"Sumpah sih gila gue ga kuat ngakak terus buahahha," Ucap Aldara masih di selingi tawa, kedua nya kini tengah berada di taman kota. Aldara mengusap keringat di keningnya.
"Btw, kenapa lo tiba tiba bawa gue kabur?" Pertanyaan Aldara membuat Antaro memalingkan wajah menatap gadis tersebut, ia menaikan kedua bahunya. Jujur saja, sebenarnya ia memang tidak tahu. Sebelumnya ia tak pernah peduli dengan urusan orang lain, apalagi perkelahian seperti tadi. Melihatnya saja ia tak minat.
Namun entah dari mana ia kini merasa peduli pada orang lain, melihat Aldara di jambak seperti tadi rasanya sungguh membuat ia kesal. Antaro tidak tahu apa yang ia rasakan dan ia perbuat saat ini, ia juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya.
"Tapi makasi yah udah bantuin, kalo nggak mungkin muka gue makin bonyok sama tu cabe," Ucap Aldara, gadis itu tengah bercermin di kaca hp nya. Tangannya menyentuh bekas cakaran di wajahnya itu sambil meringis sesekali.
Antaro tiba tiba bangkit dari duduknya, membuat Aldara memalingkan wajah menatap cowok itu. "Mau kemana?" Tanya nya, namun Antaro berjalan pergi begitu saja tanpa minat menjawab. Aldara memutar bola matanya malas.
"Dasar tembok es," katanya kemudian kembali melakukan aktivitasnya tadi.
Selang beberapa menit Antaro kembali, ia menyodorkan Hansaplas pada Aldara. "Apa?" Aldara yang kebingungan pun bertanya hingga membuat Antaro menghela nafas.
Antaro duduk, ia kemudian membuka bungkuh hansaplas bergambar kupu kupu tersebut dan menempelkannya pada luka Aldara.
Wajah keduanya begitu dekat. Mendadak Aldara menegang, bohong jika ia biasa saja sedangkan saat ini wajah Antaro begitu tampan jika di lihat dari dekat. Hingga kemudian tatapan keduanya bertemu.
Jika biasanya tatapan Antaro begitu tajam serta dingin, kini tatapannya begitu hangat dan nyaman untuk di pandang. Momen langka bagi Aldara untuk melihat Antaro yang tanpa ekspresi dingin.
Lebih tampan dan manis, Antaro yang juga tengah menatap pun mengakui kecantikan Aldara. Hidungnya yang mancung, bentuk wajah tirus dan kulit yang putih bersih. Tak lupa bibir kecil yang berwarna pink, Antaro menatap setiap bentuk di wajah Aldara.
Hingga kemudian tatapannya menatap bibir mungil itu, matanya tak berkedip. Perlahan Antaro mendekatkan wajahnya hingga membuat jarak keduanya sangat dekat. Entah gerangan dari mana tangan Antaro bergerak mengusap bibir bawah Aldara.
Aldara yang di perlakukan seperti itu hanya diam menegang, jujur jantungnya kini berdetak dua kali lipat dari biasanya. Perlahan Aldara menutup matanya, detik berikutnya ia merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirnya. Awalnya hanya menempel namun lama kelamaan lumatan kecil mulai terasa. Aldara yang sudah tak tahan pun mengalungkan tangannya ke pundak Antaro, membalas ciuman tersebut dengan perlahan.
Taman sangat sepi, adegan romantis keduanya di temani angin sore yang sejuk.
₩₩₩
"Aldara gila!! Lo gilaa bener bener gilaa arghh!!!!" Di kamarnya Aldara berteriak merutuki kebodohannya, bahkan ia sampai menggigit bantal hingga robek. Kejadian sore tadi benar benar membuatnya prustasi.
"Kenapa si kenapaaaaa? Whyyy??? Kenapa gue harus ngebales tu ciuman si anjir! Kesannya kan kaya gue tuh menikmati sensasinya gitu loh!" Lagi lagi gadis tersebut merecok tak jelas.
"T-tapi emang menikmati sih," katanya dengan nada pelan.
"Ya-ya salah tuh cowok! Kenapa nyium nya lembut banget, romantis banget. Jadikan gue nya kebawa suasana," Aldara mendengkus kesal, ia menendang nendang seprai kasurnya. Detik kemudian ia berhenti. Menatap atap kamar, kejadian tadi sore terpangpang di atas tersebut hingga membuat Aldara kembari merengek.
"ANTARO SIALAN!!!!!!"
₩₩₩
Di sisi lain Antaro tengah berkutat dengan buku pelajarannya, ia merobek kertas yang baru saja ia tulis kemudian membuangnya ke tong sampah yang sudah penuh serta berserakan oleh gumpalan kertas.
Untuk ke sekian kalinya ia mencoba fokus, matanya menatap lembar kertas kosong di hadapannya itu. Tiba tiba bayangan tadi sore terlintas hingga membuat Antaro menjambak rambutnya sendiri.
"Sial!" Antaro mengumpat, ia bangkit berjalan menuju kasur. Merebahkan diri dengan kejadian sore yang tak kunjung hilang dari pikirannya.
Merasa kesal ia pun menutup wajahnya dengan bantal, kemudian berteriak.
"Bego lo Antaro!!"
Segini dulu, lanjut besok.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reuni Mantan
Teen Fictionini tentang Aldara Naundria yang terjebak dalam lingkaran mantan, kepindahan nya ke sekolah baru menjadi awal dari sebuah kehancuran. dimana dirinya harus berhadapan dengan para mantan yang dulu pernah ia sakiti. parah nya, mantan Aldara menjadi sat...
