PLAYING VICTIM

1.1K 90 50
                                        

Budayakan vote sesudah/sebelum
Membaca ✨
______

Helena berdiri di depan cermin, mengamati dirinya sendiri dengan tatapan puas. Gadis itu terlihat sangat cantik. Ia memakai dress hitam pendek setengah paha dengan hills berwarna senada. Di belakangnya Alan berdiri dengan kedua tangan di selipkan dalam saku celana, cowok itu sangat tampan dengan setelan jas hitam. Malam ini keduanya tampak serasi. Helena meramal malam ini akan ada kejutan besar di pesta ulang tahun Anabella Klarisa. Ia tertawa dalam hati, konyol sekali pemikirannya, pikirnya.

Alan tidak berhenti menatap Helena, tatapan kagum ia berikan pada gadis yang sangat cantik malam ini. "Kamu cantik malam ini" puji Alan.

Namun Helena hanya diam, ia keluar dari apartemen dan masuk ke dalam mobil meninggalkan Alan. Rasa kesal terhadap masalah di kantin tadi tidak bisa ia lupakan begitu saja, biar saja Alan mendapat ganjarannya. Meskipun Alan sudah menolak keras kehadiran Bella, tetap saja ia tidak terima.

Di dalam mobil Alan menghela nafas, ia memperhatikan Helena yang hanya diam melihat keluar jendela. Alan mengambil tangan Helena, membuat Helena menatapnya bingung.

Helena tertegun ketika Alan memasangkan cincin pernikahan mereka ke jari manisnya. Cowok itu lalu mengecup punggung tangannya sekilas. "Cincin nya di pakai ya, sayang. Aku minta maaf karena udah buat kamu marah. Maafin aku ya?" Melihat tatapan penuh permohonan dari mata Alan membuat hati Helena terenyuh.

"I-iya" jawab Helena gugup sambil menggaruk tengkuknya.

"Boleh cium?" tanya Alan tersenyum.

"Ishh apaan sih! Udah buruan, ntar kita telat datang ke acara cewek itu" kata Helena dengan nada tidak suka.

"Iya sayang iya" Alan menghidupkan mobil dan mulai menjalankannya keluar dari pekarangan apartemen. "Nanti kamu jangan jauh jauh dari aku ya" ujar Alan.

"Tergantung" jawab Helena singkat.

"Kok tergantung?" tanya Alan mengerutkan keningnya.

"Ya... tergantung kalau si Bellampir itu gak deketin kamu. Ogah deketan sama dia, entar badan aku gatal-gatal" jawab Helena ketus.

Alan terkekeh. "Ulat bulu dong"

"Hmm.. Lebih dari itu. Aku benci pokoknya" Tangan Helena mengepal di depan dada. Menunjukkan bahwa ia tengah kesal.

"Kamu nggak perlu khawatir" ujar Alan, pandangannya fokus ke jalan.

Helena menatapnya dengan alis terangkat. "Gimana aku nggak khawatir, suami aku digondol nenek lampir! Apalagi dia cantik, gak kayak aku. Jelek, cul--"

Alan menutup bibir mungil itu dengan satu tangannya, tidak ingin mendengar ucapan yang menurutnya tidak benar sama sekali. "Jangan ngomong gitu Elen! Dimata aku kamu itu udah paling cantik" Alan melepaskan tangannya dari bibir Helena. "Karena menurut aku cinta itu bukan untuk mencari yang sempurna. Tapi menerima pasangan kita dengan sempurna"

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai juga di Hotel Pangeran tempat diselenggarakannya birthday party Bella. Alan turun terlebih dahulu, membuka pintu mobil untuk Helena.

"Silahkan turun Tuan Putri" Alan membungkukkan badannya seperti pengawal kerajaan.

Helena menggigit bibir bawahnya, gemas melihat tingkah Alan. "Alan... malu ih dilihatin banyak orang"

Alan mengambil tangan Helena, kemudian meletakkannya di lengannya. "Biarin. Biar mereka tau kalau kamu milik aku" jawab Alan.

Lalu mereka masuk ke dalam ballroom yang sudah dihias sedemikian rupa. Acara ini bertema monokrom, semua tamu yang hadir memakai pakaian hitam ataupun putih tanpa terkecuali.

My Ugly Wife Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang