An Old Friend

146 20 0
                                        

Sudah seminggu sejak kejadian di pondok dan James Softucker masih bersikap sama, seolah tidak terjadi apa-apa. Hanya satu yang berbeda, Ben tidak lagi ditugaskan menjadi pengawal Ella. Ben tidak akan protes dengan keputusan James yang menugaskan dirinya untuk menjadi satpam di rumah. Ini jauh lebih baik, Ben bisa mengawasi jadwal kegiatan seluruh orang rumah dengan baik.

James setiap pagi—kecuali akhir pekan—di jam yang sama akan berangkat ke kantor bersama supirnya. Saat jam makan siang, James lebih senang menghabiskan waktu di kedai kopi dekat kantor agar tidak terlalu membuang banyak waktu di luar. Setelah itu dia akan kembali tenggelam dalam pekerjaannya dan baru pulang menjelang jam makan malam. Di akhir pekan, James lebih senang menghabiskan waktunya dengan membaca buku di halaman belakang atau memutar piringan hitam musik klasik di ruang kerja. Sedangkan untuk Ella, akan berangkat ke kampus setelah sarapan. Seharian dia akan menghabiskan waktu bersama Grace di kampus atau ke kafe dan mal. Tentu saja dia baru kembali ke rumah saat menjelang makan malam juga. Jika lebih dari itu, maka James akan mencabut seluruh fasilitas mewah yang dinikmatinya.

Keuntungan lain dengan menjadi satpam di kediaman Softucker adalah Ben jadi memiliki banyak waktu luang menyusun rencana balas dendamnya. Bahkan jika beruntung, dia bertukar jam kerja dengan personel lain—seperti saat ini—dan pergi mengunjungi seorang teman di Blackford.

"Kupikir kau tidak akan pernah kembali."

Ben tersenyum mendengar cibiran Arian, teman satu selnya. Seorang pria tua—mungkin seumuran dengan Vernon—dengan rambut beruban dan keriput di sekitar mata dan bibirnya saat dia tersenyum. "Aku akan berusaha untuk lebih sering mengunjungimu saat urusanku sudah selesai."

"Tidak usah, Ben. Aku akan baik-baik saja, kau sudah memastikannya dengan perlindungan dari Gerard."

"Ya, aku membantunya mengirim uang untuk biaya hidup adik dan ibunya, sebagai jaminan keselamatanmu di dalam sini."

"Dan kurasa kau kemari bukan hanya ingin melihat jenggotku sudah kucukur atau belum, 'kan?"

Ben tersenyum seraya mengangguk mendengar kalimat Arian. "Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan seorang pemuda. Wajahnya sangat tidak asing, aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat."

"Ok, aku mendengarkanmu," ujar Arian mulai tertarik.

"Dan sepertinya aku melihat wajahnya di dalam buku jurnalmu."

"Jurnalku?"

"Ya," jawab Ben yakin. "Aku ingat kau pernah menunjukkan padaku foto seorang laki-laki, wajahnya tampan dengan mata biru dan kulit wajahnya yang pucat."

Arian terkekeh mendengar kalimat Ben. Arian tidak habis pikir, mengapa Ben bisa berpikir dirinya menyimpan foto seorang pemuda di jurnalnya? Memangnya dia adalah seorang gay atau pedofil? Namun, detik berikutnya, kekehan Arian menghilang dari wajah rentanya dan menatap serius pada Ben. Dan entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja seluruh kenangan yang ingin dilupakannya, seketika menyeruak masuk ke dalam alam pikirannya secara bersamaan.

"Kenapa, Arian?" tanya Ben yang kebingungan melihat perubahan ekspresi Arian secara mendadak.

"Kau salah."

"Salah? Tidak mungkin, aku masih ingat dengan jelas. Walaupun saat itu aku sudah sangat mengantuk, karena kelelahan setelah seharian membersihkan gudang Blackford. Siapa pemuda itu, Arian? Tolong beritahu aku."

Arian menggeleng pelan.

"Kumohon, Arian! Kau bilang ingin membantuku untuk menemukan kebenaran bagi ayahku dan diriku."

"Ya, itu urusanmu dengan keluarga Softucker. Tidak ada urusannya dengan foto pemuda di jurnalku."

"Tapi aku tidak mungkin salah. Pemuda yang kulihat mengaku bahwa dirinya adalah calon suami Ella, putri James, sangat mirip pemuda yang ada di foto jurnalmu, Arian."

Pengawal Nona MudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang