Kisah ini perjuangan untuk memiliki dan mempertahankan. Tentang seseorang yang dipuja dalam diam, diselipkan dalam doa, dan dikejar oleh ribuan langkah perempuan. Kisah tentang bumi yang merindukan langit. Tentang Pattrick yang mencintai Einstein, tentang tanah yang menanti angin. Ini kisah tentang Lesti dan Fildan.
Seorang gadis 17 tahun berjalan santai di koridor kampus barunya. Langkahnya melenggak-lenggok penuh percaya diri, seolah seluruh dunia harus tahu: “Gue cakep. Lo liat.” Wajah cantiknya dihiasi senyum semanis sirup markisa. Tak heran, beberapa cowok yang lewat sampai hampir menabrak tiang. Satu-satunya ‘cacat’ dalam pesona fisiknya mungkin cuma satu: tinggi badan. Yes, dia mungil. Banget. Tapi tetap saja, aura bintangnya sulit diredam.
“LESTI JENONG!” Teriakan dari belakang membuyarkan aura drama Korea-nya.
“Apaan sih lo?!” sergah Lesti, berbalik. “Gue udah seimut ini, masih aja lo hina di tempat umum!”
Rara, sahabatnya yang dari tadi ngikutin di belakang, hanya pasang wajah datar. No dosa. No beban. “Lo emang jenong, mungil, bantet pula,” sahut Rara kalem.
Tanpa aba-aba, Lesti langsung ngejar Rara. Mereka berlarian kecil, ketawa-tawa sambil saling lempar candaan. Tapi keseruan itu terhenti...
BRUKKK!
Lesti menabrak seseorang. Tubuh mungilnya mental jatuh ke lantai. “Aduuuuhhh!” jeritnya kesal.
Orang yang ditabraknya buru-buru menunduk, panik. Tegap. Kumis tipis. Dan suara yang keluar dari mulutnya... adem banget.
“Astaghfirullah. Maaf, Mbak. Kamu nggak apa-apa?”
Lesti mengerucutkan bibirnya. “Ih, bantuin dong angkatin.”
Tapi cowok itu malah mundur setengah langkah. Wajahnya tetap sopan tapi tegas. “Maaf, saya bukan mahram Mbak. Berdiri sendiri ya.”
Lesti mengangkat wajah. Baru mau nyolot, tapi langsung terpaku. Astaga. Yang ngomong itu... manis banget. Aura abang soleh-soleh-bikin-tobat. Senyum tipis. Mata teduh. Kumis rapi. Rambut klimis. Dan kulit eksotis khas cowok Indonesia. Lesti mendadak speechless.
“Tundukkan pandangan, Mbak. Saya takut syaithon ngajak jadi sahabat,” ucapnya lembut sambil tetap menunduk.
Lesti merasa... jantungnya diserbu kupu-kupu. Bahkan suara napas cowok itu aja bikin deg-degan. “Mbak nggak apa-apa kan?” tanya si cowok lagi.
“Gak papa... eh, aku Lesti.” Lesti buru-buru berdiri sendiri dan menyodorkan tangan.
Cowok itu cuma tersenyum dan menangkupkan tangan di dada. “Maaf Mbak, saya gak biasa salaman sama lawan jenis.”
“Yaa Allah... segitunya, Mas?” protes Lesti.
Tapi mulutnya langsung dibekap Rara dari belakang. “Maap ya, Kak. Sahabat saya emang gak punya filter.”
“Mmmprgghhh!”
“DIEM, LES!” bentak Rara. Lesti menggeliat protes. "Pa'an sih."
Cowok itu masih senyum tipis. Lesti hampir meleleh. “Jagain temennya ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam... AARRGH!” Rara teriak karena dicubit Lesti.
“Gila lo, Jenong!” Rara mengusap lengannya yang memerah.
“Lo yang gila! Gue hampir mati kehabisan napas!”
“Ya maap! Tapi lo mau ngomelin siapa coba? Itu barusan KAK FILDAN!”
“Siapa?”
Rara hampir pingsan. “Kak Fildan! Ketua PUSDIMA! Penasehat BEM bagian keagamaan! Idola semua akhwat di kampus! Most wanted syar’i-nya UNMUL!”
“Oh… wow…” Mata Lesti menerawang... “Tapi yang gue tahu, dia bakal jadi suami gue. Dunia akhirat. Selamanya, Bahkan lebih dari selamanya.”
❤🤵🤜🤛🧕💙
Samarinda, 13 April 2021
Lanjut ? 😂
Vote dulu donk... 😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Bismillah Cinta (END)
Storie d'amore"Karena puncak dari cinta bukan sekadar memiliki dalam pernikahan." "Ketika kamu bosan dengan kondisi ini, percayalah padaku, dan percayalah pada cinta."
