang ia pegang ketika Nanon terlihat sangat menikmati es krim cup rasa stroberi nya. Saat ini mereka sudah duduk di bangku yang di sediakan di teras minimarket dengan ikon warna biru itu.
Nanon hanya mengedikkan bahu. "Kak Anan ganas ya?" Lanjutnya tanpa dosa sambil menyuap es krim itu ke dalam mulutnya lagi,membuat Pawat melotot seketika.
"Kamu tau??" Tanya Pawat hati hati.
"Ya tau lah. Aku kan nggak bego bego banget. Kamu pikir kenapa aku mau di ajak keluar tengah malem begini??"
"Kamu mau coba??" Pawat memberanikan dirinya untuk bertanya,meski ia tidak tahu reaksi Nanon akan seperti apa.
"Sama kamu??" Kali ini Nanon meletakkan sendok es krim nya lalu menatap tepat di mata sang lawan bicara dengan raut wajah yang sulit di artikan. Lidah Pawat kelu seakan tidak mampu menjawab,ia hanya bisa mengangguk ragu ragu. Dadanya pun berdebar hebat.
"Bukannya aku nggak mau,tapi sekali kita ngelakuin itu kita nggak akan bisa jadi sahabat lagi.." Ucap Nanon yang masih menatap mata Pawat lurus lurus. "Kamu sadar nggak,selama ini kita terus terusan menyangkal perasaan masing masing? Mengatas namakan semuanya dengan label sahabat? Padahal kita tau,perasaan ini lama lama tumbuh lebih dari sekedar persahabatan.." Pawat tidak menyangka,kejadian Yin dan War bisa membawa mereka ke dalam topik sesensitif ini. Ini adalah kalimat Nanon yang terdengar paling dewasa dan serius selama Pawat mengenalnya,dan Pawat masih berusaha merangkai kalimat untuk menjawab itu semua karena apa yang di katakan oleh Nanon sama sekali tidak ada yang salah.
"Es krimnya enak,mau??" Lanjut Nanon dengan senyum lebar lalu menyendok kembali es krim itu kemudian menyodorkannya di depan mulut Pawat,ia sedang berusaha mengalihkan pembicaraan. Sungguh Nanon tidak bermaksud apa apa,ia tidak ingin membebani Pawat dengan ucapannya. Tapi diam diam ia bersyukur,setidaknya ia sudah berani mengakui perasaan yang sesungguhnya di depan laki laki yang sudah lama menjadi sahabatnya itu.
Diluar dugaan,bukannya membuka mulut untuk memakan es krim itu,Pawat justru berdiri lalu menunduk untuk bisa meraih bibir Nanon dalam ciuman dengan gerakan yang sangat cepat.
"Nggak mau es krim. Maunya pacaran sama kamu." Jawab Pawat setelah kecupan singkat itu berakhir,membuat Nanon berkedip dengan bodoh di tempatnya.
Dan tanpa mereka sadari,semua itu disaksikan dengan jelas oleh Yin dan War dari seberang jalan.
.
.
.
TBC
.
.
.
Lagi rajin aku rek,hari ini update lagi hahahaha....

KAMU SEDANG MEMBACA
PANDAWA LIMA
Fiksi PenggemarLima bersaudara yang isinya cogan semua. Tay Tawan. Joss Wayar. Yin Anan. Bright Vc. Ohm Pawat.