[Completed story by Ciionuzy]
Apa rasanya menikahi seorang pria dewasa yang berfisik tampan namun mempunyai sifat dan sikap yang berbeda dari kebanyakan pria normal lainnya.
Ya itu yang dirasakan oleh Bae Irene, ketika tanpa dia duga takdir memper...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cahaya flash kamera para media serta segala pertanyaan mulai muncul dari orang-orang yang saat ini berkerumun didepan lobby gedung perusahaan film, yang dimana Bae Irene Sang Executive producer itu baru saja tiba.
Wanita berparas cantik itu bahkan harus sampai dikawal pihak keamanan yang ada disana hingga ia dapat berhasil masuk melewati lobby dengan selamat.
Pertanyaan-pertanyaan seputar kemunduran sang Sutradara dari film anyar yang akan diproduksi mereka menjadi topik yang kali ini irene dengar, bahkan ada beberapa kata yang membuat irene sedikit jengkel sekaligus kesal, seperti 'Sang sutradara mundur karena naskah yang buruk' 'Sutradara memilih mundur karena ada konflik dengan nya' dan masih banyak hal lagi yang mampu mengganggu pendengaran irene. tapi wanita itu hanya bisa diam tanpa ingin menjawab satupun segala bentuk pertanyaan itu.
Sesaat Irene sudah masuk kedalam Lift, wanita itu terus-menerus membuang nafasnya dengan kasar dan berusaha untuk menahan makiannya.
Lihat, Bae Irene tidak akan pernah bisa terjauh dari Perhatian media dan orang-orang yang selalu memantau dan kehidupan dirinya, baik itu diperusahaan atau kesehariannya. Itulah alasan mengapa Irene selalu begitu tertutup dengan kehidupan pribadinya dan tidak akan pernah membiarkan media tau sekecil apapun.
"Damn!"
Shon Wendy yang sedang melakukan pekerjaannya dibuat terkejut dengan kehadiran Bos nya, yang tiba-tiba saja masuk dengan langsung membanting Jas yang ia bawa ke sofa.
"Wait.. Wait.. Ada apa dengan wajahmu?". Tanya wendy dengan sedikit panik sekaligus penasaran.
Wanita itu bahkan langsung menghampiri sosok sahabat nya yang kini sudah duduk disofa sambil memejamkan matanya erat-erat.
Nafas irene terasa berat, kepalanya pening dengan moodnya yang sudah hancur dipagi hari ini karena para media yang baru saja menyerangnya.
"Aku tidak mau tau! Temukan sutradara pengganti dalam waktu yang cepat! Aku tidak ingin ada rumor palsu yang terus bertebaran mengenai projek baru ini!". Tegas irene dengan suaranya yang menyeramkan.
Jelas Wendy Terkejut, di pagi hari yang biasanya tenang itu. Sosok Bae irene sudah mengeluarkan sisi pemimpin nya yang tegas dan dingin.
"Media menyerangmu lagi?". Tanya wendy dengan sedikit hati-hati, karena jujur saja ia sedikit takut melihat sorot mata itu yang sempat menajam ketika berbicara tegas tadi.
"Apa pihak keamanan disini bodoh?! Kenapa mereka tidak mencegah lebih awal kedatangan awak media?!"
"Rene.. Tenang.. Tenang. Jangan terbawa emosi dulu". Wendy berusaha menenangkan sahabat nya yang sepertinya memang sudah tersulut emosi.
Wanita yang sedang memegang pelipisnya itu mulai berdiri dan melangkah ke arah meja kerjanya.
Irene mengambil beberapa berkas dari dalam laci dan melemparkannya diatas meja.