"Welcome back to our room," seru Lesti.
Fildan terkekeh pelan melihat tingkah laku gadis mungilnya. Menggemaskan dan membuat damai hati bersamaan. Dikecupnya punggung tangan Lesti lalu mendekapnya.
Ini adalah hari di mana Fildan kembali ke rumah setelah seminggu dirawat di rumah sakit. Dokter mengijinkannya pulang dengan syarat Fildan mau beristirahat di rumah minimal satu pekan lagi. Tentu Fildan keberatan karena itu artinya dia akan kehilangan banyak mata kuliah dan sekaligus agenda dakwahnya. Tetapi Lesti sudah memastikan kepada dokter bahwa Fildan akan beristirahat. Lesti yang akan mengawasinya, dan Fildan pun menurut pasrah.
"Sayang mau makan sesuatu?," tanya Lesti. Fildan menggeleng pelan sambil bermain dengan jemari Lesti.
"Ih Kak Fildan." Fildan merasa gemas sampai menggigit jemari Lesti. Lalu ia mengelapnya sendiri dan menggigitnya lagi. Benar - benar seperti balita yang baru belajar menggigit dengan gigi susunya.
"Gemes," ujar Fildan mendekap tangan Lesti.
"Kalau gemes, jangan jari ana yang digigit," Lesti mendekati wajah Fildan membuat degup jantungnya menjadi tak karuan. Fildan terus mencoba menahannya. Meskipun sulit karena semakin dekat, semakin aroma strawberry merebak di indera penciuman Fildan.
"Ini yang di..."
Buk buk buk buk buk buk
"Assalamu'alaikum. Bang Fildan," seru Putri sambil mengetuk pintu, atau lebih tepatnya menggebuk pintu kamar.
"Wa'alaikumussalam," jawab Fildan. Lesti duduk diam menahan kekesalannya.
"Jawab salam, wajib daripada memberi salam loh," tegur Fildan.
"Iya," lirih Lesti.
"wa'alaikumussalam. Masuk Put," serunya mencoba tersenyum.
Putri pun masuk dengan semringah. Setengah berlari dia memeluk Fildan yang duduk di kursi roda.
"Abang jelekku sayang. Alhamdulillah abang udah keluar dari kandang,"oceh Putri yang hanya diberi tatapan datar oleh Fildan. Berbeda dengan Lesti yang menjadi sengit.
"Abangmu bukan kucing, Put."
"Iya, iya."
Putri ingin mencium pipi Fildan tetapi tangan Lesti menahan bibirnya.
"Ih. Kak Lesti. Mput kan mau cium abang jelek," celetuk Putri dengan wajah cemberut.
"Cuci muka, sikat gigi. Abangnya Putri mesti disentuh sama orang steril," ketus Lesti sengit. Matanya memicing seram membuat nyali Putri menciut.
Putri mendengus pelan dan bergerak mundur, "ya udah. Putri balik."
Lesti bernapas lega, namun kembali mendumel ketika mata Putri tak sengaja melihat coklat miliknya di atas ranjang.
Putri tersenyum sambil mengerlingkan matanya kepada Fildan, "Minta ya, ya, ya, makasih, dadah."
Belum sempat dijawab, Putri sudah membawa kabur coklat Lesti.
"Aihh, Kak itu coklat Lesti," Lesti merengek menunjuk - nunjuk Putri yang sudah jauh menghilang dari balik pintu.
"Ikhlas. Belom rejeki dek," ucap Fildan yang dibarengi kekehan.
"Ish. Ya udah deh."
Lesti kembali ingin melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Namun lagi - lagi ia harus bersabar karena ketukan di pintu kamarnya.
"Abang, ini abah," seru Ust. Fathcholis.
"Pufhtt, Buka dek," bibir Fildan bergetar karena menahan tawanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bismillah Cinta (END)
Romance"Karena puncak dari cinta bukan sekadar memiliki dalam pernikahan." "Ketika kamu bosan dengan kondisi ini, percayalah padaku, dan percayalah pada cinta."
