Faul duduk bersandar di kursi taman rumah sakit. Sambil membaca dzikir pagi ia mengedarkan pandangannya ke sekitar taman yang sangat sepi di pagi hari itu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, Kak Fildan."
Faul sedikit menggeser duduknya dan mempersilakan Fildan duduk di sampingnya.
"Dari tadi di sini? Kubro atau sugro?," tanya Fildan.
"Kubro Kak," Jawab Faul cepat.
"Bukunya mana?."
"Hafalan Kak."
Fildan tersenyum memandang adik angkatnya itu. Nyaris tidak pernah sekalipun mengecewakannya dalam berbagai hal. Bahkan persoalan kecil seperti dzikir Al Ma'tsurat (dzikir amalan Rasul SAW untuk pagi petang) sekalipun.
"Yaqin hafalannya benar?."
"Insyaa Allah kak. Pagi hari ane membaca menggunakan buku, sore ane muroja'ah (mengulang) tanpa buku."
"Barakallahu fiik."
Fildan menghela napas panjang menatap taman.
"Limadza ? (Kenapa?)." Tanya Faul.
"La ba' tsa (gak papa)," jawab Fildan.
Faul mengangguk pelan, "Kak Fildan sudah Ma'tsuratan?."
"Sudah, bareng isteri tadi."
Faul tersenyum tipis dan merundukkan kepala. Kepalanya kembali mendongak setelah sang Kakak menepuk pundaknya.
"Benar - benar sudah ikhlas?."
"Maksudnya kak?."
"Sudah ikhlas melepaskan Ifa?."
Faul kembali merunduk, "insyaa Allah kak. Ane dulu mengikhlaskan untuk siapapun yang lebih dahulu meminangnya. Sekarang ane mengikhlaskan pada seseorang yang sudah jelas adalah pendampingnya. Dan lebih ikhlas lagi karena orang itu adalah abang Faul sendiri."
"Maasyaa Allah tabarakallahu. Cinta antum itu benar - benar ikhlas Lillah. Bahkan mungkin cinta ana tak seikhlas itu."
"Itu gak mungkin kak."
"Jangan naif dek. Antum paham bagaimana cinta karena Allah itu begitu suci. Dan cinta antum seperti itu. Jika tidak, selama tiga tahun dia bersama antum, sudah pasti antum mengambil kesempatan," lirih Fildan.
Faul menunduk mengingat bagaimana perjuangannya bersama Ifa. Sungguh berat baginya sebagai pria normal menghadapi wanita dalam satu rumah. Bahkan tanpa sengaja ia pernah melihat bagian tubuh sang wanita untuk mengobatinya.
"Cinta atas dasar Lillah itu seperti menanam bunga. Bukan dipetik sebelum waktunya tetapi disiram, dipupuk agar tumbuh bersemi. Tak disentuh sebelum waktunya. Dan seperti itulah cinta antum. Cinta yang sangat besar."
"Tapi insyaa Allah ane ikhlas kak," tegas Faul.
Fildan mengangguk pelan dengan seulas senyuman di wajahnya.
"Ane tahu. Dan ane berterimakasih banyak atas hal itu. Mungkin jika ane di posisi antum berat bagi ane bisa bertahan. Maasyaa Allah. Ane bangga padamu dek."
Fildan menepuk pundak Faul, "Gimana kalau abang bantu khithbah seorang akhawat untuk antum?."
"Ma..maksudnya kak?."
"Ya akhwat, perempuan, hareem," terang Fildan.
"Bu..bukan itu, tapi akhawat mana?. Si-siapa?."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bismillah Cinta (END)
عاطفية"Karena puncak dari cinta bukan sekadar memiliki dalam pernikahan." "Ketika kamu bosan dengan kondisi ini, percayalah padaku, dan percayalah pada cinta."
