Lesti POV
Namaku Lestiani Mulia. Kalian bisa panggil aku Lesti. Aku pelajar kelas 12 jurusan Akuntansi di SMKN 4 Samarinda. Usiaku 17 tahun. Aku piatu. Ibuku meninggal waktu aku masih kecil. Ayah? Sibuk dengan istri barunya. Beliau hanya mengirim uang setiap bulan—itu pun pas-pasan untuk biaya hidup di Kalimantan Timur, salah satu provinsi dengan biaya hidup tinggi di Indonesia. Sejak lulus SD dan ditinggal ayah ke luar daerah, aku tinggal sendiri di tanah yang dijuluki Bumi Etam ini. Apa pun kulakukan demi bertahan hidup, asal halal. Dari kerja part-time, bantu jualan, jaga warung, semua pernah. Yang penting kos, sekolah, dan perut aman.
Mimpiku sederhana tapi besar: aku harus kuliah di Universitas Mulawarman. Aku nggak tahu darimana uang kuliahnya nanti, tapi yang jelas aku harus masuk dulu. Aku nggak mau masa mudaku sia-sia dan masa tuaku terlantar. Aku mau jadi seseorang. Aku mau buktiin ke ayah kalau aku bisa hidup meski tanpa dia.
Hidupku mulai berwarna waktu aku ketemu dia di kampus impianku. Pemuda yang hidupnya jauh di atasku—tapi sejak awal aku yakin: dia akan jadi kekasih terakhirku. Kekasih terakhir? Iya. Karena sebelumnya aku punya banyak “kekasih”. Mereka bukan cinta, cuma pelarian. Teman bertahan hidup, juga pembuktian bahwa semua cowok bisa aku taklukkan. Setelah bosan, tinggalin.
Tapi pemuda ini beda. Tatapannya nggak bisa kutebak, senyumnya nggak bisa kutafsir, sikapnya nggak bisa kuselami hanya dengan sekali pandang. Dia bikin aku penasaran. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memikirkan seorang cowok lebih dari satu jam setelah bertemu. Mungkin... aku jatuh cinta. Ya. Cinta pada pandangan pertama. Dan aku bertekad, dia milikku. Bukan akan, tapi sudah. Itu pilihanku. Dan akan jadi takdir kami. Apa pun yang terjadi.
Author POV
"Di manapun ada bayanganmu, kemanapun ada bayanganmu, di semua waktuku ada bayangmu, kekasihku..."
Mata Lesti menatap langit dari balkon kos lantai dua. Awan seolah membentuk wajah seseorang: kulit hitam manis, lesung pipit di pipi kanan, gigi putih, mata kecil, rambut klimis, tinggi pas untuk digandeng ke mana-mana. Pas banget untuk seorang Lestiani.
“Wagelaseh. Ulun love at first sight. WOAAAAAAH!” seru Lesti sekeras toa masjid. Penghuni kos lain langsung berdatangan. Mereka kira ada tragedi.
“Kunaon Teh Les? Siapa ganggu teteh? Sini Meli tampol!” Meli, sahabatnya si karateka, langsung pasang kuda-kuda.
“Iya Kak Les, pian diganggu siapa?” tanya Nia, si polos lugu tapi cantik natural.
Aulia si mungil berisi bermulut pedes, langsung nyaut, “Lesti, kalau ada masalah hidup mah cerita aja. Jangan kayak orang kerasukan, teriak-teriak gitu.”
Lesti melotot sambil mengeteki Meli dan menjewer telinga dua sahabat lainnya.
“Kalian bosan hidup?!”
“Aduh Teh Les ampun!” Meli meringis. Meski paling jago bela diri, wibawa Lesti sebagai ketua geng tetap tak tergantikan. Nia? Auto dilindungi semua. Aulia? Berani sih, tapi terlalu sayang sama mereka bertiga buat ngelawan.
“Udah Kak Les, telinga ulun gelap,” ucap Nia, polos seperti biasa.
Lesti lepasin cengkeramannya, lalu bersihkan tangan seolah habis bersihin panci kotor. “Kenapa sih Les?” tanya Aulia sambil ngelus telinganya.
“Ulun jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama,” ucap Lesti bangga, senyum gigi pepsodent keluar.
“Sulit bagiku untuk bisa... berhenti mengagumi dirinya...” nyanyi Meli sambil melambai-lambai ala video klip 2005-an.
“Siapa Les?” Aulia mendekat, berbisik. “Eh, jangan bisik-bisik! Kita bukan patung!” protes Meli.
“Husssh! Dengerin Kak Les dulu!” putus Nia, penasaran maksimal.
Lesti berkacak pinggang, senyum sebelah, alis naik. “Oke, tapi... aku haus. Minum dulu dong.”
Tiga sahabatnya langsung manyun. Tapi Nia langsung bergerak, “Udah deh, biar aku aja yang ambil.”
“Sama cemilan ya!” teriak Aulia. “SEEPP,” jawab Nia sambil lari ke dapur umum.
Beberapa menit kemudian, Nia balik bawa nampan berisi camilan, seteko Nutrisari jeruk, dan empat gelas plastik. “Mangga, Neng, Teteh,” ucapnya sok pelayan bubur.
“Hatur nuhun Bibi~” sahut tiga sahabatnya barengan. Nia cuma nyengir. Nggak sadar dia lagi dibully.
“Minum dulu bentar yaa,” ucap Lesti sambil ngunyah. Tiga pasang mata cuma bisa nahan diri biar gak lempar sandal. Lesti emang playgirl, tapi gak pernah bilang jatuh cinta ke siapa pun. Itu yang bikin mereka heboh.
“Namanya... Kak Fildan.”
Aulia langsung duduk tegak. “Fildan Fatcholis Hasyim? Ketua PUSDIMA Unmul?”
Lesti angguk cepat. “Pian kenal?”
“Siapa yang gak kenal? The most wanted sholehnya Unmul! Hafizh muda, anak Ustadz besar se-Kaltim, ketua PUSDIMA, pengisi kajian di Masjid Al-Fatihah. Pokoknya... eksklusif banget!”
Ketiganya mengangguk-angguk. Lesti? Mata berbinar, makin kagum.
“Aku juga dulu sempat suka,” ucap Aulia lirih.
“WHAAAT?!” teriak trio lainnya.
Aulia tarik napas, alis naik. “Sebelum jadian sama Cahu. Tapi ya suka-suka aja, sadar diri aku mah. Dia terlalu Masyaa Allah buat aku yang Astaghfirullah.”
“Emang kenapa?” tanya Meli sambil maju.
“Gimana ya... anak Ustadz kondang, hafizh, anti salaman, jaga pandangan, pokoknya kalau deket-deket bisa kesurupan sendiri,” ucap Aulia dramatis. Lesti langsung geplak kepala sahabatnya itu.
“Nistain aja terus,” protes Lesti.
“Kalau aku lupa ingatan gimana coba?” balas Aulia sambil elus kepala.
“Sabodo teuing. Ingat, semua makhluk itu sama di mata Allah,” ucap Lesti bijak dengan bahasa Sunda-Banjar-Indonesia campur aduk.
“Iya sih. Tapi pian itu... shalat sama ngaji cuma pas ujian praktik SD. Gimana mau nikah sama orang kayak Kak Fildan?” sahut Nia polos.
“EHHRGHHH!” geram Lesti. Nia langsung ditarik kabur oleh Meli dan Aulia.
“NIAAAA!”
Mereka kabur ke dalam. Nia bingung, “Emang salahnya Nia apa?”
“Cari mati Kak Nia mah!” celetuk Meli.
“Iya! Aku yang dianggap kakak aja digeplak, apalagi kamu!” sambung Aulia.
Nia masih bingung, “Emang salahnya Nia apa sih?”
Aulia dan Meli cuma tepuk jidat bareng. “Mati kita…”
Di balkon, Lesti kembali menatap langit, sisa camilan di tangan. Dalam hatinya, dia berbisik pelan, “Terserah orang mau bilang apa. Yang jelas, Kak Fildan milikku. Hanya milikku.”
“Kamu yang tidak pernah mencintai akan sulit memahami ini. Bahwa cinta itu tak memandang hitam-putih, langit-bumi, baik-buruk, suka-duka. Cinta itu buta. Hanya hatiku yang bisa melihatmu—yang ditakdirkan untuk dicintai dan mencintaiku.”
***
***
❤🤵🤜🤛🧕💙
Samarinda, 14 April 2021
Makasih votenya. Makasih antusiasnya. 🤭
Di sini ada paduan bahasa sedikit. Setting tempatnya adalah kaltim. Kami di sini gunakan banyak campuran bahasa. Tapi akan ada translate tipis2 kok. Paling banyak "aku - kamunya" yang diganti.
Saya (ulun)
Anda (pian)
Aku versi kasar (unda)
Kamu versi kasar (ikam),dll.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bismillah Cinta (END)
Romansa"Karena puncak dari cinta bukan sekadar memiliki dalam pernikahan." "Ketika kamu bosan dengan kondisi ini, percayalah padaku, dan percayalah pada cinta."
