"Aku masih berjuang. Dan berharap, kamu pun mau memperjuangkan aku."
Kesekian kalinya Lesti termenung. Pikirannya tertuju pada ujian terakhir yang akan mengantarkannya pada jawaban sang ustadz muda. Ya, memang jika lolos dalam ujian ini dari Syaikh Baharudin, Lesti masih harus berdiskusi mendalam dengan calon suaminya dalam proses ta'aruf. Untuk mengajukan syarat, dan menyampaikan keengganan. Setelahnya barulah Lesti akan dipertemukan dengan keluarga besar Fathcholis Hasyim.
"Tapi baru sampai sini ulun belom dapat ilmu ikhlasnya. Tolong Baim yaa Allah," rengek Lesti. Seperti itulah caranya, serius tapi juga ingin bercanda. Sekadar menghibur hatinya sendiri.
"Laper, kebanyakan mikir kurus ntar," gumam Lesti.
"Heh, Acil (bibi) Lesti."
"Pa'an sih Ra?."
Rara menyengir kuda. Diserobotnya camilan di tangan Lesti dan menghabiskannya tanpa dosa. Lesti menyipitkan matanya dan memakan sisa - sisa remahan camilannya itu. Nasib memang punya sahabat tinggi akhlak.
"Jadi gimana Les?, dah dapat ilmu ikhlasnya?," tanya Rara yang sekarang berpindah menghabiskan minuman pop ice Lesti yang tergeletak tak berdaya sendirian di atas meja.
Lesti menggaruk tengkuknya sambil berbicara malas, "hemmmmm. Gak."
"Ckckck, anak emak memang gak beotak," Ucap Rara.
"Ish, udah membantas makanan wan minuman ulun, dipadahi kada beotak pulang. Bujur - bujur pian ni heh (sudah ngabisin makanan dan minumanku, dibilang gak berotak lagi. Bener - bener kamu ini heh)," ketus Lesti dengan logat Banjar Samarindanya.
Rara mengejek menjulurkan lidahnya, "ikhlas Les. Jangan yang udah terlanjur disebut - sebut lagi. Lagian kalau emang bukan rejeki lo, ya gak bakal masuk perut lo kan?, nah ini rejeki gue, makanya auto masuk perut datar gue donks. Kan Allah yang milih mau kasi siapa."
Lesti berdecak kesal. Rara sahabat yang tidak tahu diri memang. Sudah merampok, malah memberi petuah. Seperti para pejabat korup di negeri antah berantah.
"Dua hari lagi ulun harus nemuin Syaikh Baharudin Ra. Tapi jawaban ikhlas itu lum dapat," keluh Lesti.
"Terima, kalau memang dia jodoh lo, rejeki lo. Dia bakal kembali sama Lo."
Lesti mengangguk pelan.
***
Waktu habis.
Lesti tidak memiliki jawaban apapun. Tetapi karena sudah berjanji bertemu, maka ia tetap harus datang.
Dengan perasaan tak karuan Lesti menghadap Syaikh Baharudin. Ia berhadapan langsung dengan Selfi sebagai pendampingnya.
Syaikh Baharudin adalah pria paruh baya yang berparas tampan, berkulit putih bersih, dengan perawakan tinggi besar. Penampilannya benar - benar mencerminkan seorang syaikh, meskipun dirinya asli Indonesia. Gelar itu diberikan kepadanya sebagai penghormatan karena derajat keilmuan yang dimilikinya.
Sekilas rasa takut menyelimuti hati Lesti. Ia benar - benar tidak tahu jawaban apa yang tepat untuk diberikan atas pertanyaan tentang kata "ikhlas."
"Apa yang anti temukan setelah mempelajari ilmu ikhlas?." Tanya Syaikh Baharudin.
Lesti menghela napas berat. Kepalanya merunduk takut dengan pembawaan Syaikh yang tegas dan tanpa senyuman sedikitpun.
"Ukhty."
"I... ikhlas."
Mata Lesti mulai berkaca - kaca.
"Apa Ukhty?."
Di belakang Lesti, Selfi ikut merasakan debaran jantung yang sangat kuat. Meskipun di depannya adalah ayahnya sendiri. Selfi pernah mengalami ujian ini. Tentu Selfi memahami beratnya untuk menjawab. Sedang dirinya sendiri pun tidak memiliki jawaban pasti saat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bismillah Cinta (END)
Romance"Karena puncak dari cinta bukan sekadar memiliki dalam pernikahan." "Ketika kamu bosan dengan kondisi ini, percayalah padaku, dan percayalah pada cinta."
