"Hubungan yang dipersatukan atas nama Allah, akan dieratkan ikatannya. Sejauh apapun kaki melangkah, terpisah. Akan bersatu. Kokoh meski seribu ujian membuncah. Inilah hikmah mencintai dan dicintai, karena Allah."
***
Pernikahan sederhana yang diadakan untuk Faul dan Selfi pun terlaksana dengan hikmat. Acara diselenggarakan di rumah Syaikh Baharudin dengan disaksikan para murid penghapal Qur'an yang berada di sana. Sangat sederhana, dengan mas kawin yang jelas jauh dari kesan keluarga keturunan bugis, apalagi keturunan bangsawan bugis macam Selfi. Lima ratus juta rasanya masih terlalu kecil.
Mahar sang puteri Kyai besar itu hanyalah seperangkat alas shalat dan emas sepuluh gram. Itupun dengan susah payah Faul kumpulkan. Maklum, pekerjaannya yang dahulu sebagai dokter lepas, dengan bayarannya yang penting ikhlas, sungguh tidak memungkinkannya memberi mahar yang besar.
Namun kesederhanaan itu tidak mengurangi sisi sakral dan kebahagiaan kedua mempelai. Apalagi di hari bahagia ini, Faul memberi sebuah hadiah yang diidam - idamkan oleh para gadis shalihah sebagai mahar pernikahannya selain soal materi. Yaitu lafas Qur'an surah Ar - Rahmaan. Langsung dari bibir tipisnya tanpa melihat Mushaf.
Setelah pengucapan akad, pembacaan salah satu surah terindah Al Qur'an itupun dimulai. Dengan irama jiharkah, Faul mengaji tartil. Membuat semua presensi acara menangis lirih. Bahkan Fildan sang abang angkat pun terpaksa berlari keluar dari kumpulan tamu undangan dan disusul Lesti. Kejadian itu sempat membuat Faul menghentikan sejenak bacaannya.
"Kak, kok keluar?," tanya Lesti melihat sang suami terduduk dengan kepala merunduk. Jas yang dikenakannya pun tampak basah.
"Ini tissue," tawar Lesti. Fildan ingin mengambil tissue itu, tetapi Lesti langsung mengambilnya duluan, menghapus bekas - bekas tangisan di wajah sang suami.
Cup, Lesti mengecup bibir Fildan sekilas untuk membuatnya tersenyum.
"Astaga, aku gak lihat," seru Weni dan Putri di sudut tembok. Fildan memelototi mereka.
"Kaboooor kak," teriak Putri, dan keduanya pun menghilang.
Fildan menunduk malu, sementara Lesti terkekeh.
"Ada - ada aja mereka," Lesti menggeleng kepala, dan berhenti saat pandangannya kembali pada Fildan.
"Bisa - bisanya Kak Fildan malu," dumel Lesti dengan senyum tipis. Gemas melihat sang suami memerah sampai ke telinga.
"Masuk yuk sayang, Adik Kak Fildan itu sangat mengharapkan kehadiran kakak dalam setiap perjuangannya. Dan hari ini dia mendapatkan apa yang dia niatkan. Masa kakak pergi?," ajaknya menetralisir perasaan sang suami.
Fildan menimbang - nimbang, menatap mata sang isteri dalam - dalam. Terpejam saat usapan lembut sang isteri menyentuh pipinya.
"Ya udah, ayo kita masuk. Jangan sampai setoran hafalannya buyar," ucap Fildan dengan tersenyum haru. Matanya masih berkaca - kaca mengingat sang adik angkat.
"Hayuu."
Fildan menarik lengan sang isteri menuju ruang pernikahan. Terdengar jelas di sana Faul masih melantunkan bacaannya dengan syahdu. Namun pada bacaan ayat ke tiga puluh tujuh Faul mulai menangis kembali, setelah sebelumnya ia juga menangis saat membaca ayat tentang kematian. Faul sesenggukan ketika bacaannya memasuki dua kalimat.
"hāżihī jahannamullatī yukażżibu bihal-mujrimụn (Inilah neraka Jahanam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa.)"
"yaṭụfụna bainahā wa baina ḥamīmin ān (Mereka berkeliling di sana dan di antara air yang mendidih.)"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bismillah Cinta (END)
Roman d'amour"Karena puncak dari cinta bukan sekadar memiliki dalam pernikahan." "Ketika kamu bosan dengan kondisi ini, percayalah padaku, dan percayalah pada cinta."
