Unknown Desire

156 11 3
                                        

Vernon tertawa lirih saat membaca tajuk berita yang terpampang di koran Rotter Daily. Kabar bahwa dua keluarga besar akan bersatu, menjadi berita panas hari ini. Setelah semalam acara pertunangan antara Radella Softucker dan Prince Loshen menjadi gambaran awal bagaimana bisnis keluarga mereka akan berjalan ke depannya nanti. Dalam semalam, harga saham Loshen Corp. langsung melejit, begitu pula dengan milik keluarga Softuckker, dan hampir seluruh orang di Rotterfort tidak berhenti membicarakan tentang hal itu. Vernon tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Ben tentang berita ini. Pria itu pasti sangat kecewa, karena rencananya terganggu.

Namun, sepertinya Vernon salah. Ben terlihat biasa saja saat melangkah masuk ke kedainya dan langsung menyambar satu gelas whiski yang baru dituangnya. Tidak nampak raut bingung, kecewa, atau apa pun di wajah pria itu. Bahkan saat matanya membaca tajuk koran, Ben hanya mendengus kecil, lalu kembali menandaskan whiskinya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Vernon. "Maksudku, setelah melihat berita ini, jalanmu untuk membalas dendam akan semakin sulit, Ben. Saat James tahu siapa dirimu yang sebenarnya, detik itu pula kau akan langsung dijebloskan kembali ke Blackford."

"Aku hanya sedikit salah langkah di sini. Ternyata Tuan Putri Softucker tidak bisa didekati dengan cara kasar. Aku akan mencoba dengan cara sebaliknya."

Vernon menggeleng tidak percaya mendengar kalimat Ben. "Aku harus mengoreksi ucapanku tadi. Bukan hanya James, tapi juga keluarga Loshen akan membuat perhitungan denganmu, jika kau berani menggagalkan pernikahan anak-anak mereka. Dua keluarga itu tidak akan rela, jika kesempatan untuk melanggengkan kekayaan mereka terusik oleh dirimu."

"Kau ingin aku bagaimana?"

"Berhentilah. Lupakan dendammu. Carilah pekerjaan lain untuk kehidupanmu di masa depan. Hidupmu masih panjang, Ben. Jangan kau sia-siakan dengan dendam yang bisa mengembalikanmu ke penjara," ujar Vernon. "Ini," lanjutnya, seraya menyodorkan selembar kertas pada Ben.

"Apa ini?"

"Seorang wanita memintaku untuk memberikannya padamu. Dia tertarik padamu, Ben."

"Tapi aku tidak," tolak Ben sambil mengembalikan lembar kertas itu, tapi Vernon menampiknya.

"Coba saja dulu."

"Aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal ini, Ver."

Vernon tidak memedulikan penolakan Ben, dia malah mengangguk ke arah pintu masuk, sebagai isyarat bahwa sosok yang sedang mereka bicarakan, baru saja datang. Ben menoleh dan mendapati seorang wanita berambut pirang yang juga balas memandanginya sambil memberikan senyum ramah.

"Namanya Clarissa," bisik Vernon. "Kau tidak ingat dia?"

Ben menggeleng.

"Dia teman masa kecilmu. Dulu, dia selalu mengikutimu dan Peter saat bermain."

Clarissa berjalan menghampiri Ben, lalu memutuskan untuk duduk di kursi kosong di sebelahnya. Tatapnya sedari tadi tidak lepas dari Ben, bahkan tiba-tiba saja wanita itu mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.

"Namaku Clarissa Dermount," ujarnya. "Sepertinya, kau sudah mendapatkan pesanku."

"Oh, maksudmu ini?" tanya Ben sambil mengangkat kertas di tangannya. "Ya, tapi aku tidak berminat."

"Oh, ayolah. Jangan seperti orang asing, Ben. Kita belum berkencan dan kau sudah menolakku?"

"Aku tidak ingin buang-buang waktuku."

Clarissa turun dari kursinya untuk mendekati Ben. Tangannya bergerak mengelus wajah Ben, lalu turun ke pundak pria itu, dengan senyum dan tatapan menggoda yang terus-terusan ditampilkannya. Berharap—meski hanya sedikit—Ben akan berubah pikiran tentangnya.

Pengawal Nona MudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang