4

349 53 12
                                        

"Berjuang, berjuang sekuat tenaga.
Tetapi jangan lupa, perjuangan,
Harus pula disertai doa,
Jeng, jeng, jeng, jeng."

Suara cempreng Lesti mendominasi keriuhan nyanyian penghuni kosan pramuka. Ia bernyanyi ria bersama Rara dan Aulia setelah jenuh belajar mengaji sejak pagi hingga siang hari.

Absurd memang belajar mereka karena Lesti meminta diajari Aulia, alumni MTS Darul Ihsan. Yang notebene juga sulit diajak fokus jika muridnya adalah duo bobbrok Rara Lesti. Gadis mungil itu lebih merasa nyaman diajari sahabat sendiri, padahal alasan sebenarnya adalah daripada jauh - jauh mencari.

"Haus gua Ra," keluh Lesti. Rara memutar bola matanya, jika Lesti sudah berkata - kata seperti itu, mau tidak mau Rara harus membuatkan minuman. Karena Rara adalah yang paling muda di antara mereka, kata Lesti. Rara tidak mungkin menolak.

"Iya," ujar Rara dengan malas.

"Sekalian camilan Ra," seru Aulia.

"Iyaaaaah," Rara berjalan malas ke dapur kosan. Memang punya dua sahabat bobbrok seperti mereka butuh perjuangan keras dan kekuatan hati yang mumpuni. Kalau sudah begini, Rara jadi merindukan sahabatnya yang selalu menjadi tumbal suruhan kakak - kakak bobbroknya, Nia si polos.

Meski Meli yang paling muda, dia tidak bisa disuruh mengurus konsumsi. Yang ada Meli bisa meracuni kakak - kakaknya itu dengan menyuguhkan minuman eksperimen campuran marimas, nutrisari, top ice, pop ice, dan oki jelly drink dengan varian rasa yang berbeda - beda. Seperti tiga tahun lalu saat perkenalan pertama mereka.

"Ra. Lama bener," seru Aulia seolah seorang ratu yang dilayani pelayannya.

"Bentar, bentar ah." Rara datang dengan membawa minuman top ice yang tidak ada es-nya, maklum di kosan itu tidak ada kulkas seperti kos lama mereka.

"Lama, keburu sahara kerongkongan gue," ketus Aulia. Rara mencibir mendengarnya.

"Apa lo?," ketus Aulia.

"Eh, nggak Kak Aul," ujar Rara segan. Lebih tepatnya malas jika dirinya menjadi bulan - bulanan omelan Aulia lagi. Efek terlalu sering. Mungkin karena Aulia yang paling tua di antara mereka. Meski hanya berbeda satu tahun.

Lesti tidak bersuara. Ia terduduk sambil meminum top icenya dan memandang ke arah jalanan. Pikirannya tertuju kepada Fildan dan syarat dari sang abah.

"Les, ngelamun aja kamu. Kesambet malaikat baru tahu," ketus Aulia.

Lesti meliriknya sekilas lalu kembali pada lamunannya.

Aulia merangkul pundak Lesti dan mencoum pelipisnya, "kenapa dek?," tanyanya dengan lembut. Ini biasanya terjadi jika sedang ada maunya, atau memang sikap kekakak'annya sedang mode on.

Lesti menyandarkan kepalanya di pundak Aulia. Sedang Rara yang sekarang menjadi si bontot Geng Gong, ikut nimbrung dengan menyandarkan kepalanya juga di pundak Lesti.

"Kangen Kak Fildan," lirih Lesti.

Aulia memutar bola matanya malas. Sudah capek - capek bersikap manis, ternyata hanya untuk menanggapi sikap bucin Lesti yang sedang kumat.

"Lo kan lagi belajar Les. Sabarlah," ujar Aulia.

"Iya Les sabar, kek gue. Meskipun Kak Irwan dan Kak Gunawan gak pernah membalas lirikan dan senyuman nakal gue, gue tetap berjuang setiap hari buat mereka," sambung Rara tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Sa ae lo sambel tomat," ketus Aulia.

"Assalamu'alaikum," seru seseorang dari belakang mereka.

"Wa'alaikumussalam," Rara, Lesti dan Aulia secara otomatis menoleh bersamaan. Mereka semringah ketika melihat siapa yang memberi salam dengan suara lembut tadi.

Bismillah Cinta (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang