Bokuaka Fluff
-Selamat Membaca-
Cat dinding serba putih, lantai keramik licin serba putih, serta banyak jendela besar adalah kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan rumah sakit Haikyuu mantap jiwa.
Bangunan yang sekilas megah dan bersih serta rapih namun banyak kesedihan didalamnya.
Pasien, dokter, serta perawat adalah makhluk yang menghidupi suasana rumah sakit.
Disana, di kamar 109, terlihat dua sosok burung hantu bermesraan.
Yang satu udah mau dipanggil Tuhan, yang satunya hanya menunggu sampai yang dipanggil Meninggal.
"Ne, akaashi.. "
Orang yang dipanggil menoleh, cowo berambut raven itu menatap temannya yang lemah diranjang rumah sakit.
"Ya, bokuto-san?" Tanya Akaashi itu.
"Apa akan ada kehidupan lain? Dimana kita berdua akan bertemu lagi dengan keadaan sehat dan ceria?" Tanya Bokuto, pelaku yang memanggil Akaashi.
"Entahlah Bokuto-san. Mungkin saja."
Bokuto melihat kebawah, "aku ingin kita bertemu lagi dikehidupan selanjutnya sebagai sepasang sahabat sejati.."
Akaashi diam, tidak dapat berkata apapun.
"Akaashi?"
"Ah, ya?"
Bokuto meraih salah satu tangan Akaashi dan menggenggamnya, "Berjanjilah padaku, kau akan selalu mengunjungiku ke makamku, dan berjanjilah untuk tidak menangis dihadapan Nisan bertuliskan namaku.. "
Akaashi membuang muka, tidak sanggup berbuat apapun. Bahkan untuk bergerak saja susah.
"Yakusoku ne, akaashi?" Ia menjulurkan kelingkingnya,
Bukannya membalas, Akaashi malah menepis pelan tangan Bokuto.
"H-haha.. Bokuto-san ngomong apa sih?
Bokuto tidak menjawab, Ia hanya kembali menjulurkan kelingkingnya. Berusaha membuat Akaashi berjanji padanya.
"Ne, akaashi ayo berjanjilah. Kau jangan lupakan aku-"
"Tidak! Bokuto-san ngomong apa sih? Jangan seperti itu, Aku yakin bokuto-san bisa sembuh! Berjuanglah! Tolong, demi aku.." Habis sudah kesabaran Akaashi.
Emosinya meluap, kenapa Bokuto tidak bisa bertahan sedikit lagi saja?
Bokuto menatap Iba Akaashi yang matanya berair, "gomenne, Akaashi. Aku terlalu memaksa ya?"
Akaashi menggeleng, "tidak, maaf aku terlalu emosi.."
Bokuto mengangguk.
"Akaashi?" Yang dipanggil mendongak.
"Apa aku boleh tidur sekarang?"
"Aku sangat ngantuk dan lelah.."
"Apa setelah tidur yang kali ini rasa sakitku akan hilang?"
Akaashi menggigit bibir bawahnya, Menahan untuk tidak menjerit.
Ia menatap nanar kearah Bokuto, sebelum akhirnya mengangguk.
Ia sempat mengambil tangan Bokuto dan menempelkan kelingkingnya, tanda bahwa Ia berjanji.
"Selamat tidur, Bokuto-san." Ujar Akaashi dengan bibir bergetar.
"Selamat malam dan selamat tidur, Akaashi." Bokuto Menutup matanya, lalu tersenyum.
Dan itu adalah Kali terakhir Akaashi dapat melihat senyum tulus itu.
Tapi boong
Selamat anda kena prank😀
---
Akaashi terlonjak kaget dari kasurnya dengan nafas terengah, Ia melihat kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 3 dini hari.
Setelah menenangkan diri, Akaashi berusaha untuk tidur lagi dan ternyata bisa.
Tapi sebagai gantinya Ia harus telat kesekolah dan kewalahan saat latihan voli sedang berlangsung.
"Akaashi, ini." Bokuto menyodorkan air isotonik kepadanya.
"Terimakasih."
Bokuto tersenyum.
"Kau terlihat lelah, akaashi. Apa terjadi sesuatu yang buruk?" Akaashi buru-buru menggeleng.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya sempat terbangun dini hari tadi."
"Sou... Jaga kesehatan ya Akaashi, jangan terlalu lelah. Nanti jika kau sakit bagaimana? Jangan sakit ya akaashi, aku nanti bisa khawatir!" Ujar Bokuto dengan polosnya.
Akaashi hanya mengangguk, "iya, bokuto-san juga jaga kesehatan ya."
"Hehehe tenang aja, aku kuat kok! Bokuto-san gituloh!" Serunya.
Lagi, Akaashi rasanya ingin menangis mengingat di mimpinya Bokuto tidak sebugar dan seceria itu.
'Semoga kau baik-baik saja, Bokuto-san.'
Fin.
.
.
.
IN ANOTHER LIFEE~

KAMU SEDANG MEMBACA
Haikyuu! Recehin Aja
Random"Bacot..!" "Dasar BoTol..!! " Cerita RANDOM berisi kebodohan, absurd, dan kerecehan anak-anak Haikyuu! Baca ae dulu, sapa tau ketagihan. WARNING : - Homophobic minggat - Ada BL nya dikit - Badword, toxic, bhs ksr no sensor Jadi disini author cuma b...