"Tentang alasanmu dan ayahmu menerima pernikahan ini."
"Kau bodoh atau memang benar-benar tidak tahu?" cibir Ella. "Seperti yang pernah kau katakan, jika keluarga kita bersatu, maka tidak akan terkalahkan. Lagipula, ide menikah denganmu tidaklah terlalu buruk bila dibandingkan aku harus tidur jalanan."
"Maksudmu, James akan mengusirmu jika kau menolak pernikahan ini? Kau terlalu berlebihan, El."
"Kau sendiri? Apa alasanmu menerima pernikahan ini?" tanya Ella balik. "Jangan bilang karena cinta. Aku tidak percaya itu."
"Bagaimana jika itu memang benar adanya?"
"Ayolah, Prince! Hentikan sandiwaramu. Kita masih sangat muda untuk pernikahan ini, tapi memang kepentingan bisnis lebih utama, 'kan? Apa Loshen sedang di ambang kebangkrutan, sehingga membutuhkan bantuan Softucker?"
Prince tertawa mendengar pertanyaan Ella, dan tawanya itu sungguh menyebalkan. Membuat Ella menandaskan air mineralnya, lalu membuang muka ke mana saja, asal tidak melihat wajah sombong Prince.
"Sebaliknya, El," kekeh Prince. "Loshen sedang mendunia. Kami menguasai pelabuhan Rotterfort. Kau tahu 'kan, kalau pelabuhan adalah pintu utama perekonomian di sini? Ah, atau kau memang tidak tahu."
"Jangan banyak omong. Aku hanya bertanya tentang motifmu menikahiku."
Prince masih tertawa penuh kemenangan. Pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya pada Ella, mendekatkan wajah mereka.
"Apa kau selalu seperti ini? Berpikir bahwa orang yang mendekatimu pasti memiliki alasan di belakangnya?"
"Hanya berjaga-jaga saja."
"Kau sendiri belum mengatakan alasanmu, 'kan?"
"Sudah kubilang, tinggal di mansionmu lebih baik daripada tinggal di jalanan. Aku berkata jujur, Prince. Itu alasanku. Jika yang kau maksudmu alasan James memaksaku ..." Ella menghela napas sejenak dan mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu," lanjutnya berbohong.
Bagaimana mungkin ia tidak tahu? Baru kemarin James berapi-api menguliti masa lalu ayah kandungnya dan memberi pelajaran selama dua jam tentang keadaan ekonomi Softucker yang berada di ujung tanduk. Namun, Ella tidak akan mengatakan itu semua pada Prince. Jika ia berkata jujur, maka itu hanya akan merugikan dirinya dan Nana. Prince dan keluarganya mungkin akan merasa dimanfaatkan dan akhirnya membatalkan pernikahan ini. Jika itu sampai terjadi, maka Ella—mungkin—tidak akan pernah bertemu dengan Nana lagi. Baiklah, jika Prince masih keras kepala tidak ingin mengatakan alasannya menerima pernikahan ini, maka lebih baik Ella menurut saja.
Sepanjang sisa makan siang itu, Ella tidak lagi mengungkit tentang motif pernikahan mereka. Gadis itu sibuk mencari topik pembicaraan lain, seperti bagaimana mereka akan bersikap setelah menikah. Maksudnya, memang benar mereka telah menikah, tapi mereka masih muda, masih kuliah, dan Ella tidak ingin masa mudanya hilang begitu saja hanya karena statusnya sebagai istri Prince Loshen. Setidaknya, Ella masih ingin menjalani kehidupan kampusnya seperti biasa, bisa pergi bersama Grace, berpesta, belanja, dan berlibur tanpa harus ada pengawalan dari Prince.
Max saja sudah begitu merepotkan!
Ella pikir, ia akan mendapatkan penolakan atas permintaannya itu. Namun, Prince dengan mudahnya menyetujuinya. Bahkan pria itu mengajukan syarat yang sama dan terkesan lebih tidak peduli dengan pernikahan mereka. Prince yang sedang menyendok risotto di depan Ella ini, seperti bukan Prince yang pernah Ella kenal. Tidak seperti Prince yang menempel padanya seperti lintah dan bernafsu padanya. Sudahlah, Ella tidak mau memusingkan hal itu.
Ella memutuskan mengakhiri acara kencannya hari ini dengan makan siang. Selepas dari restoran, Ella meminta Max untuk mengantarnya kembali ke pondok. Tidak ada protes dari Prince, bahkan pria itu tersenyum sambil meminta Max untuk mengantarkan Ella dengan selamat sampai ke pondok.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pengawal Nona Muda
RomanceBenedict baru saja memulai hidup barunya setelah keluar dari penjara. Mencoba hidup seperti orang-orang pada umumnya, tapi takdir membawanya bertemu dengan seorang gadis dari keluarga kaya yang memaksanya untuk menjadi bodyguard. ...
