Part 18

15.7K 372 41
                                        

Bima menatap anaknya yang tengah menarik koper dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Nampak sudah siap untuk berangkat meninggalkan rumah.

"Sudah pamit sama Om Naufal?" Tanyanya pada sang putri yang dibalas gelengan ragu.

"Pamit dulu sana! Biar lancar perjalanan dan semua-muanya." Titah Bima tak terbantahkan. Pikirnya, biar seberat apa pun masalah mereka berdua, Naufal tetap seorang paman yang harus dimintai restu juga jika ingin pergi ke mana-mana.

Walau sedikit berat, Mayang melangkahkan kakinya kembali ke rumah dan menuju kamar Naufal, tempat sang Paman berada saat ini.

Ia mengetuk pintu dengan raut datar sambil mencoba menguatkan hatinya agar saat bertemu Naufal nanti ia tak  meraung pilu.

Pintu perlahan dibuka, kemudian nampak lah wajah Naufal yang kini menatap Mayang dengan sendu. Mata pria itu merah, terlihat jejak air mata di pipinya yang lebih tirus daripada dulu, rambutnya juga tak tertata rapi seperti yang seharusnya.

"M-mayang..." Panggilnya lirih dan bergetar.

Mayang masih diam, namun kemudian mengulurkan tangannya untuk menyalimi Naufal.

Dengan tergesa Naufal mengelap tangannya yang basah sebelum mengulurkannya untuk dicium oleh Mayang. Hatinya menghangat, Mayang masih sudi menyentuh tangan kotor penuh dosa miliknya.

"Saya pamit..." Ucap Mayang singkat dan datar.

Mendengar itu, mata Naufal kembali berkaca-kaca. Mayang sudah akan pergi, tak ada lagi kesempatan untuknya meminta pengampunan dan memohon agar gadis remaja itu tak meninggalkannya. Ia sadar diri, ia tak berhak menahan dan membiarkan Mayang tetap disini dengan luka menganga yang diciptakan oleh Naufal sendiri. Gadis itu butuh waktu dan tempat yang jauh untuk sembuh, Naufal tau itu.

Dengan kedua tangan meremas bagian bawah bajunya, Naufal berucap, "hati-hati, jaga diri baik-baik di sana, jangan dekati laki-laki brengsek seperti aku..."

Perih yang merajam di dada pun ia tahan, cukup menyiksa namun harus dilakukan. Ikhlas, itu yang harus Naufal lakukan sekarang, untuk Mayang.

Tanpa menjawab kata-kata sang paman, Mayang berbalik dan berjalan menuruni tangga, menuju mobil di mana sang ayah sudah menunggu untuk mengantarnya ke bandara.

Bima nampak sibuk dengan ponselnya ketika gadis itu berjalan menuju pintu penumpang samping kemudi. Tak lama kemudian, ayah satu anak itu memasukkan ponselnya ke saku celana karena menyadari putrinya sudah memasuki mobil. Ia lantas masuk dan duduk di belakang kemudi, menyalakan mesin dan menjalankan kendaraan roda empat itu meninggalkan halaman rumah mereka.

Dan juga Naufal yang diam-diam mengintip dari jendela ruang tamu, menangis pilu saat mobil milik Bima sudah tak terlihat di pandangannya.

Tangan Naufal terus memukul-mukul dada kirinya yang terasa sesak, air mata tak berhenti mengalir, nafasnya pun mulai tersengal-sengal. Perlahan ia berlalu, menuju kamarnya dengan tenaga yang tersisa, ia membutuhkan obat itu... Obat yang selalu ia sembunyikan di bawah bantalnya agar tak ada yang tau.

Setelah meminumnya dan menghabiskan segelas air mineral, nafasnya berangsur normal walau air mata masih terus mengalir. Tatapan matanya kosong menatap butiran-butiran pil di atas nakas. Obat penenang.

***

Seorang gadis dengan tatapan begitu datar memandang sekitarnya yang terasa sangat sejuk, berbeda jauh dengan lingkungannya dulu. Ia baru saja turun dari pesawat setelah perjalanan dari kota asalnya.

Di sini lah Mayang sekarang, kota yang terkenal dengan olahan dari ikan yang bernama Pempek. Ia tengah berada di salah satu kafe bertema outdoor di Palembang. Duduk sambil memasukkan Roti Koing yang sudah ia celup ke dalam teh panas. Hambar, seperti perasaannya saat ini. Terlalu lelah meratapi rasa sakitnya, kini semua terasa hampa, kosong.

Wajah yang biasa menampilkan berbagai macam ekspresi itu pun kini lebih sering menatap datar dan kosong. Ia seperti tak memiliki semangat hidup dan gairah untuk beraktivitas. Hingga tepukan di pundaknya membuat gadis itu menoleh pada seorang laki-laki yang kini tengah mengambil posisi duduk di depannya.

