|Note: sebagian chapter di private, silahkan follow sebelum berselancar di cerita ini|
________
Alano Prasetya cowok tampan idaman seluruh siswi SMA Nusantara harus menanggung beban besar akibat kesalahan yang dia perbuat, karena melakukan pelecehan...
Kedua mata Helena menatap takjub sekitarnya. Buru buru ia turun dari atas motor. Dengan kedua tangan direntangkan, ia sangat menikmati angin sepoy-sepoy yang menerpa lembut wajahnya. Suasana di desa itu sangat sejuk dan damai, tidak ada suara bising kendaraan seperti di kota. Helena merasa nyaman berada di desa ini, disini ia mendapatkan ketenangan yang selama ini ia cari.
Tiba tiba Alan datang dan memeluk gadis itu dari belakang. "Kamu suka?" tanya nya sambil menatap wajah Helena dari samping.
"Suka banget, aku jadi nggak mau pulang" Helena menatap Alan sambil tersenyum kecil.
Alan ikut tersenyum lalu mengecup pipi gadis itu sekilas. "Terus kamu tega biarin aku tinggal sendiri di Jakarta?"
"Kan, jauh dimata dekat di hati, Alan" Helena terkekeh geli, kenapa dia jadi ikut ikutan gombal sih.
"Kalau aku nggak mau gimana?" tanya Alan jahil.
"Kenapa ngga mau?" heran Helena.
"Kalau jauh aku nggak bisa..." Alan menggantung ucapannya, membuat Helena sebal.
"Ihhh! Alan, jangan buat aku kepo dong" rengek nya sambil cemberut.
"Siapa Alan?" Alan menaikkan sebelah alisnya.
"Alano Prasetya" jawab Helena.
"Siapa dia?" tanya Alan semakin menyebalkan.
"Kesayangan Elen" jawab Helena tersenyum malu, ia langsung memalingkan wajahnya. Sial!
Alan terkekeh gemas. "Ini yang gak bisa aku dapatkan ketika jauh dari kamu, Len"
Helena terlihat bingung, tidak begitu paham apa yang dimaksud Alan.
"Melihat kamu bahagia secara langsung" sambung Alan sambil tersenyum kecil. "Senyum dan tawa kamu adalah tujuan hidup aku"
Helena terhenyak mendengarnya, ia memutar badannya menghadap Alan. Menatap netra hitam pekat itu dengan lekat. Alano Prasetya, cowok pemain wanita yang berhasil membuka pintu hatinya, cowok yang dengan mudahnya mengalahkan semua egonya, cowok yang membuatnya kalah dengan perasaan. Perasaan yang tidak seharusnya hadir dalam relung hatinya. Kalian tahu? mencintai itu sama saja dengan menabung kekecewaan untuk masa depan. Dan Helena tidak siap untuk itu. Tapi, percuma, semua sudah sia-sia, ia mengaku kalah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dia Helena, sangat mencintai Alan dengan sepenuh hatinya.
"Alano?"
"Iya sayang?"
"Aku sayang kamu"
"Terus?"
"Kok terus sih" kesal Helena sambil mencubit perut kotak kotak Alan.