Lee Thanat tersenyum getir menyaksikan pemandangan di depannya. Tawan yang mengacak rambut New gemas,kemudian New membalas dengan pura pura risih menyingkirkan telapak besar itu dari surainya. Tapi setelahnya mereka tertawa bersama. Tawa yang mampu membuat atmosfir seluruh ruangan coffeshop itu menjadi penuh cinta sekaligus mematahkan hati Thanat berkeping keping.
Seharusnya Thanat sudah terbiasa dengan ini. Ia sudah terlatih untuk mempersiapkan diri agar tidak terlalu patah hati. Namun tetap saja,rasa sesak itu selalu mendominasi setiap kali melihat Tay Tawan bersama dengan New.
"Aku ke toilet dulu ya." Ucap Thanat kepada dua sejoli yang sepertinya belum mau mengakhiri sesi guyon mesra itu. Suaranya ia buat senatural mungkin. Tidak ingin mereka tahu bahwa Lee sedang mati matian menahan rasa cemburu.
"Jangan lama lama. Tak tinggal pulang kowe" Jawab Tawan sekenanya,padahal jelas jelas tadi mereka datang dengan membawa mobil masing masing. Sementara New hanya membuat gestur ok dengan jari.
Bukannya kencing,Thanat hanya ingin menghindar. Di depan cermin besar itu,ia menatap lama bayangannya sendiri. Kemudian ia memukul mukul dada,berharap itu bisa menyingkirkan rasa sesak yang nyaris membuatnya menangis. Mencintai sahabat adalah sebuah ide paling buruk yang pernah ia wujudkan,terlebih jika sahabat itu sudah memiliki seseorang yang ia cintai dan tentu saja orang itu bukan Lee Thanat.
"Guys,aku pulang dulu ya. Bunda telpon barusan minta dijemput di salon." Thanat memang tidak berbakat untuk menjadi seorang pembohong. Jadi hanya kalimat itu yang bisa ia katakan setelah keluar dari toilet.
"Yah..kok pulang sih Nat?? Tuh kopinya aja belum abis." Protes New.
"Sorry..kalo telat jemput nanti bunda bisa murka." Dalam hati ia sudah memohon ampun karena melibatkan sang bunda dalam skenario dadakannya tersebut.
"Yowes. Ati ati yo.." Ucap New akhirnya meski dengan wajah sedikit tidak rela. Sementara Tawan hanya bergeming hingga Lee benar benar pergi dari coffeshop langganan mereka. Kepalanya memikirkan alasan mengapa sahabatnya itu sampai berbohong. Tawan masih belum lupa,baru kemarin Thanat bilang bahwa sang bunda ada job di luar kota dan baru akan kembali minggu depan.
Berbekal dengan rasa penasaran tentang alasan Lee Thanat berbohong,malamnya Tay pergi kerumah Thanat tanpa mengabari Thanat terlebih dulu.
Dari semua kemungkinan,ada satu yang paling membuat Tay bertindak seimpulsif ini. Dan ia berharap semoga dugaannya salah.
Beruntung Thanat tidak sedang diluar. Laki laki tampan itu terlihat duduk di pinggir kolam renang sambil memainkan kedua kakinya di air,saat Tawan sampai.
"Nat.." Panggil Tawan kemudian berjongkok di sebelah Thanat.
"Kamu suka sama aku??" Lanjutnya sambil menatap wajah sang sahabat.
Thanat seketika menoleh dan tertawa tidak percaya. Semudah itukah perasaannya di sadari oleh Tawan??
"Sejak kapan?" Tanya Tawan lagi meski ia belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang pertama. Karena tawa Thanat barusan seakan sudah menjawab semua.
Thanat menarik nafas panjang. "Udah lama." Jawabnya dengan sorot mata sendu.
"Maaf..." Tawan hanya bisa menunduk. Tak kuasa melihat wajah terluka milik sang sahabat. Terlebih tatapan mata yang sama sekali tidak menyiratkan kebohongan sedikitpun.
"Harusnya aku yang minta maaf." Thanat ikut menunduk.
Setelah itu sunyi. Tidak ada yang bersuara. Masing masing terlalu kalut dengan isi otaknya. Thanat tidak menyangka jika akhirnya perasaan itu disadari oleh Tawan. Sementara Tawan masih terkejut mengetahui bahwa dugaannya benar benar terbukti.
"Wan.." Panggil Thanat setelah beberapa menit mereka saling diam.
"Hm..?"
"Kok kamu bisa tau?"
"Kalo kamu suka sama aku? Makanya kalo nggak bakat bohong jangan bohong."
"Hah??"
"Kamu lupa kalo kemaren kamu bilang bunda ada job luar kota? Terus siapa yang tadi kamu jemput di salon??"
Dan Thanat pun menepuk jidatnya sendiri.
"Wan.."
"Opo maneh??"
"Kita tetep sahabat kan??" Tanya Thanat takut takut.
"Iya..sahabat.." Tawan menyertakan senyum tulus setelah kalimatnya itu.
*****
"Nat...denger nggak?? Nat..!!" Tawan menggerak gerakkan tangannya di depan wajah Thanat.
"Opo ae seh?? Iya iya denger." Thanat menyingkirkan katalog berisi gambar setelan jas yang di pegang Tawan lalu memeluk Tawan dengan posesif.
"Lagi mikir apa? Hm?" Tawan tidak menolak. Ia justru mengelus punggung sang calon suami.
"Tiba tiba inget pas pertama kamu tau aku suka sama kamu." Thanat melepas pelukan agar bisa menatap wajah tampan milik Tay Tawan. "Dan sekarang kita beneran udah mau nikah." Mendadak Thanat merasa mellow mengenang masa lalu mereka.
"Cieee... iyo iyo seng wes mau nikah..percaya adek tuh." Tiba tiba suara Pawat merusak momen haru yang baru saja tercipta. Praktis membuat Thanat menjauhkan dirinya dari tubuh Tawan. Jujur saja sejak mereka resmi,Thanat justru merasa canggung jika ketahuan bermesraan di depan adik adik dari calon suaminya.
"Udah mau nikah loh ini Bang Nat. Nggak usah malu malu lagi lah kalo mau mesra mesraan sama Mas Tawan." Yin muncul ikut menimpali.
"Tadi bilangnya nggak ada orang dirumah?" Protes Thanat terang terangan.
"Mau dikamar aja?" Tawar Tawan sambil menaik turunkan alisnya.
"Wooooo....Mas belom sah Mas. Lagian ya Mas Tawan sama Bang Thanat mesra mesraannya di ruang tamu yo mesti jadi konsumsi publik" Goda Pawat lagi.
"Males di godain terus. Yuk Sayang kita ke kamar kamu aja." Thanat sengaja menekankan kata Sayang di depan mereka.
"Dek..tutup telingamu dek." Yin memasang wajah tengil sambil menutup kedua telinga si bungsu.
Dan lemparan bantal sofa dari Thanat serta derai tawa milik Tawan,Yin dan Pawat menutup percakapan mereka sore itu.
TBC
.
.
.
.
Yorobun..gimana kabarnya?? Maaf ya buat yang ngikutin cerita ini dari awal,tak tinggal hiatus berbulan bulan :((
Takut udah nggak dpt feel nya pas lanjutin. Maafin yaaaaa..
Semoga update ini bisa mengobati rindu kalian dengan member pandawa lima hehehe...
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDAWA LIMA
FanfictionLima bersaudara yang isinya cogan semua. Tay Tawan. Joss Wayar. Yin Anan. Bright Vc. Ohm Pawat.