Tidak terlihat seperti remaja seumurannya, mungkin sekitar 2-3 tahun di atas Mayang. Kulitnya sawo matang, memiliki hidung lumayan mancung dan mata sipit dengan alis tebal menghias wajah manis itu, bibirnya pun sedikit berisi dan berwarna pink seperti tak pernah tersentuh nikotin, oh jangan lupakan lesung pipinya yang baru Mayang sadari ada karena baru saja pria itu tersenyum lebar padanya.

Pria dengan tubuh tinggi tegap itu mulai membuka suara, "Boleh dodok sini, dak?"

Mayang menyimpulkan kata 'dak' itu mungkin berarti 'gak', jadi ia mengangguk saja, memperbolehkannya untuk duduk di sana, lagipula itu tempat untuk umum, tak ada hak untuk Mayang melarang.

"Kau nih cantik nian, dek, boleh kenalan, dak?"  Tanya pria itu lagi dengan wajah tengilnya.

Mayang masih paham, tapi jika pria itu terus-menerus menggunakan bahasa Palembang, bisa jadi nanti ia tak akan memahami lagi.

"Terima kasih dan boleh, tapi maaf, saya gak bisa bahasa Palembang." Ucapnya sopan, masih tanpa senyum.

"Oh, bukan orang sini, ya? Perkenalkan, nama saya Kemas Pahlevi, panggil saja Kemas." Pria bernama Kemas itu mengulurkan taangannya yang terlihat sexy sekali di mata Mayang.

Mayang menyambut uluran tangan itu, "saya Mayang." Jawabnya singkat.

"Mayang aja? Masak sesingkat itu sih?" Tanya Kemas dengan tengil.

Mayang menggeleng, "saya rasa memberi tau nama lengkap pada orang tidak dikenal akan sangat rawan."

"Eh, eh, kan kita sudah kenal? Tapi kalo gak mau kasih tau ya gak apa-apa deh, biar nanti saya pendekatan dulu biar semakin kenal, ya. Pelan-pelan juga gak apa-apa kok." Pria itu memasang cengiran lebar di bibirnya, membuat lesung pipi itu semakin terlihat dan menambah kesan manis pada wajahnya.

Mendengar perkataan absurd laki-laki di depannya, Mayang mendengus jengah. Ia tidak dalam mode yang baik untuk bercanda, jadi ia memutuskan untuk mengemasi barang-barangnya di atas meja dan meraih kopernya untuk pergi dari sana.

Melihat itu, Kemas panik dan langsung berjalan mengikuti Mayang sambil terus berceloteh sok akrab.

"Saya baru sadar kamu bawa koper, mau ke mana?"

"Oh sepertinya kamu baru dari bandara, ya? Pasti sih..."

"Kalo belum ada tempat tinggal, saya punya rekomendasi beberapa kontrakan, punya saya sendiri, tersebar hampir di seluruh wilayah Palembang."

Mendengar itu membuat langkah kaki Mayang terhenti. Kebetulan sekali ia baru ingin mencari hotel untuk sementara waktu, sambil mencari tempat untuknya tinggal 6 bulan kedepan.

Mayang menoleh, "Kos-kosan yang dekat Perumahan Citra Grand City, ada?" Tanyanya sedikit tertarik.

"Saya bilang saya punyanya kontrakan, bukan kos-kosan. Seingat saya, di dekat situ ada, mungkin jaraknya hanya kurang lebih 200 meter dari gerbang perumahan."

Mayang nampak berpikir, "harganya kira-kira aman gak buat saya yang hanya anak sekolahan ini?"

Hei, walau ayahnya bisa dibilang sultan, tetap saja Mayang harus realistis. Ia suka yang murah dan nyaman, tipikal orang Indonesia sekali.

Mendengar itu, Kemas tertawa. "Santai saja, soal harga bisa didiskusikan. Gak jauh beda dari harga kos-kosan, kok, ya tapi biaya air dan listrik ditanggung sendiri."

Nampak Mayang mulai antusias mendengar itu, ia meraih tangan kanan Kemas tanpa sadar, "saya mau dong! Boleh diantar untuk lihat-lihat dulu gak?"

Dengan geli Kemas menatap tangan mungil Mayang yang mencoba melingkupi tangan kekar Kemas.

Pria itu mengangguk dan tersenyum lebar, "ayo ke mobil saya, langsung saya antar ke lokasi!"

***


Hei besok udah lebaran!
Mau ngucapin minal aidzin wal faidzin, teman-teman...
Makasih udah ngikutin cerita penuh dosa ku sampai sejauh ini :)

Thanks for reading, guys...
Vote-komen sak karepmu

(Selasa, 11 Mei 2021)

Uncle And Love [21+]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang