"Kau tidak akan pergi ke mana-mana tanpa Lucas dan Dave!"
"Ayolah, Dad! Aku sudah 21 tahun!"
Pagi ini, ruang makan keluarga Softucker kembali tidak tenang seperti hari-hari yang lalu. Putri bungsu keluarga terkaya di Rotterfort ini kembali berbuat ulah. Kali ini merengek ingin pergi ke kampus dengan mobil barunya.
"Untuk apa Dad membelikanku mobil, kalau aku tidak bisa mengendarainya?"
"Lucas yang akan menyetir, kau bisa duduk di kursi belakang sambil menyalin tugas dari temanmu."
Radella memutar matanya malas mendengar jawaban dari Dad yang tidak pernah mengizinkannya melakukan apapun. Seolah, Radella akan mati mendadak, jika hilang dari pengawasan Lucas dan Dave. Semenjak tinggal bersama Dad, pria itu benar-benar memastikan bahwa Ella tidak akan pergi tanpa penjagaan. Bahkan Dad bersikeras bahwa Ella harus sekolah di rumah.
Hidup penuh kekangan akhirnya membuat Ella berontak di tahun terakhir SMA-nya. Dia bertaruh dengan Dad, jika dirinya berhasil mendapatkan nilai sempurna di ujian sekolah rumahannya, maka Ella yang akan menentukan di mana dia akan kuliah. Saat itu, Tuhan berpihak padanya, tapi tetap saja Dad menugaskan Lucas dan Dave untuk selalu menguntitnya.
"Apa Dad tahu bagaimana teman-teman sekelasku melihat diriku yang kemana-mana harus ditemani oleh dua orang aneh itu?"
"Tidak usah kau pedulikan, mereka hanya iri padamu."
"Mereka tidak iri. Mereka menganggapku aneh!" kesal Radella, kemudian menyambar tasnya dan keluar tanpa menyentuh sarapannya.
Di halaman rumah, Lucas sudah siap di balik kemudi, dan Dave segera membukakan pintu mobil sedan warna merah itu, kemudian berputar dan duduk di sebelah Lucas. Tanpa disuruh, Lucas langsung menginjak pedal gas menuju kampus Radella. Tak berapa lama, mereka sudah sampai dan Grace—sahabat Ella—melambaikan tangan dari dalam mobilnya.
"Mobilmu baru?" tanya Grace. "Tapi masih ada dua pria itu?"
"Ya, memang begitu Dad. Dia seperti ayah tiri yang menyekapku di menara. Padahal aku bukan Rapunzel."
"Dia memang ayah tirimu."
"Ya, aku tidak lupa itu."
Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan menuju kelas. Oh, jangan lupakan Lucas dan Dave yang masih setia mengekor. Dua pria itu baru akan berhenti membuntuti Ella saat gadis itu sudah berada di dalam kelas atau di toilet.
"Hari ini kau ikut ke pesta Oscar?"
"Kapan?"
"Nanti sore," sahut Grace sambil menjatuhkan bokongnya di kursi paling belakang, diikuti oleh Ella yang duduk di sebelahnya.
"Kau tidak lihat dua pria itu di sana?"
Grace menghela napas, seraya keningnya mengerut seolah sedang berpikir keras.
"Tidak-tidak, kau pasti tidak akan berani melakukannya," monolog Grace.
"Apa?"
Radella paling tidak suka jika diremehkan seperti ini. Mendengar kalimat Grace, membuat jiwa bertaruhnya tertantang untuk melakukan apapun yang akan keluar dari mulut Grace.
"Begini ..." Grace mendekatkan bibirnya ke telinga Ella, dan membisikkan rencananya.
***
"Lucas, aku perlu mampir ke toko roti di simpang jalan yang ada di depan itu."
"Tapi—"
"Ayolah, Luc. Grace bilang ada roti keju enak di sana. Aku ingin mencobanya."
Lucas tidak punya pilihan lain selain memutar setirnya dan menepikan mobil di dekat toko roti yang dimaksud Ella.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pengawal Nona Muda
RomanceBenedict baru saja memulai hidup barunya setelah keluar dari penjara. Mencoba hidup seperti orang-orang pada umumnya, tapi takdir membawanya bertemu dengan seorang gadis dari keluarga kaya yang memaksanya untuk menjadi bodyguard. ...
